Cara Khilafah Menanggulangi Bencana

Hot News

Hotline

Cara Khilafah Menanggulangi Bencana




Oleh : Ika Nur Wahyuni

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, lempeng Samudera Hindia, dan lempeng Samudera Pasifik. Posisi geologis Indonesia juga terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Menurut  Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) menyebutkan bahwa Indonesia terletak pada Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) sehingga Indonesia tidak lepas dari ancaman gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi yang dapat melanda wilayahnya.

Di antara wilayah yang rawan bencana adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen, dan Fak-Fak di Papua serta Balikpapan.

Belum hilang duka atas gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala pada 28 September 2018 yang lalu. Kini Indonesia kembali berduka dengan tsunami yang terjadi di Selat Sunda. Wilayah yang berdampak paling parah adalah Lampung, Tanjung Lesung, dan Anyer. Korban yang meninggal diperkirakan 437 orang, 14.059 orang terluka, 16 orang hilang, dan 33. 721 mengungsi.

Banyaknya wilayah yang rawan bencana tidak membuat pemerintah sigap dan tanggap terhadap bahaya yang sewaktu-waktu mengancam keselamatan rakyatnya. Buoy (alat deteksi dini tsunami) yang merupakan donasi dari US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) sudah tidak lagi beroperasi sejak tahun 2012.

Indonesia juga belum memiliki peringatan dini tsunami yang disebabkan longsor bawah laut dan erupsi gunung berapi. Masterplan tsunami tahun 2012 dihentikan karena tidak ada dukungan dana. Begitupun masterplan penanganan banjir, erupsi, dan longsor. Bahkan anggaran Mitigasi tahun depan (2019) hanya 610 M untuk seluruh Indonesia. Padahal anggaran tahun sebelumnya (2018) 700 M. (Tribunnews.com, 26/12/2018).

Ketika terjadi bencana, pemerintah tidak sigap menyiapkan tempat evakuasi yang memadai. Bahkan dibiarkan di tenda-tenda darurat dengan fasilitas seadanya. Rakyat dibiarkan menanggung nestapa sendiri. Tidak ada pendampingan meskipun dari aparat di wilayah yang berdampak bencana. Belum lagi adanya pungli untuk setiap pengambilan jenazah yang dilakukan oleh beberapa oknum petugas Rumah Sakit.

Bagaimana cara Islam mengatasi bencana alam yang terjadi melalui institusi Khilafah? Yang pertama, khalifah sebagai seorang pemimpin melakukan kebijakan preventif yaitu sebelum bencana terjadi. Khalifah melalui jajarannya akan mengedukasi rakyat terkait potensi bencana, cara menyelamatkan diri dan juga menyikapi bencana dengan benar di wilayah-wilayah yang rawan bencana pada khususnya dan kepada semua warga negara.

Khalifah juga membuat masterplan antara lain pembukaan pemukiman atau kawasan baru harus menyediakan daerah resapan air. Dan penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya. Khalifah akan mengeluarkan syarat yang ketat untuk izin mendirikan bangunan dan akan memberikan sanksi tegas bagi yang melanggar tanpa pandang bulu.

Menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai cagar alam, menerapkan kawasan hutan lindung, buffer zone (zona penyangga) yang harus dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan tanpa izin. Membentuk badan khusus penanggulangan bencana yang dilengkapi dengan alat berat, sarana dan prasarana medis, tim evakuasi melalui jalur darat, laut, dan udara. Dan petugas lapangan yang cakap dan tanggap dalam menangani berbagai situasi.

Kebijakan kedua adalah rehabilitatif yaitu merehabilitasi bangunan dan perekonomian yang terdampak bencana. Merelokasi korban bencana ke tempat yang lebih aman dengan fasilitas yang memadai atau langsung memindahkan mereka ke kawasan lain  dengan mendapat kompensasi penuh dari negara.

Kebijakan ketiga adalah kebijakan kuratif yaitu melakukan mental recovery kepada rakyat. Bersama dengan seluruh rakyatnya melakukan muhasabah. Menguatkan mental dan jiwa rakyatnya untuk tunduk, rida, dan tawakal kepada Rabbnya. Bertaubat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Karena bencana datangnya dari Allah sebagai sebuah teguran atas segala kemaksiatan yang berkembang di tengah masyarakat.
Wallahu’alam bisshawab.


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.