Penderitaan Uighur, Bukti Urgensi Penegakan Khilafah

Hot News

Hotline

Penderitaan Uighur, Bukti Urgensi Penegakan Khilafah


Akhir-akhir ini kabar soal Muslim Uighur yang mengalami penderitaan dan kenestapaan kembali beredar di media-media baik internasional maupun nasional. Kabar-kabar yang mencuat terutama terkait dengan dugaan pelanggaran HAM yang secara massif dilakukan oleh pemerintah RRC terhadap umat muslim Uighur.


Dilansir dari www.islampos.com (19/12/2018), bahkan sejak 2017 Cina telah menahan setidaknya 800 ribu hingga lebih dari dua juta muslim Uighur di “kamp pendidikan ulang”. Awalnya pemerintah Cina menyangkal adanya kamp ini namun akhirnya mereka mengaku bahwa kamp ini adalah tempat pelatihan kejuruan, pendidikan untuk “mengurangi ekstrimisme”.


Seorang aktivis Uighur bernama Ilshat Hassan dan presiden Asosiasi Amerika Uighur juga dipaksa meninggalkan Cina tahun 2003 dan berpisah dengan keluarganya.
“Mereka (polisi) menggunakan listrik, tongkat, dan mereka menyetrum saya dua kali ketika saya diinterogasi,” kenang Hassan.


Betapa mirisnya, dengan adanya penderitaan muslim Uighur yang kabar pemberitaannya mencuat di mana-mana, Indonesia tidak cukup vokal dalam mengecam Negeri Tirai Bambu tersebut. Satu hal yang mengganjal adalah kedekatan pemerintah Indonesia dengan Cina , salah satunya karena kerja sama ekonomi terutama modal dari Beijing yang tertanam cukup besar di tanah air.


Dilansir dari news.okezone.com (21/12/2018), pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Agung Nurwijoyo mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia dinilai memiliki posisi yang kuat untuk mendorong pemerintah Cina untuk membuka informasi terkait apa yang menimpa muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.  Indonesia juga merupakan negara muslim terbesar di dunia serta menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.


"Indonesia punya peranan yang signifikan, karena Indonesia punya hubungan baik dengan China. Nah ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk berkomunikasi dengan China untuk membuka akses informasi terhadap orang Uighur dan itu akan menghapus kecurigaan global atas kasus Uighur," jelas Agung.


"Saya pikir Indonesia bisa mendorong di situ untuk membuka akses informasi tentang apa yang terjadi di China dan ini jadi pintu masuk Indonesia bermain dalam di level diplomasi global," terangnya lagi. Namun sayangnya hingga kini masih belum ada kepastian resmi terkait sikap pemerintah atas masalah ini.


"Kayaknya pemerintah masih wait and see, karena rata-rata negara-negara Islam di dunia belum banyak bersuara," ujarnya.
Menurut pengamatan Agung, Indonesia akan mengambil langkah soft diplomacy untuk menghindari balasan dari pemerintah Cina yang bisa saja justru akan merugikan ekonomi Indonesia. Hal ini didasari atas besarnya investasi seperti pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari China pada periode Januari-September 2018 mencapai USD1,8 miliar.


"Mungkin saja akan diembargo. Secara global, ketergantungan terhadap China besar. Bukan hanya negara-negara Islam, tapi Afrika sendiri tergantung pada China. Jadi di luar masalah kemanusiaan, kalkulasi politik menjadi pertimbangan untuk memberi respons. Karena pernyataan apapun kan pernyataan politik," ungkapnya.


"Sementara respons keras pasti akan memberikan feed back balik. Karena China tidak mau dicampuri urusan dalam negerinya. Meski kemanusiaan urusan semua pihak, tapi China tidak begitu," kata Agung.



Dari komentar pengamat hubungan internasional di atas bisa disimpulkan bahwa Indonesia saat ini sedang dalam posisi yang serba salah. Ingin membantu Muslim Uighur, namun juga takut akan balasan dari pemerintah Cina. Apabila tidak membantu, Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia yang seharusnya lebih lantang dalam menyikapi persoalan tersebut.



Dari sinilah kita selayaknya menyadari bahwa sistem sekularisme yang menghasilkan paham liberalisme sangatlah berbahaya. Ketika aturan Islam yang sudah sangat lengkap diturunkan untuk mengatur segala aspek kehidupan tidak diterapkan, maka beginilah hasilnya. Kita akan bergantung pada investasi-investasi asing yang secara tidak langsung merupakan bentuk penjajahan karena kita tidak bisa melakukan hal apapun pada penanam modal tersebut meskipun  mereka melakukan hal-hal yang tak kita setujui.



Maka permasalahan penderitaan uighur semakin menekankan betapa urgennya penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Karena hanya khilafahlah yang mampu menyelamatkan saudara-saudara kita yang teraniaya dengan tindakan tegas mengirimkan pasukan jihad yang akan menyelamatkan jiwa dan harta setiap kaum muslimin.



Kembalikan aturan Allah Swt Yang Maha Sempurna untuk menyelesaikan berbagai masalah mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan bahkan hubungan internasional. Tidak mungkin sistem yang ada pada syariat Islam akan merusak manusia atau mengandung kesalahan, namun sistem buatan Allah Swt ini justru yang paling lengkap, membawa kedamaian dan menjamin perlindungan seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Wallahu ‘alam.



Penulis: Lia Destia
Penulis adalah Penulis dan Mahasiswi asal Sidoarjo




Editor                   : Lulu

Sumber Ilustrasi  : Pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.