Negeri Demokrasi, Anti Kritik

Hot News

Hotline

Negeri Demokrasi, Anti Kritik


Oleh : Meika Nurul Wahidah*
“Kita kan hidup di negeri yang demokratis!” Begitulah kata orang yang mengaku bangga dengan demokrasi. Dengan dalih demokrasi, mereka mencoba membuat argumennya diterima masyarakat. Sayangnya demokrasi sering kali tak demokratis, keberadaannya kini hanya tinggal nama, sedang aplikasi dalam negara telah tiada. 

Seperti yang dialami oleh Mantan Sekretaris Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Said Didu. Beberapa waktu lalu namanya sempat dicopot dari jabatan Komisaris PT Bukit Asam (PTBA) dengan alasan sudah tidak sejalan dengan pemegang saham Dwi Warna (Menteri BUMN). Hal ini dituliskannya dalam akun @saiddidu, pada Jumat (28/12/2018). (Tribun-Medan.com).

Sementara SBY, tampak merespon positif dengan adanya kultwit yang dituliskan oleh said didu dalam akun twitternya. Beliau mengatakan bahwa kultwit Pak Said Didu tentang isu divestasi saham Freeport merupakan penjelasan yang informatif, utuh dan mendidik. Beliau juga menuturkan said dianggap berani mengambil resiko karena menyampaikan informasi mengenai Freeport tersebut (CNN Nasional) Dalam cuitannya, Said Didu juga menegaskan bahwa BUMN itu Badan Usaha Milik Negara bukan Milik Penguasa. 

Demokrasi, demos dan cratos. Itulah pengertian yang acap kali dijelaskan kebanyakan orang. Gambaran tentang sebuah sistem kehidupan yang diliputi kepuasan sebab adanya kebebasan. Bebas dalam berpendapat, bebas kepemilikan, kebebasan berkumpul dan berserikat, serta bebas bertingkah laku. Sehingga muncullah persepsi bahwa demokrasi dengan kebebasannya dianggap sebagai sistem terbaik bagi sebuah negeri.

Sayangnya, peristiwa yang dialami Said Didu, seolah melemahkan keberadaan demokrasi sebagai sistem terbaik dalam sebuah negeri. Keberadaannya menambah keraguan masyarakat, karena kebebasan dalam demokrasi hanya berlaku bagi penguasa, tidak bagi rakyat jelata.  Itulah mirisnya sebuah ide kebebasan, selalu diagungkan, padahal faktanya kebebasan tak akan pernah ada. Karena hakikatnya, kebebasan seseorang akan selalu dibenturkan dengan kebebasan yang lainnya. 


Begitu pula ungkap  John F Kennedy, yang mengatakan bahwa hak setiap orang berkurang ketika hak orang lain terancam. Lalu, di manakah letak kebebasan itu? Katanya, demokrasi menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Lalu mengapa banyak suara seolah tenggelam. Mereka membuat narasi seolah paling demokratis, padahal nyatanya, mereka tempuh cara-cara tidak demokratis untuk mewujudkan demokrasi.

Neoimperialisme, sejenis penjajahan gaya baru. Dan paham demokrasi salah satunya. Yang membuat masyarakat lupa akan aturan agamanya. Mengesampingkan perintah Tuhannya, dan mengedepankan akal manusia. Akal memang perlu dioptimalkan perannya, namun tidak untuk meninggalkan aturan penciptanya. 

Mungkin tak sebengis Zionis Israel yang membantai Palestina. Tak sekejam Komunis China yang memaksa Muslim Uiygur tuk meninggalkan keyakinannya. Namun sadarkah kita? Gaya penjajahan di negeri kita jauh lebih berbahaya dari itu! mereka menjajah tanpa membuat kita menyadari keberadaan penjajahan itu.  Bukan dengan fisik, melainkan dengan ide dan pemikiran yang perlahan masuk dalam jiwa masyarakat. Melalui berbagai hiburan, pakaian, hingga makanan. Masyarakat dibentuk agar menjadikan peradaban barat seolah begitu mengagumkan. Dan justru sebaliknya, agama dibuat menjadi hal tabu yang tak lagi dianggap penting. 

Walhasil, sebagian orang menjadikan Islam sekedar hanya ibadah saja. Bukan sebagai pengatur hidupnya. Sedang mereka yang mencoba taat, dihujam dengan tuduhan teroris, radikalis, dan bahkan intoleran. Inikah yang dinamakan demokrasi? Yang katanya bebas, namun tidak memberikan kebebasan bagi umat Islam menentukan pilihan untuk taat pada aturan penciptanya? Harusnya, mereka yang patut dipertanyakan, mereka yang katanya mengaku demokratis, namun nyatanya tak membiarkan orang lain hidup dengan pilihannya. 

Peristiwa Said Didu yang dipecat dari jabatannya, juga seolah menuai tanya. Kepada siapakah penguasa berpihak? Pada rakyat atau pada asing dan aseng? Alasan di balik pemecatan Said Didu seolah mengabarkan keberpihakan oknum pada asing. Dan tentunya, keberpihakannya pada asing tidak hanya menguntungkan bagi asing, namun juga bagi oknum tersebut. Bisa dikatakan semacam take and give. 

Memahami kebebasan sebagai sesuatu yang tanpa batas adalah kekeliruan fatal. Semua orang mencari kebebasan, sedang kebebasan itu sendiri tak pernah didapatkan. Walhasil semua berujung kecewa. Itulah akibat jika kita berharap pada yang fana.

Sistem saat ini, memperlakukan tamu bak pemilik rumah. Sedang pemilik rumah  menjadi pembantu di rumah sendiri. Tegakah seorang ibu membiarkan anak-anaknya menjadi seorang pembantu di rumahnya? Tentu tidak. Bahkan seorang ibu rela bekerja dan bangun tengah malam agar anaknya tak merasa kesepian. Begitulah harusnya hubungan penguasa dengan rakyatnya, tak akan membiarkan rakyat menderita. Bahkan siap menderita demi kesejahteraan rakyat. Namun sayang, itu hanya ilusi semata, karena faktanya, rakyat hanya dijadikan alat untuk meraih slogan demokrasi. Yang katanya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, nyatanya hanya embel-embel untuk melancarkan kepentingan oknum penguasa. 

Berbicara tentang Islam, keberadaannya tak hanya memberikan rahmat bagi umat muslim saja, melainkan bagi seluruh alam. Dengan catatan, penerapannya secara menyeluruh dan lengkap dalam segala lini kehidupan. Di masa Khalifah Umar Bin Khattab, perekonomian negara mengalami kondisi yang memprihatinkan. Bahkan banyak orang yang murtad, kekacauan banyak terjadi di manapun. Dan Umar memilih untuk memakan gandum, sampai tiba waktunya perekonomian membaik. Ia melarang dirinya memakan daging, padahal diceritakan kala itu seorang pelayan membawakannya daging. Namun ia meminta agar daging itu dibagikan pada penduduknya. Hingga saat perekonomian membaik, barulah Umar mulai makan makanan yang lain. 

Bagaimana bisa seorang pemimpin mengerti penderitaan rakyatnya, saat ia belum merasakan penderitaan rakyatnya. Jika rakyatku lapar, maka aku harus merasa jauh lebih lapar dari rakyatku. Jika rakyatku menderita maka aku harus lebih menderita darinya. Inilah mental pemimpin yang kita rindukan. Sosok pemimpin yang benar-benar memperhatikan dan memikirkan kondisi umatnya. Dan sosok pemimpin itu, dirindukan oleh umat saat ini. 

Gambaran keberadaan sistem Islam sudah selayaknya kita jadikan pembelajaran. Bahwa faktanya umat manusia pernah berjaya kala Islam jadi sistem hidupnya. Lalu, mengapa kita tidak lakukan hal yang sama, menerapkan Islam lagi, agar kejayaan mampu diraih kembali. Wallahu 'alam.

*Mahasiswi Pendidikan Sejarah, FKIP ULM


Editor Lulu


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.