Sekolah Ibu, Tekan Angka Perceraian?

Hot News

Hotline

Sekolah Ibu, Tekan Angka Perceraian?


Dapurpena.com - Pemerintah Bandung Barat akan meluncurkan Program 'Sekolah Ibu' pada tahun 2019. Menurut Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat, Hengky Kurniawan, pendirian Sekolah Ibu itu salah satunya untuk menekan angka perceraian. Di sekolah ibu, kata Hengky Kurniawan, mereka akan mendapatkan pemahaman terkait permasalahan-permasalahan yang tengah dihadapi dari sejumlah pemateri (tirto.id, 30/12).

Sekolah Ibu diharapkan bisa tekan angka perceraian, mengingat angka perceraian semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data Pengadilan Agama Kelas 1A Cimahi mencatat peningkatan kasus perceraian. Pada tahun 2015 ada 9.182 perkara, tahun 2016 meningkat menjadi 10.486 perkara, dan naik lagi di tahun 2017 menjadi 11.935 perkara. Saat itu, Pengadilan Agama Cimahi menangani kasus di tiga daerah yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

Menurut Humas Pengadilan Agama Cimahi Agus Gunawan, dari banyaknya angka itu, penyebab dominan kasus perceraian yakni faktor ekonomi sebanyak 2.383 kasus, dan pertengkaran 2.327 kasus. Faktor lainnya adalah kekerasan dalam rumah tangga 10 kasus, salah satu pihak meninggalkan 905 kasus, judi 1 kasus, dan mabuk 6 kasus.

Sedangkan kasus perceraian di Pengadilan Agama Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, sejak beroperasi pada bulan November 2018 lalu, terdapat sebanyak 374 perkara. “Sebagian besar, pihak isteri jadi penggugatnya,” kata Ahmad dilansir Pikiran Rakyat (
tirto.id, 30/12).

Karena alasan tersebut, Sekolah Ibu menjadi harapan untuk menekan angka perceraian. Namun, bisakah itu diwujudkan? Mengingat perceraian adalah masalah sistemik yang tidak bisa bertumpu pada ibu untuk menyelesaikannya. Mengapa? Karena terjadinya gugat cerai disebabkan oleh berbagai faktor. Sehingga tidak bisa menjadikan individu perempuan sebagai pelaku dengan menafikan peran laki-laki dan sistem yang melingkupi keduanya.

Misalnya, perceraian akibat ekonomi. Tak dipungkiri, ada beberapa laki-laki yang kurang motivasi, dan usaha dalam mencari nafkah untuk keluarga. Hanya saja, individu yang seperti itu hanya sedikit dibandingkan dengan ketidakmampuan para laki-laki memberikan nafkah yang cukup bagi keluarganya disebabkan minimnya lapangan pekerjaan.

Menurut data Disnakertrans Kota Cimahi, mengungkapkan, setiap tahun jumlah pengangguran grafiknya meningkat. Pada tahun 2018, angka pengangguran bertambah menjadi 17.225. Jumlah tersebut dipastikan bertambah seiring kelulusan anak SMA/SMK yang tidak meneruskan pendidikan formalnya (pikiranrakyat, 13/7 2018).

Ditambah lagi, tingginya harga kebutuhan dasar masyarakat. Seperti, harga pangan, BBM, perumahan, pendidikan, kesehatan, listrik dan air bersih makin sulit dijangkau. Oleh karena itu, diperlukan dibukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekaligus diturunkannya​ harga kebutuhan pokok, sehingga kaum perempuan bisa tentram dan tenang menjalani kehidupan rumah tangganya.

Kedua, masalah pertengkaran. Banyak pasangan suami istri yang belum bisa berkomunikasi produktif, sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada pasangan tidak sesuai harapan malah memicu pertengkaran. Ego tinggi mementingkan pribadi meliputi kehidupan pasutri.

Selain itu, ada hal lain yang luput dari perhatian kita yakni ide feminisme/gender. Feminisme yang berkembang di sekitar kaum Muslim telah menghasilkan kebingungan dan perselisihan akan tanggung jawab pernikahan dan pengasuhan anak. Pernikahan menjadi lembaga yang didominasi oleh persaingan antara gender tentang peran dan tugas, bukannya menjadi kesatuan yang harmonis yang dibentuk oleh suami dan istri untuk memenuhi kewajiban pernikahan dan keluarga yang telah tetap dan saling melengkapi. Ide ini sangat berbahaya dan bisa merusak tatanan keluarga.

Oleh karena itu, Sekolah Ibu merupakan bentuk prag
matisme negara tanpa melihat akar masalahnya. Masalah perceraian merupakan bentuk kegagalan negara tuntaskan masalah perempuan. Jadi, bukan hanya ibu yang harus disekolahkan, tapi juga membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi para ayah, menurunan harga-harga kebutuhan pokok dan menghapuskan ide sesat kesetaraan gender yang bertentangan dengan ajaran Islam agar masalah perceraian bisa teratasi. Wallahu 'alam.



Penulis : Ika Mustaqiroh, S.Pd.I
Penulis adalah Komunitas Ibu Tangguh Majalengka

Editor                    : Lulu
Sumber Ilustrasi    : okezonenews.com



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.