Demokrasi Bukan Harapan Melenyapkan Kemaksiatan

Hot News

Hotline

Demokrasi Bukan Harapan Melenyapkan Kemaksiatan



   dapurpena.com - Berita yang sempat menghebohkan media massa di awal tahun 2019 ini yaitu kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Di mana berdasarkan berita  sudah banyak beredar artis yang terkait kasus ini berinisial VA, dengan mendapat bayaran Rp80 juta dari pelayanan yang diberikan pelanggannya. Berdasarkan rilis Polda Jawa Timur, Senin (7/1) artis tersebut hanya menerima upah kurang dari setengahnya, setengah lebih lainnya masuk ke kantong mucikari dan  pihak lain yang terlibat sebagai perantara. “Masing-masing orang punya pembagiannya 25%, kayak kemarin itu dibagi tiga, kepada VA Rp35 juta, sisanya dibagi-bagi tim,” ungkap Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan seperti dikutip  detik.com, Senin (7/1).

     Dari pemaparan Kapolda Jatim dapat disimpulkan, dalam kasus prostitusi online tersebut tidak hanya melibatkan artis tetapi ada pihak yang sengaja  mewadahi para pekerja asusila. Padahal perbuatan itu dapat mengundang datangnya azab Allah. Dengan perzinahan yang terorganisir atas dasar suka rela, serta memunculkan kerusakan moral secara massif.

     Justru menurut Siti Aminah dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), media massa lebih kembali menjadikan perempuan itu sebagai objek, baik dalam konteksnya TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Online) maupun konteks prostitusi,” ujar Siti kepada BBC, Senin (7/1). Ia memosisikan VA sebagai korban dalam perspektif feminis. Menurutnya, perempuan yang menjadi korban prostitusi harus diperlakukan sebagai  korban TPPO.

     Di dalam sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan tidak akan pernah serius menyelesaikan kemaksiatan termasuk perkara prostitusi online, malah membiarkan subur selama masih ada yang menikmati dan kerelaan dari pelakunya. Karena di Indonesia sendiri zina tidak dikategorikan sebagai tindakan kriminal, sehingga tidak ada satu pun yang dapat melarangnya apalagi menghukumnya termasuk aparat.

     Sehingga tidak heran jika di negeri tercinta kita ini sangat rentan terjadi bencana alam dan musibah besar. Seperti yang telah kita saksikan di tahun 2018 lalu, bencana datang bergantian di berbagai tempat. Bukan karena hanya alam yang tidak bersahabat, atau cuaca yang tidak menentu. Tapi karena ulah tangan manusianya sendiri yang membuat pemilik alam ini yakni Allah Ta'ala mendatangkan azab-Nya, seperti yang tertera dalam hadits,

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani). Berharap maksiat dihilangkan dari negeri ini, ibarat pungguk merindukan bulan, apa lagi dengan sistem yang sekuler demokrasinya.

     Sementara dalam Islam telah memiliki solusi tuntas menghilangkan kemaksiatan dengan sanksi yang tegas, yaitu penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Minhajjin Nubuwwah. Fungsi dalam Islam itu sendiri adalah sebagai Jawazir (pencegah) dan Jawabir (penebus).

Pemberian sanksi dalam  kasus perzinahan ialah jika pelaku zina berstatus telah menikah (al-muhshan) dihukum rajam (dilempar dengan batu) sampai mati. Hukuman ini berdasarkan Alquran, hadits mutawatir dan Ijma' kaum muslimin. Sedangkan untuk pelaku zina yang belum menikah, hukumannya adalah dicambuk sebanyak seratus kali, ini adalah kesepakatan para ulama.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :                                 
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk)”. [An-Nûr/24:2]

Hukuman ini dilakukan di tempat lapang agar disaksikan semua orang, sehingga akan membuat semua orang yang melihat enggan bahkan tidak mau melakukan perzinahan, dan dipastikan tidak akan ada lagi kasus semisalnya lagi. Bagi si pelaku zina sendiri hukuman ini membuatnya jera dan sebagai penebus dosa di akhirat kelak.

     Di samping adanya sanksi tegas pelaku zina, di dalam sistem Islam setiap individu muslim dibekali dengan pendidikan Islam yang benar-benar diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehingga mampu membentengi diri dalam hal-hal yang berbau maksiat dan secara tidak langsung mengangkat derajat manusia tanpa ada pengakuan dari elemen-elemen yang menjunjung tinggi feminisme yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam. Semua ini akan terwujud dengan baik jika dilakukan dalam sistem Islam dibawah naungan Khilafah Minhajji Nubuwwah. Wallahu'alam bi shawab.


Penulis : Risma Aprilia
Penulis adalah Sahabat Hijrah Muslimah Majalengka


Editor Lulu
Sumber ilustrasi pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.