Perempuan Shalihah Itu Belajar Politik Islam

Hot News

Hotline

Perempuan Shalihah Itu Belajar Politik Islam


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih*


" Bu, kata suami saya, kalau ikut kajian yang biasa-biasa saja. Gak ngomongin politik, gak ngomongin negara", begitu penjelasan ibu muda berputera dua ini kepada saya. Duduknya tak jenak, pertanda hatinya tak tenang. Sekejap kemudian air matanya meleleh di pipi. Sambil terisak dan berusaha mengusap air matanya yang bertambah deras dengan tisu ibu itu menjelaskan bahwa sebenarnya masih pengen ngaji. Pengen dapat ilmu yang beda dari ngaji-ngaji sebelumnya. Tapi suami sudah terlanjut bete. Alasannya koq ngajinya ini on time dan tidak boleh kosong dalam seminggu barang sehari. 

Ya sudahlah. Cooling down dululah dengan suami. Padahal jika sudah terkontaminasi dengan kajian yang ini pengennya malah setiap hari ngaji. Tapi kembali, sudahlah, bangunlah komunikasi yang produktif atau yang mampu menyelesaikan persoalan dulu dengan suami. Bukan komunikasi yang hanya membangun cerita, buka-bukaan, tanpa rahasia di antara kita. Dan hanya memunculkan sikap ambiguitas. 

Ngaji biasa-biasa saja menjadi legitimasi para suami kepada istri-istrinya. Padahal Allah memberikan kewajiban yang sama kepada pria dan wanita di hadapan syara. Dan menjadi pendapat umum juga  di masyarakat bahwa yang namanya pengajian biasa-biasa saja  itu baca tulis  Alquran, menafsirkan dan menterjemahkan.  Dan sejenisnya. Bukan ngomongin politik. Saking umumnya hingga bertebaran di manapun komunitas pengajian. Tumbuh beruntun bak tumbuhnya jamur di musim penghujan. Jamaah yang datang selalu di atas target.  Dari tingkatan RT hingga sosial perlente. Dari komunitas alumni hingga mak-mak masa kini. Semua mengacu kepada pemahaman yang sama. Dan mencukupkan hanya pada kegiatan tersebut.

 Mereka yang gak ngaji, apalagi kalau yang ngajinya tidak di komunitas mereka dianggap di luar jalur. Mereka beranggapan hidup mereka sudah sempurna. Menjadi istri yang shalihah plus kenyamanan hidup mudah beribadah. Kajian jalan, rihlah gak peduli tuslah, namun tabaruj tetap lanjut. Tapi tahukah? Sikap yang demikian justru menunjukkan keberhasilan arah pandang  sekularisme mengubah   arah pandang mereka sebagai muslimah terhadap kehidupan . Tanpa sadar mereka telah memutilasi Islam menjadi bagian-bagian kecil. Islam hanya berputar pada kehidupan mereka sebagai istri dan ibu bagi anak-anak mereka. Menjadi istri shalihah terus apalagi? untuk apa upaya hijrah jika hanya berlingkup pada dirinya? Tanpa pernah berusaha meluaskan pandangan masih banyak perempuan lain yang lebih parah deritanya. Yah, misi keumatannya hilang. Padahal hampir 99 persen persoalan hari ini bukan karena wanita yang ndak ngaji atau ngaji. Tapi ngaji apa? karena di negeri ini ada kasus salah urus masalah wanita.

Tahukah juga bahwa fardu kifayah lebih banyak dari fardu ain, demikian Allah mengatur bagi manusia. Mengapa? Karena fardu ain setiap manusia insyaallah mampu menegakkannya. Namun fardu kifayah, belum tentu mampu ditunaikan secara individual. Contoh soal, Allah mewajibkan perempuan menutup aurat. Namun kewajiban ini sulit dipenuhi, karena definisi memutup auratnya beda. Lowongan pekerjaan lebih memilih perempuan tak berjilbab. Tren fashion lebih fokus ke tabaruj meskipun statusnya syar'i. Kalau mau salat di tempat-tempat umum, jarang ada pengusaha atau instansi yang menyediakan tempat berwudhu yang syari. Tidak bercampur baur. Bukankah kesulitan-kesulitan itu berawal dari sebuah kebijakan penguasa? sehingga fardu khifayah tidak bisa mendukung fardu ain.

Bahas  keluarga samawa, jika solusi hanya berhenti pada perbaikan individu maka itu justru akan menimbulkan masalah yang baru. Mengingat hari ini beban keluarga tidak ringan. Harga barang kebutuhan pokok mahal, keamanan riskan, pendidikan mahal, pergaulan sosial liberal dan lain sebagainya. Apalah yang bisa diusahakan sebuah keluarga? karena semua itu berhubungan dengan kebijakan negara. Demikian pula dengan persoalan-persoalan yang lainnya. Pertengkaran dalam keluarga tak terelakkan, terlebih ketika perempuan didorong untuk berkiprah secara ekonomi dalam ruang publik. Semua karena kebijakan penguasa, maka istri salihah saja tidak cukup. Mereka juga harus melek politik.

Umat  butuh negara yang mampu mengayomi, butuh politik yang sahih di mana politik diartikan sebagai pengurusan urusan umat. Inilah yang dikehendaki oleh kaum kuffar dalam menghancurkan Islam. Agama hanya dipelajari sebagai nilai kebaikan bukan politik yang yang harus diterapkan. Padahal telah jelas-jelas Allah berfirman dalam surat Al Maidah : 48, yang artinya:
Dan Kami telah menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.

       Adalah mudah bagi Allah untuk menjadikan kita satu umat yang beriman dan berbakti kepadaNya sepanjang waktu. Namun Allah tidak memilih itu, Allah ingin yang lebih memiliki daya saing karena kelak yang muncul darinya adalah hamba yang terbaik. Maka alangkah meruginya kita jika ngaji hanya untuk menyelesaikan persoalan pribadi. Padahal persoalan tidak melulu karena pribadi. Dan alangkah meruginya kita jika menolak belajar politik Islam padahal kita tak bisa bahagia hakiki hari ini karena menjauhinya. Politik kita disetir kaum kufar. Naudzubillah. Saatnyalah hari ini mengubah mind set berpikir, bahwa jangan ambil Islam sebagian. Melainkan harus kaffah. Karena jika kita anti maka bersiap-siaplah keburukan yang akan menimpa kita. Wallahu a'lam biashowab.


*Anggota Revowriter Sidoarjo


Editor Lulu




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.