Mewaspadai Pengemplangan Pajak Bisnis Online

Hot News

Hotline

Mewaspadai Pengemplangan Pajak Bisnis Online


Oleh : Iin Susiyanti, SP*

Dapurpena.com - Sosial media saat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Hampir setiap orang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Baik lewat facebook, twitter, instagram, path dan lain sebagainya. Sudah menjadi tren dan banyak dimanfaatkan  sebagai lahan  bisnis, termasuk para pelapak, You Tuber dan Selebgram sebagai mesin pencetak uang.

Rupanya hal ini tidak luput dari perhatian pemerintah. Karena dapat diambil keuntungan yakni diperlakukan pajak bagi para pebisnis online.  Maka dibuatlah peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomer 210/PMK 010/ 2018. Setiap transaksi perdagangan melalui sistem Elektronik akan dikenai pajak. Dan mulai April para pemilik platform-e, pelapak, Selebgram maupun YouTuber harus siap-siap membuat NPWP untuk melaporkan omzet perdagangan/penghasilan per tahun.

Jika penghasilan kurang dari Rp. 4.8 Miliar akan dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak dan membayar pajak sebesar 0,5 persen dari omzet. Jika penghasilan melebihi Rp. 4.8 Miliaran akan dikukuhkan sebagai pengusaha  kena pajak sebesar 10 persen dari omzet per tahun.  Alasan pemerintah untuk menarik pajak bagi pengusaha online maupun offline adalah karena sektor ekonomi digital berkembang sangat pesat (Kompasiana.com/15/1/2019)

Bukan rahasia lagi, sistem ekonomi neoliberal yang diadopsi negara. Sumber pemasukan utama APBN adalah dari utang Ribawi dan pajak. Ibarat vampir, pajak adalah darah bagi sendi kehidupan ekonomi neoliberal ini. Karenanya apapun itu akan dikenakan wajib pajak.

Akibatnya, pajak hampir hadir dalam berbagai sendi kehidupan rakyat. Miskin atau kaya dikenai wajib pajak. Mulai dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan, pajak eksport, dan lain sebagainya. Sekarang ditambah pajak bagi pebisnis online.

Sementara itu orang-orang kaya dan perusahaan-perusahaan besar, seperti perusahaan tambang dan teknologi masih luput dari penarikan pajak. Justru malah diberikan kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak bagi pemodal kelas kakap. Inilah sistem ekonomi neoliberal yang justru akan membawa kehancuran negara, karena  pemerintah tidak berpihak kepada rakyat, dan telah terang-terangan menzalimi rakyat.

Dengan menghisap darah sampai habis. Mengeruk keuntungan dari rakyat. Pemerintah hanya berpihak kepada pemilik modal, terutama pihak asing. Subsidi rakyat terus dikurangi, namun beban pajak makin bertambah.

Berbeda dengan Islam. Islam bukan sekedar agama ritual belaka. Karena diturunkan dari zat yang Maha Pencipta untuk mengatur segala aspek kehidupan. Dan memecahkan segala problematika umat, termasuk dalam mengatur perekonomiannya. Sumber APBN dalam Islam bukanlah dari hutang ribawi maupun pajak yang hanya menyengsarakan rakyat.

Ekonomi Islam berada pada paradigma yang lurus, mengoptimalkan kekayaan alam yang diberikan Allah Swt. Dengan pengaturan yang benar sesuai syariat Islam dan mampu memberikan manfaat bagi semua. Pendapatan negara diperoleh dari sumber daya alam yang menjadi kepemilikan umum (hutan, laut, tambang, dan lain sebagainya). Yang dikelola oleh negara semaksimal mungkin kemudian dipergunakan untuk kepentingan rakyat.

Bukan dinikmati oleh segelintir orang baik pihak swasta maupun pihak asing. Dengan sumber daya alam yang ada negara sudah mampu untuk membiayai pengurusan rakyat. Termasuk biaya pendidikan, infrastruktur, biaya kesehatan, pencegahan dan penanggulangan bencana alam dan lainnya. Bahkan mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Semua itu pasti bakal terwujud saat bangsa ini benar-benar mau secara sungguh-sungguh menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam institusi Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Itulah wujud ketakwaan hakiki. Jika umat ini telah benar-benar bertakwa, Allah SWT pasti akan menurunkan keberkahan-Nya dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

"Jika saja penduduk negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (Kami) sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka lakukan itu" (QS al-A’raf : 96).


*Muslimah Randublatung Blora.

Editor Lulu


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.