Label Anti Islam, Tarik Ulur Pembebasan

Hot News

Hotline

Label Anti Islam, Tarik Ulur Pembebasan


Oleh : Rusdah 

Dapurpena.com - Telinga kita tentu tidak asing dengan kata anti Islam yang dilontarkan belakangan ini. Banyaknya persekusi, diskriminasi, kriminalisasi, pembatasan ceramah yang berbau politik. Perda Syariah ingin dihilangkan karena dianggap merugikan masyarakat, hingga kelompok radikal yang sering diarahkan kepada umat muslim yang dianggap membahayakan negeri ini.

 Fakta tersebut menunjukkan seolah-olah penguasa adalah bagian dari kelompok pembenci Islam. Maka wajar jika label tersebut disematkan terhadap para petinggi negara. Sengitnya persaingan politik demi mendapatkan kursi kekuasaan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia semakin terasa. 

Pihak yang dianggap anti Islam pun berusaha menunjukkan kepada masyarakat bahwa tuduhan tersebut tidaklah benar. Baik dengan mendekati para ulama, pesantren, mengunjungi wilayah-wilayah dengan nuansa Islam yang kental seperti halnya ke Tapin dan Martapura, Kalimantan Selatan, pada 25 Januari 2019 di Banjarmasin, tribunnews.com, 22/01/2019), hingga upaya pembebasan Ustaz Abu Bakar Baasyir yang telah menjalani dua per tiga masa hukuman dalam kasus pelatihan teroris Aceh tahun 2011 (bbc.com, 23/01/2019). 

Meskipun hal tersebut dilakukan dengan dalih bukan untuk kampanye melainkan bersilaturahmi. Namun, secara tidak langsung kunjungan tersebut dilakukan untuk membentuk citra yang baik serta mendulang simpati dari masyarakat. Di sistem sekarang ini, segala sesuatu akan dilakukan jika memberikan keuntungan bagi mereka. Sekalipun dia seorang muslim, namun materi tetap tujuan utama. Sebab, pemikiran mereka telah diracuni oleh kapitalisme dan sekulerisme.

Kabar bebasnya Ustaz Abu Bakar Baasyir nampaknya hanya wacana belaka yang memberikan harapan palsu kepada umat Muslim. Pernyataan Presiden yang ingin membebaskan Ustaz Abu Bakar Baasyir karena pertimbangan kemanusiaan dan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan beliau mendekam di balik jeruji besi ternyata perlu dikaji ulang. 

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto menyatakan bahwa pembebasan Ustaz Abu Bakar Baasyir perlu dipertimbangkan kembali, salah satunya dengan melihat sisi kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Presiden bahwa Ustaz Abu Bakar Baasyir bebas bersyarat bukan bebas murni (bbc.com, 23/01/2019). 

Kenyataan ini semakin meyakinkan masyarakat akan ketidakkonsistenan dan keputusan yang kurang baik oleh penguasa. Seakan-akan orang-orang yang fanatik dengan agama belum tentu mencintai dan menjaga negaranya dari kerusakan, malah didogma sebagai perusak kesatuan dan membahayakan keutuhan negara. Tolok ukur kesetiaan terhadap negara yang dibuat oleh manusia tentu tidak bisa menjadi patokan. Justru ajakan yang disampaikan oleh para ulama yang sadar akan kerusakan negara ini sangat diperlukan. 

Dari kasus ini pula masyarakat dapat melihat akan lemahnya aturan buatan manusia. Aturan yang berdasarkan nafsu dan kepentingan belaka. Ketika ada suatu fakta, barulah dicarikan solusinya yang mungkin tidak menentramkan jiwa. Lalu, mengapa mereka masih berbangga dengan kerusakan yang ada akibat sistem warisan para penjajah Indonesia.

Tidakkah kita sadar, siapa yang menjual aset negara, menambah utang dengan bunga yang tinggi, selalu mengimpor bahan pokok tanpa melihat sisi lain yang justru membuat para petani dan masyarakat lainnya gulung tikar? Siapa yang nyatanya secara halus menghancurkan negeri ini? 
Sebagai masyarakat, kita harus menjadi orang yang cerdas. Dengan didukung kecanggihan teknologi, tidak ada alasan untuk  sulit membedakan mana yang benar dan salah. Tentu yang menjadi acuan kita sebagai umat muslim dalam menentukan baik dan buruk adalah berdasarkan Alquran dan As Sunnah. 

Islam dengan aturan yang sempurna telah terbukti melahirkan generasi yang cinta akan agamanya dan negara. Kalaupun ada oknum tertentu yang melakukan pelanggaran syariat, maka yang salah bukanlah aturannya, melainkan pemikirannya yang salah dalam memahami ketetapan Allah. 

Sejarah pun menunjukkan betapa sejahteranya masyarakat jika menerapkan aturan Allah secara sempurna, baik hubungan dengan diri sendiri, dengan Allah maupun hubungan sosial, pendidikan, politik, dan ekonomi telah diatur dalam Islam. Maka, sehebat apapun pemimpinnya, jika bukan berlandaskan pada Alquran dan As Sunnah, tentu tidak akan bisa mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera.

* Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.