Anomali Turunnya Harga BBM

Hot News

Hotline

Anomali Turunnya Harga BBM


Dapurpena.com - Kabar dunia perminyakan menuturkan bahwa Senin (7/1/2019) harga minyak mentah dunia menyentuh level tertingginya dalam 3 minggu. Hingga pukul 14:30 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak Maret 2019 masih menguat sebesar 1,77% ke posisi US$ 58,07/barel. Sedangkan jenis lightsweet (WTI) juga naik sebesar 1,94% ke level US$ 48,84/barel. Tren kenaikan harga minyak yang dimulai dari akhir tahun 2018, kuat diduga akibat ketegangan Amerika Serikat (AS)-China yang mulai terlihat menemui titik tengah (cnbcindonesia.com, 07/01/2019). 

Tak sejalan dengan mulai naiknya harga minyak dunia, harga BBM nonsubsidi di negeri ini justru mengalami penurunan. Penurunan harga BBM nonsubsidi awal tahun ini dianggap telat di tengah harga minyak dunia yang mulai merangkak naik. 

PT. Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM nonsubsidi yakni Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo, serta Dex dan Dexlite. Penurunan harganya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 250 per liter (m.kumparan.com, 05/01/2019).

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, seharusnya harga BBM nonsubsidi tersebut turun saat November atau Desember tahun lalu. Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai Pertamina lamban menyikapi harga minyak dunia. Menurutnya, lanjut Fadli, Pertamina bisa menurunkan harga Pertamax Cs sejak dulu (m.detik.com, 05/01/2019).

Apa yang tengah terjadi adalah tanda tanya besar. Sebuah anomali terjadi tatkala kebijakan turun justru bersamaan dengan harga minyak dunia yang naik. Apalagi bersamaan dengan tahun politik yang kian memanas. Besar harapan, agar apa yang sudah diputuskan dalam hal kebijakan perminyakan ini tidak bersinggungan dengan kepentingan politis.

Sebab sejatinya BBM nonsubsidi dan yang lainnya sejatinya adalah milik rakyat yang wajib dikelola negara. Digunakan dan dikembalikan kepada rakyat sebagaimana amanat konstitusi. Bukan dinaik-turunkan sesuai kepentingan segelintir orang. Terlebih sebagai negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, pengelolaan BBM patut mengikut apa yang menjadi keyakinan mayoritas penduduknya tersebut, Islam. Dijadikan kepemilikan umum yang benar-benar dikelola untuk kepentingan umum, bukan dikuasai swasta asing lagi bergantung pada harga yang ditentukan asing.

Dengan memedomani pengelolaan kekayaan milik umum yang diajarkan Islam, negeri ini tidak akan masuk pada kotak harga sesuai arahan asing. Sebab dengan konsep Islam, tentu tak akan mau pula mengamini proyek liberalisasi migas yang menjadi pangkal BBM naik. BBM harus dikuasai oleh negara. Karena merupakan barang publik, jika energi dikuasai investor asing, maka ketersediaan dan harga energi ditentukan sekelompok kecil orang yang menciptakan pasar monopoli dengan orientasi laba. Keuntungan dan manfaatnya pun hanya dinikmati investor, bukan negara bukan pula masyarakat luas.  

Islam menggariskan bahwa negara wajib untuk menjamin pemenuhan seluruh sektor perekonomian dengan kuantitas yang cukup dan harga yang terjangkau. Jika rakyat perlu membayar BBM, maka biayanya adalah sekedar untuk mendapatkannya agar minyak mentah dapat diproses hingga siap pakai dalam bentuk BBM. Namun bila negara tidak punya sumber minyak sendiri, maka negara terpaksa membeli BBM dari luar dengan harga pasar dunia, kepada rakyat tetap yang utama menjaga agar kebutuhan pokoknya terjamin. 

Islam juga memerintahkan negara melakukan upaya pengembangan teknologi diversifikasi energi atau energi baru. Sehingga tidak ada polemik dalam negeri yang dipicu karena masalah sulitnya mendapatkan bahan bakar. 

Demikianlah konsep politik energi yang adil dan menyejahterakan menurut Islam. Indahnya konsep ini hanya akan tampak bila didukung oleh sistem ekonomi Islam dan juga penerapan Islam di seluruh aspek lainnya. Sebab semuanya diibaratkan rantai yang saling menguatkan. Dan bukan kemustahilan semua itu terjadi. Bukan kemustahilan pula BBM bisa gratis, atau bisa murah, dan tak lagi mengalami anomali harga di tengah tahun politik. [Arin RM]



Penulis : Arin RM, S.Si.
Penulis adalah Member TSC, Freelance Author



Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.