Pemimpin Ingkar Janji, Produk Demokrasi

Hot News

Hotline

Pemimpin Ingkar Janji, Produk Demokrasi




Oleh : Arinal Haq*

Dapurpena.com - Tahun 2019 adalah tahun politik. Pagelaran debat pertama capres-cawapres telah diadakan. Seluruh rakyat Indonesia turut menyaksikan kegiatan tersebut, mulai dari yang menonton di tempat kegiatan, stasiun televisi bahkan live streaming. Tingginya perhatian rakyat tersebut menunjukkan bahwa rakyat tidak bodoh kepada siapa mereka akan menjatuhkan pilihan. Rakyat memiliki harapan yang begitu besar untuk Indonesia agar menjadi lebih baik. 

Perlu disadari juga oleh rakyat bahwa kepedulian terhadap rezim saat ini juga harus dilakukan. Refleksi selama lima tahun terakhir dengan mengamati kebijakan rezim apakah benar-benar menjadikan Indonesia lebih baik atau semakin terpuruk adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh rakyat sehingga pada kepemimpinan selanjutnya Indonesia benar-benar menjadi lebih baik. Jangankan rezim saat ini saja, berkaca dengan rezim-rezim sebelumya ternyata perubahan baik Indonesia jauh dari harapan.

Seperti yang masih tersimpan dalam benak memori rakyat kala kampanye 2014, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo menyatakan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) secara tegas akan menolak penambahan utang luar negeri baru apabila terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) di periode 2014-2019. Hal ini tertuang dalam visi misi Jokowi-JK (Liputan6.com, 3/6/14). 

Rakyat yang saat itu tengah was-was atas utang Indonesia merasa bahagia karena ada capres-cawapres yang memiliki visi untuk stop utang luar negeri. Akan tetapi yang terjadi, ketika jabatan tersebut telah diperoleh hingga kepemimpinannya akan berakhir, utang Indonesia semakin lama semakin mencekik leher.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2018 sebesar USD 372,9 miliar atau setara Rp 5.258 triliun (USD 1=Rp 14.101), rasio utang tersebut 34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kementerian keuangan menyatakan, "Apabila kita bandingkan dalam kurun waktu 2012-2014 dan 2015-2017, utang pemerintah bertambah dari Rp 609,5 triliun menjadi Rp 1.166 triliun yang mengalami kenaikan sebesar 191 persen," demikian dikutip dari laman kemenkeu.go.id, Jakarta. (Liputan6.com, 17/1/19)

Tidak hanya tentang utang luar negeri, impor bahan pangan, sepuluh juta lapangan pekerjaan, dana desa, Indosat, dan yang lainnya adalah bukti bahwa rezim saat ini adalah rezim neolib ingkar janji. Pembangunan infrastruktur yang ada hanya semakin memfasilitasi mereka yang memiliki finansial lebih. Lapangan pekerjaan yang ada malah terbuka lebar untuk TKA yang dikirim oleh negaranya. Rakyat sama sekali seperti tidak terurus.

Inilah yang terjadi tatkala sistem yang diterapkan adalah demokrasi-sekularisme. Sebaik-baik manusia ketika masuk dalam sistem ini akan hanyut dalam permainan yang telah dikendalikan. Dengan diterapkannya sistem ini pula lahirlah para pemimpin yang miskin idealisme dan tanggungjawab. Rentetan janji dan kebijakan yang dikeluarkan oleh para pemimpin negeri ini ketika kampanye maupun telah menjabat kursi kekuasaan menjelaskan bahwa keduanya tak bisa berjalan bersisian dikarenakan terbentur oleh kepentingan para kapital.

Lain halnya dengan Islam, Islam menggariskan bahwa sosok pemimpin (Kholifah) harus memiliki kepribadian Islam yang kuat. Berfikir Islami dan bertindak dalam koridor syariah Islam. Berperilaku sebagai pimpinan, negarawan handal, berani dan cerdas. Kesadaran ruhiyahnya tinggi, sangat takut dengan hisab hari akhir nanti. Karenanya ia tidak akan egois, rakus dan zalim apalagi ingkar janji.

Ia akan menjalankan amanahnya dengan tepat dan benar. Menyayangi rakyat dan mengutamakan mereka, tidak menebar teror, pemberi kabar gembira dan memudahkan urusan rakyatnya. Visi dan misi dalam kepemimpinannya jelas berdasarkan sumber hukum Islam, Alquran dan Hadits. Pemimpin seperti inilah yang benar-benar dapat menjadi raain (pelayan) dan junnah (perisai) yang rakyatnya. Sosok pemimpin tersebut hanya ada dalam institusi Khilafah yang menjalankan syariat Islam secara sempurna sehingga dapat terwujudlah baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Wallahu a'lam.


*Aktivis Mahasiswa Sidoarjo
Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.