“Rumitnya” Divestasi, Bukti Sulitnya Lepas dari Asing

Hot News

Hotline

“Rumitnya” Divestasi, Bukti Sulitnya Lepas dari Asing


Oleh: Endang Setyowati




Belum lama ini Presiden Jokowi menyebut bahwa saham freeport 51 persen sudah lunas dibayar. Hal tersebut disampaikan Jokowi setelah dirinya memanggil jajaran menteri terkait, Direktur Inalum Budi Gunadi Sadikin, dan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/12/2018), Dilansir dari Tribunjateng.com (22/12/2018)

Pada media yang sama wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menanggapi bahwa divestasi 51 persen Freeport oleh Indonesia adalah hasil utang. Hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter Fahri Hamzah @Fahrihamzah yang ia tulis pada Jumat (21/12/18). Fahri menyebut bahwa divestasi 51 persen adalah hasil utang, menurutnya tidak layak jika menyebut bahwa hal tersebut dibayar lunas.

Divestasi saham adalah sebuah upaya untuk mengurangi kepemilikan saham sebuah perusahaan dengan jalan menjual saham tersebut pada pihak lain. Pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) memiliki 9,36%, PT Indocover Investama sebanyak 9,36% dan Freeport MC Moran Inc (FCX) sebanyak 81,28%.

Dari data yang diterima detikFinance seperti dikutip Jumat (21/12/2018), saham Inalum di PTFI saat ini 9,36%. Untuk menaikkan kepemilikan menjadi 51,23% dibutuhkan dana sebesar US$ 3,85 miliar atau setara Rp 54 triliun.

Untuk diketahui, nilai US$ 3,85 miliar tersebut berdasarkan hasil negosiasi Inalum, dengan Freeport McMoRan (FCX) dan Rio Tinto. Angka itu juga lebih rendah dibanding dari nilai yang pernah diajukan FCX ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar US$ 12,15 miliar, surat Menteri ESDM ke FCX US$ 4,5 miliar, dan hasil valuasi Morgan Stanley US$ 4,67 miliar.

Untuk mengambil saham PTFI, Inalum menerbitkan surat utang global sebanyak US$ 4 miliar. Di mana, sebanyak US$ 3,85 miliar digunakan untuk membeli saham dan US$ 150 juta untuk refinancing.

Sebelum kasus divestasi muncul, terjadi juga polemik terkait tunggakan pajak PT Freeport. Selain itu sejak tahun 2011 tidak lagi membayar deviden kepada negara. Setelah ditagih baru membayarkan deviden kepada pemerintah pada tahun 2017 lalu. Itupun hanya sebesar Rp 1,4 triliun. Jadi selama 5 tahun PT Freeport tidak membayarkan deviden.


Dalam pandangan Islam, walaupun berdasarkan fakta divestasi saham tersebut pemerintah sudah memiliki 51% tetap di pandang batil. Sebab tambang yang di kelola PT Freeport tersebut adalah milik umum yang seharusnya dimiliki oleh pemerintah sebagai wakil rakyat.

Rasulullah menjelaskan mengenai sifat kepemilikan umum:
Kaum muslim bersekutu (dalam kepemilikan) atas tiga hal: yaitu air, padang rumput dan api.
(HR. Al Bukhari).
Di dalam Islam kepemilikan atas barang dan jasa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. Milik individu
2. Milik umum
3. Milik negara

Tambang emas yang di kelola PT FI merupakan tambang terbesar di dunia dengan nilai cadangan mencapai US$ 42 miliar. Ditambah dengan cadangan tembaga senilai US$ 116 miliar dan perak senilai US$ 2,5 miliar. Total cadangan terbukti mencapai US$ 160 miliar atau setara 2.290 triliun.

Oleh karena itu, tambang Papua yang dikelola oleh PT Freeport merupakan milik umum yang wajib dikelola negara sebagai wakil rakyat. Haram dikuasai oleh pihak asing. Hal ini membuktikan betapa kasus divestasi ini nyata-nyata sebagai bukti kuatnya cengkeraman asing dalam menguasai Sumber Daya Alam (SDA) yang ada.

Berbelit-belitnya proses pengambilalihan Freeport yang nyata-nyata milik Indonesia, sehingga harus ada drama divestasi merupakan indikator sulitnya negeri ini lepas dari asing. Kasus divestasi PT Freeport ini bukti rusaknya sistem ekonomi kapitalis neolib yang membuat rakyat tak berdaulat atas kekayaan miliknya sendiri dan penguasa jatuh pada jebakan hutang yang tiada habisnya.

Selama ini masih memakai ideologi dan sistem kapitalisme. Karena itu kita harus mencampakkannya dan selanjutnya menerapkan sistem ekonomi Islam. Dengan menerapkan ideologi dan sistem Islam dengan syariahnya dalam naungan sistem Khilafah, sumber daya alam bisa dinikmati oleh seluruh rakyat dengan baik dan penuh dengan keberkahan. Wallahu 'alam.


Endang Setyowati (Member Revowriter Blitar)

Editor Lulu

Ilustrasi Pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.