Catatan Kecil Part III-Lelaki Kampoeng

Hot News

Hotline

Catatan Kecil Part III-Lelaki Kampoeng



Oleh Hamka*

Perjalanan laut itu penuh asyik dan syahdu. Keindahan demi keindahan selalu kami saksikan di depan mata, seakan-akan sedang menari mengiringi gelombang air laut yang kian hari kian mencekam. Lautan manusia juga tampak lalu lalang ke sana kemari mencari udara segar. Terlihat di pojok kapal ada dua insan yang sesekali memastikan suasana hati agar tidak oleng diterpa gelombang. 

Tidak terasa pelabuhan demi pelabuhan kami lewati. Canda tawa, riang gembira, maupun kesedihan kadang hadir menemani kami dalam perjalanan itu. Bekal yang tersedia untuk makan sehari-hari di kapal kian hari mulai  berkurang, sehingga sesekali kami bertiga naik ke deck 7 paling atas (kantin) untuk ngopi sambil ngobrol. Di situlah Bahrul mulai menceritakan kejadian yang menimpa dirinya sebelum berangkat ke pelabuhan dengan sangat detail. Sehingga kami pun memaklumi itu. Saya merasa terharu mendengar kisah kesungguhan Bahrul dalam berusaha mencapai cita-citanya. Yakin saja kawan, bahwasanya di balik setiap niat baik pasti akan selalu diberikan jalan keluar oleh Allah swt. 

Kawan, coba kita lihat pulau-pulau indah yang ada di ujung sana, mereka begitu kokoh dan kuat. Mereka tidak pernah mengeluh dan menyesali keberadaannya. Mereka tidak pernah protes kepada lautan samudra ini, yang setiap saat menghantam gelombang ke hadapan wajahnya. Di balik penderitaan yang dihadapi itu, ia tetap anggun dan indah bersolek setiap saat. Setiap mata yang memandangnya  pasti akan tersihir dengan keindahanan wajahnya. 
Alam mengajarkan kita banyak hal kawan, jadi tidak perlu memikirkan masalah yang menimpamu lagi. 

Beberapa jam kemudian kami pun tiba di pelabuhan laut PELNI, Kabupaten Bintan. Pelabuhan kapal laut PELNI hanya ada di Bintan, jadi untuk ke Batam harus menempuh jalur darat ke tanjung pinang terlebih dahulu, kemudian nanti naik feri cepat sekitar 45 menit menuju ke Batam. Saat itu azan magrib sedang berkumandang, sehingga kamipun langsung ke musalla untuk salat berjamaah.

Alhamdulillah, saat itu kami dijemput oleh seorang ustaz yang juga pimpinan di Pondok Pesantren Hidayatullah cabang Tanjung Pinang. Sekarang beliau sudah kembali menghadap Sang Pemilik Semesta. Semoga amal kebaikan ustad Sulthan dibalas oleh  Allah Swt. 

Malam itu gerimis menemani perjalanan kami ke Pondok di Tanjung Pinang. Syahdu dan mesra malam itu karena alam menyambut kami dengan senyuman kegembiraan. Kurang lebih 30 menit kami tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Pinang. Menginap dan berisirahat sejenak untuk memulihkan tenaga.

Keesokan harinya, kami pun menuju ke pelabuhan feri untuk melanjutkan perjalanan ke Batam. Alhamdulillah semuanya dimudahkan sampai tiba di pelabuhan feri, Punggur. Ternyata bukan hanya sampai di situ saja, kami harus naik mobil lagi ke Pondok Pesantren Hidayatullah batam yang memakan waktu sekitar 30 menit. Bismilah, mimpi indah itu semakin nampak dan terang di wajah-wajah yang keletihan ini.

Menjalani hari-hari pertama di pondok penuh suka duka. Setiap hari ribuan manusia datang berkunjung ke pondok itu, namun tidak ada satupun yang dapat kami kenal dan bisa diajak ngobrol. Kehidupan layaknya kota mati. Semua sibuk dengan aktivitas masing- masing. Hanya kami bertiga yang ngobrol dan bercerita menghibur hati masing- masing di kamar.

Beberapa hari kemudian kami mulai berkenalan dengan ustaz-ustaz di pondok. Alhamdulillah rasa kekeluargaan dan persaudaraan sangat nampak sekali. Senyum lebar selalu menghiasi wajah ustaz-ustaz di pondok. Sehingga perasaan yang awalnya guncang berubah jadi kekuatan luar biasa. 

Setiap pagi kami diberikan amanah untuk mebersihkan kampus, kadang juga kami diajak ke Tanjung Uncang tempat santriwati berada. Markas besar yang penuh getaran cinta. Siapa saja masuk di sana harus pandai membawa diri, sebelum bergemetaran sendiri dengan tatapan-tatapan garing di ujung pintu gerbang. Di Tanjung Uncang kami membabat rumput, menggali parit dan membersihkan sampah-sampah di samping asrama

Kami sebagai calon mahasiswa baru saat itu berjumlah 7 orang, Hamka, Muktar, Bahrul, Fitrojan, Ari Suroto, Guntur Langgana, dan Aqil. Kerja bakti sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Dan itu adalah pendidikan lapangan yang sangat penting bagi kami calon mahasiswa yang masuk ke pondok Hidayatullah Batam.

Namun kami tetap enjoy menjalani itu semuanya. Di samping kerja bakti kami juga mendapatkan pencerahan tentang  pengkaderan dari Ustaz Jamal Nur selaku pimpinan kami di Batam ini. Dengan dorongan motivasi itulah yang membuat kami semakin betah dan semakin tumbuh besar dalam pemikiran yang utuh bahwa kami adalah kader yang prinsipnya adalah 'sami’na waato’na'.

Kehidupan terus berjalan apa adanya. Tidak ada lagi perasaan-perasaan yang membuat jiwa kami gundah gulana. Sebab di Batam inilah kami  menemukan keluarga baru yang bernaung dalam aqidah islamiyah, yang bersaudara karena iman dan cinta.
Kalimat yang sampai saat ini selalu terniang di telinga kami adalah 'kerja bakti itu adalah cara untuk mengikis thogo atau kesombongan dalam diri'. Dan itu sudah teruji kemujarabannya. 

Setiap hari calon mahasiswa semakin banyak yang datang dari berbagai penjuru wilayah indonesia. Dan itu menambah kekuatan persaudaraan di antara kami. Persiapan demi persiapan sudah mulai dilakukan. Kami sudah mulai digembleng untuk persiapan ospek. Pagi kami wirid dan halqoh bersama-sama di masjid, setelah baru kemudian kembali ke asrama mengambil senjata ajaib yaitu sapu dan serokan. Untuk mengerjakan amal salihh yang sudah dibagikan oleh pengasuh mahasiswa.


#Bersambung

*Tim Redaksi Dapur Pena


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.