Rezim Anti Kritik

Hot News

Hotline

Rezim Anti Kritik


Sarinah Aulia



Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kabar pemecatan dari M. Said Didu sebagai Komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Alasan pemberhentian Said Didu diketahui karena tidak sejalan dengan pemilik saham Dwi Warna, dalam hal ini Menteri BUMN (tribunnews.com, 29/12/2018). Alasan pemberhentian tersebut juga dibenarkan oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno. Ia mengatakan, Said Didu diberhentikan karena pemikirannya tak mencerminkan kepentingan pemerintah sebagai pemegang saham (eramuslim 31/12/2018).

Pemecatan Said Didu secara tiba-tiba ini menuai perhatian dari sejumlah tokoh, mulai dari Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dan Fahri Hamzah, hingga pakar ekonomi, Rizal Ramli. Kepada para tokoh politik tersebut, Said Mengatakan dirinya akan tetap menegakkan kebenaran (tribunsolo.com, 29/12/2018).

Kasus pemecatan yang didasari alasan tidak sejalan dengan pemegang saham dan juga pemerintah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Di manapun, seseorang diberhentikan dari pekerjaannya dikarenakan  tidak berkinerja dan tidak professional. Namun yang terjadi saat ini orang lain ingin menyampaikan pendapatnya untuk kebaikan negeri malah dipecat secara tiba-tiba. Dimana demokrasi yang selalu digaungkan? Jika kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan mengkritik adalah sesuatu yang salah dan diberi sanksi pemecatan. 

Pemecatan M. Said Didu dari posisi komisaris PT Bukit Asam Tbk menunjukkan bahwa rezim saat ini anti kritik. Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Syafti Hidayat mengatakan, jika benar Said Didu dipecat atas dasar “tidak sejalan” dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini divestasi saham PT Freeport Indonesia, maka itu merupakan sesuatu yang sangat tidak etis. “Tidak etis, ini menunjukkan rezim ini anti kritik” ujar Syafti Hidayat (rmol.co, 29/12/2018).

Sependapat dengan perkataan dari Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi, bahwa rezim saat ini memang anti kritik. Penguasa saat ini membungkam semua kritik yang disampaikan oleh rakyatnya sendiri. Jika ada yang berani mengkritik penguasa saat ini, maka harus siap dengan sanksi maupun hukuman walapun nyatanya kritik tersebut untuk perbaikan negeri.

Kebebasan menyampaikan pendapat dalam  sistem demokrasi yang dijalankan oleh negeri ini tidak berlaku lagi. Demokrasi hanya topeng di balik sebuah penjajahan secara halus oleh asing.

Hal tersebut sangat jauh berbeda ketika sistem islam diterapkan, rakyat boleh mengkritik dan menegur penguasa bahkan boleh ditujukan langsung kepada khalifah yang memimpin sehingga penguasa dapat memperbaiki diri  dari kebijakan yang diambilnya untuk ditinjau ulang. Apakah sudah sesuai dengan Islam atau tidak.

Namun sistem saat ini, ketika bukan Islam yang diterapkan, rakyat tidak diperbolehkan menyampaikan pendapatnya walaupun itu untuk kebaikan negeri. Penguasa saat ini lebih setia kepada asing dan lalai terhadap janjinya kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam ekonomi kapitalisme yang dianut oleh negeri ini, asing diberikan hak untuk menguasai sumber daya alam. Sehingga wajar jika saat ini mereka banyak menguasi kekayaan negeri ini hingga ke penguasanya. Hal ini tentu mengharuskan penguasa tunduk dan patuh terhadap perintah asing walaupun harus menzalimi masyarakat yang dipimpinnya.

Adapun sistem ekonomi Islam melarang memberikan pengelolaan sumber daya alam kepada asing dan swasta. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Manusia berserikat dalam tiga hal : air, padang (tanah), dan api.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Baihaqi). Berarti hal ini menunjukan bahwa sumber daya alam itu adalah milik umat dan penguasanya harus mengelola sumber daya alam tersebut untuk umat bukan untuk asing.

Kini sudah saatnya kita sadar, bahwa sistem saat ini tidak layak lagi untuk digunakan. Sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang lebih baik dan membawa berkah untuk bumi serta penghuninya. Karena bumi ini milik Allah, tentu kita tahu bahwa untuk mengelola bumi ini juga harus bersumber dari Allah yaitu Alquran dan As-sunah. Jadi sudah selayaknya kita berjuang untuk mendakwahkannya agar kebangkitan dan janji Allah itu dapat terwujud.
Wallahu’alam.

Sarinah Aulia, Mahasiswi FISIP ULM Banjarmasin)

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.