Perempuan Dalam Kubangan Kapitalisme

Hot News

Hotline

Perempuan Dalam Kubangan Kapitalisme


Oleh : Dewi Afrilia*
Dapurpena.com - Prostitusi sudah tidak asing lagi kita dengar, baik di media massa, televisi, maupun publikasi penelitian resmi yang terkait dengan prostitusi. Mayoritas dilakukan oleh kaum wanita, baik itu pelajar, mahasiswa, masyarakat umum bahkan para artis. Baru-baru ini masyarakat dihebohkan tentang berita prostitusi yang melibatkan dua artis ibukota di Surabaya.

Seperti yang dilansir oleh republika.co.id Surabaya (19/10/19). Bahwa Subdit VCyber Crime DistresKrimsus Polda Jawa Timur menetapkan dua orang tersangka dalam kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Kedua orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah mucikari yang berasal dari Jakarta Selatan berinisial TN (28) dan ES (37).

Direktur kriminal khusus Polda Jatim Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan mengungkapkan, kedua tersangka biasa, melalui akun Instagramnya, terkait jasa layanan prostitusi. Yusep pun menduga, banyak artis dan selebgram yang terlibat dalam prostitusi online tersebut.

“ masih dalam pendalaman(terkait jumlah artis yang terlibat prostitusi online). Untuk (artis) yang terkait di dalam cukup banyak Nanti kita sampaikan lebih lanjut.” Kata Yusep ditemui di Mapolda Jatim, Surabaya, Ahad (6/1).

Subdit VCyber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur mengungkapkan kasus prostitusi online yang melibatkan dua artis ibukota di Surabaya pada Sabtu (5/1). Dalam kasus tersebut polisi mengamankan 5 orang yang terdiri dari artis berinisial VA dan foto model berinisial AS,1 asisten dan 2 mucikari.

Artis VA tersebut diperkirakan mendapat bayaran Rp.80 juta dari pelayanan yang diberikan kepada pelanggannya. Inisial AS disebut-sebut mendapatkan bayaran Rp.25 juta untuk sekali kencan.

Prostitusi online ini menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan bagi beberapa pihak. Dengan tarif yang mahal menjadikan setiap orang terjerat di dalamnya. Bagaimana tidak? Berbagai faktor tekanan gaya hidup hedonis menjadi alasan untuk melakukan apa saja agar terpenuhi kebutuhan, termasuk melakukan perbuatan zina.

Padahal Allah telah melarang tindakan dan perbuatan yang bisa mendekatkan seseorang pada perzinahan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”.

Ini menjadi bukti gagalnya sistem hari ini. Sistem yang berlandaskan pada akidah pemisahan agama dari kehidupan ini, yang menganggap bahwa manusia diciptakan oleh Allah tanpa disertai aturan, sehingga manusialah yang membuat aturan tersebut. Segala cara dilakukan termasuk aturan dalam mencari materi dan kepuasan diri tak peduli halal dan haram.

Sistem demokrasi, pengagum kebebasan yang tak pernah serius menyelesaikan masalah ini.  Justru membiarkan tumbuh subur selama masih ada yang menikmati, sekalipun ini bisa memunculkan kerusakan moral secara masif. Umat harus berhenti berharap pada sistem demokrasi untuk menyelesaikan segala problem kemaksiatan.

Islam memiliki solusi tuntas dalam menghilangkan kemaksiatan, yakni ada 5 jalur penyelesaian yang dalam pelaksanaannya simultan. Di antaranya jalur hukum,  ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik.

Dari aspek hukum, dibutuhkan negara yang tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi yang telah berbuat zina. Tidak hanya para mucikarinya tapi juga para pelaku prostitusi (PSK dan lelaki hidung belang). Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk lalu diasingkan selama 1 tahun. Jika di dunia ia tidak sempat mendapat hukuman tadi, maka dia disiksa di neraka.

Dari aspek ekonomi, negara harus mewujudkan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat. Termasuk penyediaan lapangan pekerjaan. Sehingga alasan nafkah tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi. Dalam aspek pendidikan, negara juga mewajibkan menjamin pendidikan untuk memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada warganya.

Aspek sosial, pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini adalah pembentukan lingkungan sosial agar masyarakat tidak permisif terhadap kemaksiatan sehingga pelaku prostitusi akan mendapat sanksi dan kontrol dari lingkungan sekitar.

Dan yang terakhir dari aspek politik penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait dengan pelacuran.

Dan semua solusi tadi bisa teratasi apabila negara kita menerapkan sistem Islam secara kaffah yang bersumber dari Alquran dan As-Sunah, dalam naungan Khilafah, yang akan mampu membentengi rakyatnya dan menutup segala celah pintu-pintu kemaksiatan. Wallahu A’lam Bishawab.

*Dewi Afrillia Pemerhati Remaja Konawe Selatan Sulawesi Tenggara

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.