Radikal Dalam Ketaatan

Hot News

Hotline

Radikal Dalam Ketaatan


Dapurpena.com - Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor [GP Ansor] Yaqut Cholil Qoumas mengatakan ada kelompok radikal yang berhubungan dengan salah satu kandidat peserta Pemilihan Presiden 2019. Hal ini ia sampaikan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Mereka bukan merusak Pemilu namun mereka menginduk pada salah satu kontestan pemilu untuk memasukkan agenda-agenda mereka," katanya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan,Tempo.com (11/1/2019).

Muncul kembali istilah radikal. Kali ini yang menyerukan adalah salah satu ketua ormas terkemuka di Indonesia. Masih sama seperti yang lalu, istilah radikal diaruskan terhadap sesuatu yang buruk, dan media menggencarkan istilah ini. Sehingga yang nampak adalah berita-berita bohong dan ketakutan-ketakutan yang tidak mendasar pada masyarakat. Hal ini tersebab, radikal dikamuflasekan terhadap sesuatu yang negatif.

Jika ditinjau dari asal katanya dalam  bahasa latin, radikal diistilahkan dari kata radix, yang maknanya adalah akar. Sedangkan dalam kamus KBBI adalah, segala sesuatu yang bersifat mendasar sampai ke akar-akarnya atau pada sampai tataran prinsip. Sedangkan dalam pandangan politik, sangat keras menuntut perubahan undang-undang dan pemerintahan.

Dunia kesehatan juga menggunakan istilah radikal. Contohnya begini: Pendekatan Radikal Kedokteran, Gunakan Aliran Listrik sebagai Obat. Dunia pengobatan semakin radikal, dan salah satu pendekatan baru yang radikal untuk mengobati penyakit adalah dengan menggunakan aliran listrik. 

Mengapa listrik? Nah, semua yang kita lakukan, mulai dari berjalan hingga bermimpi, dikendalikan atau diatur oleh sinyal-sinyal listrik. Sinyal-sinyal ini berjalan melalui sistem saraf dan mereka menyampaikan informasi dan membantu kita membuat keputusan yang rumit. Pusat aktivitas listrik ada di otak, dan dari sana saraf bercabang ke seluruh bagian tubuh, Kompas.com (15/12/'18).

Lalu, benarkah radikal selalu dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat keras, ekstrim, melanggar norma dan sosial, ngebom dan sebagainya. Tentu saja, jika sesuatu yang bersifat tidak memihak atau netral, dan dikonotasikan kepada sesuatu yang buruk pasti akan menghasilkan hal-hal yang negatif.

Sesunggguhnya radikal adalah, sesuatu yang bersifat positif yang berpijak pada sebuah prinsip dan menunjukkan pada sesuatu yang berpegang teguh pada prinsip kebenaran. Jika makna radikal seperti dalam kamus KBBI yang menuntut adanya perubahan undang-undang dan pemerintahan, apakah sesuatu yang menakutkan? 

Sementara yang dituntut umat adalah kondisi sejahtera yang semestinya mereka dapatkan melalui pengaturan yang baik. Sedangkan pengaturan umat yang paling sahih dan terbukti bertahan selama lebih dari 13 abad adalah pengaturan seperti yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasul.

Jadi, apakah menuntut sesuatu yang sifatnya merubah masyarakat untuk mendidiknya agar menjadi hamba yang bertakwa adalah suatu kesalahan dan dimaknai radikal? Bukankah setiap muslim dituntut untuk menjalankan perintah Allah dengan seluruh ketundukan. 

Dan hal ini pun sesuai dengan pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan seterusnya. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Jadi, apakah menuntut sesuatu yang sifatnya merubah masyarakat untuk mendidiknya agar menjadi hamba yang bertakwa adalah suatu kesalahan dan dimaknai radikal? Bukankah setiap muslim dituntut untuk menjalankan perintah Allah dengan seluruh ketundukan. Danmenjadi manusia terdidik dijamin di negeri ini?

Dalam negara penganut sistem demokrasi menjadikan Allah sebagai zat yang wajib disembah secara sempurna adalah sesuatu yang mustahil. Oleh sebab itu tanggalkan demokrasi, kembali ke Islam.

Allah SWT berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, baik individu dan masyarakatnya. Bahkan negara berkewajiban sebagai regulator dalam  perintah Allah tersebut. Karena semua makluk terbebani perintah ini. Lalu, untuk apa kita berpaling. Wallahu'alam bissawab

Penulis :  Puji Ariyanti 
Penulis adalah Seorang penulis Muslimah Sidoarjo




Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.