Manipulasi Untuk Meraih Kekuasaan

Hot News

Hotline

Manipulasi Untuk Meraih Kekuasaan


Oleh: Tri S,S.Si*

Ikatan Alumni Universitas Indonesia atau Iluni UI melayangkan somasi terhadap penyelenggara deklarasi dukungan untuk calon presiden no urut satu. Iluni UI menganggap penyelenggara deklarasi tersebut telah mencatut nama lembaga yang menaungi alumni kampus tersebut (swararakyat.com, 13 Januari 2019). 
Somasi dilakukan setelah beredarnya poster acara deklarasi Iluni UI mendukung paslon no urut satu. Acara itu bakal digelar pada Sabtu, 12 Januari 2019 di Plaza Pintu Senayan Gelora Bung Karno. Surat undangan itu berlatar kuning, dengan wajah Jokowi dan Ma’ruf Amin sambil mengacungkan jari telunjuk. Dalam poster tersebut juga tampak foto Ketua Iluni UI Arief Budhy Hardono dan beberapa orang berjaket kuning. 
Arief mengatakan beredarnya undangan  tersebut telah meresahkan alumni UI. Karena itu, Arief mengatakan pihaknya mensomasi pihak yang telah membuat dan mengedarkan undangan tersebut. 
Arief menuntut pembuat undangan untuk menarik atau membekukan penyebaran undangan. Dia juga menuntut mereka minta maaf ke Iluni UI. Bila tuntutan itu tak digubris hingga tiga hari setelah somasi itu dikirim, Arief mengancam akan melaporkan pihak tersebut ke pihak berwajib. 
Hingga April 2019 nanti situasi politik di negeri ini nampaknya akan terus menghangat, bahkan bisa jadi sesekali memanas. Betapa tidak, berbagai kekuatan politik yang ada akan berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati rakyat, agar di Pilpres nanti sosok yang dijagokan memenangi pertandingan. 
Sebagian umat Islam tertipu dengan demokrasi. Mereka menganggap demokrasi sekadar cara memilih pemimpin. Karena itu banyak umat Islam yang menerima demokrasi sekaligus terlibat aktif dalam proses demokrasi. Tentu dengan harapan bisa memperjuangkan kepentingan Islam dan umatnya, harapan akan datangnya pemimpin yang bisa membawa kemenangan bagi Islam dan umat Islam. 
Namun, harapan itu meleset. Alih-alih bisa memajukan Islam dan umatnya, bahkan kondisi umat Islam makin hari makin parah. Urusan dunia saja tidak kunjung membaik. Hidup makin susah. Ratusan juta rakyat, tentu saja mayoritasnya muslim, termasuk kategori miskin. Harga-harga sembako makin melambung. Pekerjaan sulit didapat. Pajak makin menggila. Pendidikan dan kesehatan makin membebani. 
Di sisi lain kekayaan alam yang melimpah, emas, tembaga, minyak dan gas diserahkan kepada asing. Jurang menganga antara si kaya dan si miskin makin melebar. Segelintir orang menjadi super kaya. Mayoritas rakyat hidup miskin. Di pihak lain korupsi berjamaah di seluruh level kekuasaan makin intensif. 
Sistem demokrasi telah menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan, termasuk membangun opini dengan hoax. Hal ini akan mencerminkan keburukan kepemimpinan yang dibangun di atas pilar sekulerisme yang rusak dan rapuh. 
Dalam sistem demokrasi nampak bahwa visi yang abadi hanyalah kepentingan melanggengkan sekulerisme, bukan yang lain. Tak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Demikianlah mantra suci demokrasi. Kekuasaan bukan dipakai demi kemuliaan Islam atau umat Islam, tapi demi kepentingan individu dan kelompoknya sendiri. 
Alhasil, demokrasi bukan sekadar cara memilih pemimpin. Demokrasi merupakan cara idiologi kapitalis untuk menguasai panggung politik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa proses demokrasi sangat mahal. Dana pesta demokrasi juga harus dirogoh mahal oleh peserta pemilu. Semakin tinggi jabatan yang diperebutkan semakin tinggi pula biaya kampanye yang dikeluarkan.
 Pada titik inilah kepentingan pemodal bertemu. Para kandidat baik Caleg maupun calon kepala daerah dan calon presiden membutuhkan dana sangat besar. Adapun para pemodal membutuhkan pengistimewaan dari penguasa. Jadilah para pemodal sebagai investor Pemilu. Mereka membiayai kandidat untuk imbalan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Karena itu sudah menjadi kewajiban penguasa yang menang Pemilu untuk mengabdi kepada investornya. Terbitlah berbagai regulasi yang menguntungkan mereka. Tepatlah dikatakan bahwa demokrasi itu bukan “dari, oleh, dan untuk rakyat”, namun demokrasi adalah  “dari, oleh dan untuk pemodal”.
Oleh sebab itu rezim saat ini sangat ingin mempertahankan kekeuasaannya. Bahkan sampai-sampai membangung opini dengan hoax.  Dalam sistem ini kekuasaan adalah segalanya sehingga boleh menghalalkan segala cara. 
Umat seharusnya sadar bahwa pangkal kesemrawutan dan segala krisis adalah penerapan sistem demokrasi yang demikian rusak dan hanya berorientasi kekuasaan saja. Tak ada yang bisa diharapkan dari sistem ini untuk kebaikan dan keberkahan hidup. Hanya sistem politik Islam yang bisa membawa kebaikan bagi umat karena tegak di atas tuntunan Allah swt. Berorientasi ketaatan dan ditujukan untuk kebaikan umat. Kepemimpinan dalam sistem Islam dibangun di atas landasan akidah dan hukum syara sehingga akan melahirkan kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan. [Tri S]. 

*(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi dari Blitar)


Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.