Benarkah Publik Menjatuhkan Pilihan Karena Visi-Misi?

Hot News

Hotline

Benarkah Publik Menjatuhkan Pilihan Karena Visi-Misi?


Dapurpena.com - Pemilu tinggal seumur jagung lagi. Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk tidak memfasilitasi debat dan penyampaian  visi misi capres  menuai banyak pertanyaan dan ramai di media sosial mulai dari mengecam sampai memaklumi keputusan KPU. 

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyayangkan sikap KPU yang tidak jadi memfasilitasi penyampaian Visi Misi Pasangan Capres sangat disayangkan. Menurut Karyono Wibowo, justru penyampaian visi misi capres yang seharusnya dikedepankan agar masyarakat mengetahui arah pembangunan yang akan dilaksanakan pada 5 tahun ke depan. 

"Penyampaian visi misi justru sangat substansial dan penting dalam pertarungan politik modern. Karenanya penyampaian visi misi seharusnya mendapat porsi terbesar dalam tahapan pemilu," tegas Karyono Wibowo kepada Tribunnews.com, Minggu (6/1/2019). 

Alasan pembatalan yang dilakukan oleh KPU terkesan sarat dengan kompromi. KPU sebagai lembaga independen harusnya mampu memfasilitasi penyampaian visi dan misi masing-masing capres dan cawapres. Usulan-usulan masing-masing paslon hendaknya tidak sampai mempengaruhi tugas independennya KPU. Sehingga tidak memunculkan polemik yang sifatnya teknis bukan suptantif.

Penyampaian visi dan misi menempati porsi yang sangat penting dan akan menjadi bahan pertimbangan bagi rakyat agar tidak salah dalam memilih pemimpin. Visi dan misi setiap kandidat seharusnya disampaikan langsung oleh calon pemimpin itu sendiri, agar publik bisa memberikan penilaian juga jalan untuk mendapatkan kepercayaan publik.

Visi misi para kandidat yang disampaikan sendiri paslon memberikan gambaran yang sesungguhnya. Kecakapan paslon diuji dengan pertanyaan  spontan seputar gagasan ke depan dan solutif persoalan negara.  Kecemerlangan pemikiran  paslon   tergambar dari jawaban-jawaban yang diberikan dan sebaliknya.

Di sisi lain, publik tidak terlalu merisaukan seputar visi misi tetapi lebih terikat dengan hubungan keuntungan, kepentingan dan  keashobiyahan. Tergambar dari polemik pemberian materi, kisi-kisi dan ketakutan jatuhnya wibawa paslon dan politik saling menjatuhkan. Lemahnya alasan KPU, memunculkan berbagai asumsi di tengah masyarakat.

Mewujudkan Pemimpin Yang Kaya Visi Misi 

Seorang pemimpin di negara manapun tentu memiliki syarat dan kriteria yang ditetapkan. Sementara, sistem demokrasi sekuler saat ini, politik persaingan dilakukan dalam berbagai bentuk dan cara untuk mengambil simpati suara terbanyak. 

Oleh karena itu,  hendaknya masyarakat tidak terbawa oleh opini-opini politik yang simpang siur yang menyesatkan dan menjerumuskan.  Umat terjebak dalam ruang pemikiran yang  abu-abu.  Padahal, sudah jelas sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan. 

Kepemimpinan dalam Islam memegang peranan penting. Bahkan, Al-Ghazali menyebut Islam dan kepemimpinan yang mewujud dalam bentuk kekuasaan ini seperti dua saudara kembar. Islam menjadi pondasi kehidupan, sedangkan kepemimpinan--dengan kekuasaan yang ada di dalamnya--ibarat penjaga (pengawal)nya. Tanpa kekuasaan, dengan kepemimpinannya, Islam akan lenyap. Begitulah, peranan penting kekuasaan dengan kepemimpinannya dalam Islam.

Definisi pemimpin lainnya bermakna seseorang yang memiliki kewenangan yang sangat besar dalam menentukan arah dan kebijakan strategis yang berdampak sangat besar bagi kehidupan kaum Muslimin di suatu wilayah tertentu. Adapun kriteria pemimpin  Islam yaitu muslim, laki-laki,  baligh dan berakal, merdeka dan mampu.

KH. Hafidz Abdurrahman dalam tulisannya yang berjudul Karakteristik Pemimpin Dalam Islam menyebutkan karakteristik seorang pemimpin dalam Islam: Pertama, pemerintahan dan kekuasaan tidak identik dengan power (quwwah). Juga tidak boleh bergeser dari misinya untuk mengurus dan melayani, menjadi alat untuk menindas dan mengintimidasi. 

Kedua, Dengan sikap tawadhu’, seseorang juga tidak akan kehilangan wibawanya. Justru sebaliknya, Allah akan mengangkat dan meninggikan derajatnya. Sikap itulah yang menjadikan Umar, saat menjadi khalifah, dengan power, ketegasan dan kepribadiannya yang kuat, sanggup menerima kritik bahkan hujatan keras terhadap dirinya. 

Ketiga, ketika kekuasaan dan pemerintahan didedikasikan untuk mengurusi urusan rakyatnya, maka seorang penguasa akan mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati. Melayani dan memberi solusi. (duniamenujukhilafah.com, 31/10/2016).
 Pemimpin kaya visi dan misi hanya terwujud  di dalam Islam. Memiliki sifat-sifat terpuji, menepati janji, mampu melaksanakan amanah kepemimpinan, bertanggung jawab dalam mewujudkan dan menjaga kedaulatan sebuah negara.
Karenanya, pemimpin dalam Islam adalah amanah yang pasti akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah sang pencipta.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
“Setiap Kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari Muslim)

Keniscayaan kepemimpinan yang komplit ini hanya didapatkan dalam sistem Islam, lahir dari sistem warisan Rasulullah yang telah teruji 13 abad lamanya dan secara gemilang menaungi 2/3 belahan dunia. Sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan seluruh aturan Islam secara menyeluruh, menyebarkan dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. Wallahu 'alam.

penulis : Retno Indra,S.Pd





Editor Lulu.
Sumber ilustrasi Google.com





This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.