Elektabilitas Capres-Cawapres 2019 di Kancah Perpolitikan Indonesia

Hot News

Hotline

Elektabilitas Capres-Cawapres 2019 di Kancah Perpolitikan Indonesia


Oleh : Citra Salsabila*
Dapurpena.com - Tak terasa sudah 5 tahun saja pemilihan pemimpin di Indonesia berlangsung dengan ramainya. Saat itu tahun 2014, KPU menetapkan 2 pasangan yaitu Prabowo-Hatta Rajasa dan Jokowi-Jusuf Kalla. Hanya berbeda sekitar 10% pasangan Prabowo-Hatta Rajasa harus menerima kekalahannya terhadap pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. 
Tahun 2019 pun tiba. Saatnya beradu visi-misi Capres-Cawapres yang telah ditetapkan oleh KPU. Ternyata Capres-Cawapres sama dengan tahun 2014, hanya berbeda nomor urut pasangan. KPU menetapkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno untuk bersaing meraih hati rakyat Indonesia. Walhasil KPU mengadakan debat Capres-Cawapres 2019 sebanyak 5x sebelum pemilihan di bulan April. 
Kampanye pun telah digelar oleh dua pasangan tersebut. Segala upaya dan usaha dikerahkan bahkan hingga dana pun dikeluarkan untuk memikat hati rakyat. Salah satunya pasangan Jokowi-Maruf Amin menggelar kampanye di Gelora Bung Karno. Kampanye ini dihadiri oleh segilintir mahasiswa Universitas Indonesia (UI).
Pada Sabtu (12/1/2019), Joko Widodo menghadiri acara deklarasi Alumni Universitas Indonesia For Jokowi-Amin. Dengan menaiki sepeda, mantan Wali Kota Solo itu memasuki arena deklarasi di Plaza Tenggara Kompleks Gelora Bung Karno Jakarta. Jokowi datang sekira pukul 16.21 WIB. Dalam acara ini mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengenakan kemeja putih lengan panjang dibalut dengan setelan celana jeans berwarna biru.
Hadir juga Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir, juga juru bicara TKN Ruhut Sitompul, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Mensesneg Pramono Anung serta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Dalam acara deklarasi ini, panitia dan peserta terlihat mengenakan kaos berwarna kuning mencirikan jas almamater khas UI. (indopos.co.id/14Jan19). 
Banyak media sosial yang berkomentar tentang acara tersebut, dikarenakan acara Alumni UI tetapi dihadiri oleh Jokowi beserta Tim Sukses-nya. Hanya saja dipertegas oleh Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Arief Budhy Hardono yang mempersilakan siapa saja alumni UI boleh melakukan dukungan kepada salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Dipertegas pula bahwasannya dukungan tersebut tidak boleh mengatasnamakan lembaga alumni. (indopos.co.id/13Jan19)
Arief Budhy Hardono pun menambahkan, bahwasannya semoga Alumni UI bisa berkontribusi memberikan gagasan dan ide untuk Pemilu berkualitas 2019 untuk Indonesia naik kelas dan gemah ripah lohjinawi toto tentrem kerto rahardjo, serta penuh berkah dari Tuhan YME. (indopos.co.id/13Jan19).
Tak hanya pasangan Jokowi-Maruf Amin yang melakukan kampanye ke berbagai elemen masyarakat, pasangan Prabowo-Sandiaga Uno pun tak kalah menarik. Perihalnya pasangan dengan nomor urut 02 ini menggunakan taktik 5-2 dalam berkampanye. 
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, Prabowo-Sandiaga akan menggunakan format 5-2 saat berkampanye ke daerah-daerah. Artinya, dalam suatu kurun waktu kampanye, Prabowo akan turun ke lima wilayah di Jawa dan 2 wilayah di luar Jawa. Format tersebut juga berlaku untuk Sandiaga. (kompas.com/28Des18). 
Masa kampanye akan berakhir pada 13 April 2019. Hanya tinggal menyisakan kurang lebih 2,5 bulan lagi. Kedua pasangan Capres-Cawapres ini akan terus menggelar kampanye di berbagai daerah di Indonesia. Namun, apakah kampanye yang dilakukan sudah sampai pada tahap benar-benar akan mengayomi rakyat Indonesia nantinya jika terpilih? Inilah yang menjadi pertanyaan besar, dikarenaka kedua pasangan ini akan terus mengungkapkan janji-janjinya kepada seluruh rakyat Indonesia. 
Terlihat dalam hal survei yang dilakukan Charta Politika tentang elektabilitas Capres-Cawapres tahun ini. Hasilnya, elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Survei dilakukan pada 22 Desember 2018 sampai 2 Januari 2019. Survei dilakukan kepada 2.000 responden dari 34 provinsi yang dipilih dengan metode multistage random sampling. Margin of error dari survei +- 2,19%, dengan tingkat kepercayaan 95%. 
Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya di Kantor Charta Politika di Kebayoran Baru menerangkan, Charta Politika juga melakukan survei dengan indikator tingkat kemantapan memilih Capres Cawapres. Hasil survei yang didapat yakni 80,9% mantap memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, sementara 79,6% mantap memilih Prabowo-Sandiaga, sisanya 12,8% menjawab tidak tahu. (detik.com/16Jan19). 
Fakta tersebut seharusnya menjadi sorotan bagi rakyat Indonesia untuk benar-benar memahami makna pemimpin ideal yang pro rakyat. Pemimpin yang pro terhadap rakyat tidak hanya mengungkap janji-janjinya saja, tetapi berusaha untuk merealisasikannya. Terutama rakyat Indonesia yang masih dikepung oleh penjajahan Barat dengan gaya terbarunya, yaitu penjajahan neolib (dari seluruh aspek kehidupan). Barat yang mengatas nama kebebasan menjadikan tolak ukur dalam setiap perbuatannya. 
Maka dari itu, rakyat Indonesia perlu melek terhadap politik saat ini. Politik di sini bukan hanya memikirkan menjadi penguasa atau masuk kedalam sebuah partai politik. Politik yang dilakukan yaitu mengurusi urusan umat. Sehingga, umat tidak akan salah memilih pemimpin Indonesia, karena seharusnya yang menjadi pemimpin sebuah negara, berarti harus siap melayani umatnya dengan sepenuh hati bukan mengikuti keinginan Barat. 
Hal ini terjadi pada kepemimpinan dalam Islam. Tentu sangat jauh berbeda dengan kepemimpinan di sistem demokrasi ini. Islam sebagai agama yang sempurna tentu memiliki konsep yang lengkap terhadap keduanya. Konsep ini dijamin baik dan benar, karena telah dicontohkan langsung secara nyata oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dalam kehidupan bernegara. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam kepemimpinan dalam Islam, yaitu : 
1. Rasulullah bukan sekadar pemimpin spiritual, namun sekaligus pemimpin politik yang menjalankan aktivitas kenegaraan berdasarkan petunjuk wahyu dari Allah subhanahu wa ta'ala. Hal ini mengisyaratkan bahwa bentuk negara dalam Islam adalah tidak sekuler.
2. Kepemimpinan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, sebab semua ucapan, perbuatan, dan diamnya Rasul adalah sumber hukum, termasuk perbuatan Rasul dalam mengurus urusan rakyat.
3. Sangat tegas dalam penerapan hukum Allah tanpa kompromi. 
4. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menyatukan masyarakat dengan ikatan yang kokoh, yaitu akidah Islam dalam bentuk ukhuwah Islamiyah. Di saat yang sama Rasul juga melenyapkan ikatan ashobiyah kesukuan dan kebangsaan yang rapuh. 
5. Kepemimpinan Rasulullah bertujuan untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan da'wah dan jihad. 
Poin-poin tersebut terus dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin dan setelahnya, sehingga sangat terasa sekali pemimpin yang pro rakyat bukan pada Barat. Islam menjadikan pemimpin sebagai pengurus umat secara keseluruhan. Islam pula menjadikan pemimpin mulia dengan kewibawaannya, karena mengemban tanggung jawab yang mulia dari Allah SWT, yaitu menerapkan hukum-hukum Allah secara mutlak. Hal tidak mungkin terjadi dalam sistem demokrasi saat ini. Hanya dengan mewujudkan sistem Islam secara total, rakyat Indonesia akan merasakan ketenangan dan ketentraman hidupnya. 
Wallahu'alam bi shawab. 



*Penulis adalah IRT dan Pemerhati Sosial

Editor  M.N Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.