Teror Tanah Longsor

Hot News

Hotline

Teror Tanah Longsor


Dapurpena.com - Indonesia merupakan suatu negara yang kaya akan sumberdaya alam, tapi juga negara yang berpotensi seringnya terjadi bencana alam. Sehingga negeri ini terkenal dengan sebutan negeri seribu satu bencana. Rentetan bencana terus terjadi, seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, hingga longsor.

Berdasarkan informasi Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang hingga tinggi bencana longsor di Indonesia mencapai 40,90 juta jiwa (CNN Indonesia.com, 2/1/2019). Yang merupakan daerah rawan longsor itu tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. 

Hal ini diperkuat dengan terjadinya tanah longsong di tahun baru 2019, yang diungkapkan oleh Danrem 061 Suryakancana Letkol Inf M. Hasan bahwa 15 korban meninggal dunia akibat tanah longsor melanda Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Tribunjatim.com, 1/1/2019). Lantas apakah penyebab longsor?

Penyebab Longsor
Tanah longsor terjadi disebabkan karena adanya dataran tinggi, baik karena curah hujan yang tinggi, maupun pergeseran bumi, mengakibatkan kepadatan tanah berubah. Akibatnya, terjadilah longsor. Dampak longsor tersebut menyebabkan runtuhnya bangunan, menghanyutkan apa saja yang ada di atas dataran tersebut. Pada saat yang sama, longsoran dari atas itu akan menimpa daerah yang lebih rendah. Maka, apapun yang ada di sana bisa tersapu oleh longsoran tanah dari atas. 

Untuk itu kita harus pahami bahwa tanah longsor merupakan musibah dari Allah SWT yang merupakan qadha dari Allah. Namun walaupun itu merupakan qadha dari Allah, namun ada ikhtiar atau usaha yang harus kita lakukan untuk menghindarinya dampak yang lebih para akibat longsor tersebut yang semestinya dilakukan pemerintah terhadap rakyatnya karena mengetahui bahwa wilayah itu merupakan wilayah yang akan terjadi longsor. 

Namun sejati pemerintah tidak melakukan berbagai upaya untuk mencegah atau menangani apabila terjadinya bencana alam atau longsor. Hingga saat ini pula pemerintah tidak serius menangani permasalahan yang disebabkan bencana alam atau mengetahui apa penyebab dari bencana alam itu. 

Hal ini kita lihat dari bencana alam yang menimpa baru baru ini saudara kita di Banten dan Lampung, tapi belum ada tindakan serius dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemerintah hanya sibuk mendatangi korban yang tertimpah musibah tanpa ada penangan yang serius, pasca sebelum dan sesudah terjadinya bencana alam atau tanah longsor. Masihkan kita berharap penyelesaian masalah dalam sistem ini?

Mengatasi Longsor
Untuk mengatasi masalah yang disebabkan oleh bencana alam atau longsor. Maka sistem Islam mengatasinya dengan menempuh dua kebijakan sekaligus, yaitu kebijakan preventif dan kebijakan kuratif.

Kebijakan preventif adalah kebijakan yang dilakukan sebelum terjadinya musibah atau longsor. Adapun tujuannya yaitu untuk mencegah agar tidak terjadi longsor. Maka yang dapat dilakukan, pertama, apabila terjadi tanah longsong karena curah hujan yang cukup tinggi, mengakibatkan  gundulnya dataran tinggi, hingga akhirnya terjadinya ketersumbatan aliran air dari atas.

Sehingga Islam akan menempuh berbagai hal yaitu memastikan akan terserapnya air, hingga air itu dapat diserap langsung oleh tanah, maupun dialirkan ke bawahnya. Serta memelihara daerah tersebut agar subur dan ditumbuhi oleh pepohonan, dan tanaman lainnya. Hingga akarnya mampu memperkuat konstruksi tanah, juga serapan dan aliran air dari atas ke bawah dipastikan tidak mengalami sumbatan. Oleh karena itu sistem Islam akan membuat  saluran air dari atas ke bawah, agar dapat mengurasi masuknya air yang tidak mampu diserap oleh tanah, ketika curah hujan sangat tinggi.

Membuat pondasi di setiap lereng-lereng dataran tinggi sebagai upaya tanggul penahan, dengan disertai saluran pori-pori air yang memadai, agar bisa berfungsi menahan tanah yang berada di dataran tinggi tidak longsor ke bawah.

Aliran air yang berjalan dari atas agar dapat dibuatkan penampungan raksasa, dalam hal ini seperti waduk, yang bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Bisa untuk supplai air ketika musim kering, atau untuk pembangkit listrik, dan sebagainya. 

Sekadar contoh, pada tahun 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud al-Daulah membuat bendungan hidrolik raksasa di sungai Kur, Iran.  Insinyur-insinyur yang bekerja saat itu, menutup sungai antara Shiraz dan Istakhir, dengan tembok besar (bendungan) sehingga membentuk waduk raksasa.

Di kedua sisi danau itu dibangun 10 noria (mesin kincir yang di sisinya terdapat timba yang bisa menaikkan air). Setiap noria terdapat sebuah penggilingan. Dari bendungan itu air dialirkan melalui kanal-kanal dan mengairi 300 desa. Di daerah sekitar 100 km dari kota Qayrawan, Tunisia, dibangun dua waduk yang menampung air dari wadi Mari al-Lil. Waduk kecil difungsikan sebagai tangki penunjang serta tempat pengendapan lumpur. Sedangkan waduk besar memiliki 48 sisi dengan beton penyangga bulat di setiap sudutnya berdiameter dalam 130 meter, kedalaman 8 meter.

Sistem Islam akan membagi-bagi daerah-daerah yang memiliki dataran rendah yang rawan terkena tanah longsor, dan juga membuat suatu aturan yang melarang masyarakat agar tidak membangun perumahan-perumahan warga di wilayah-wilayah tersebut; atau jika ada pendanaan yang memadai, sistem Islam akan membuat membangun kanal-kanal baru atau resapan agar air dapat mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal. Sehingga daerah-daerah dataran rendah mampu terhindar dari tanah longsor.

Tidak hanya itu, sistem Islam juga akan mambangun pos pemantau, yang dibantu oleh BMKG, sehingga mampu memberikan informasi dini akan terjadinya pergerakan tanah, sebelum terjadinya longsor. 

Perlunya pendidikan atau edukasi kepada masyarakat, tentang terkaitnya potensi atau bahaya bencana alam, pasca sebelum dan terjadinya bencana alam atau tanah longsong, yaitu agar dapat menyelamatkan diri, serta bagaimana dalam menangani masalah bencana dengan benar. Sehingga pendidikan ini sangat membantu atau sangat di butuhkan bukan hanya pada individu, masyarakat dan negara.

Dalam hal undang-undang dan kebijakan, sistem Islam akan menggambarkan beberapa hal yaitu membangun kebijakan tentang master plan, yaitu kebijakan tersebut dibuat diantara lain adalah, pembuat perumahan penduduk, atau kawasan baru, harus menyiapkan penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya.

Dibuatnya syarat-syarat izin pendirian bangunan. Jika seseorang warga ingin membuat sebuah bangunan, baik rumah, toko, dan lain sebagainya. Membuat penanganan yang khusus dalam menyelesaikan masalah bencana-bencana alam (BNPB) yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan, dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana.  Selain dilengkapi dengan peralatan canggih, petugas-petugas lapangan juga dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang SAR (search dan rescue), serta keterampilan yang dibutuhkan untuk penanganan korban bencana alam.

Adapun kebijakan kuratif adalah kebijakan ketika dan pasca bencana alam terjadi. Yaitu sebagai berikut. Khalifah sebagai kepala negara tampil di televisi, radio atau sosial media untuk menyampaikan pidato yang isinya mengingatkan rakyat, agar bersabar dan ridha menerima qadha’ Allah SWT. Meminta rakyat untuk bertaubat seraya menyerukan kepada seluruh rakyat untuk menolong dan membantu korban, dan mendoakan mereka.

Menangani korban bencana dengan bertindak cepat, melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana.  Khalifah menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Selain itu, Khalifah juga melakukan mental recovery, dengan melibatkan alim ulama.

Negara sendiri akan menyediakan alokasi anggaran untuk menghadapi bencana, bisa dari zakat, kekayaan milik umum, maupun yang lain. Dengan begitu, negara bisa bertindak cepat, tanpa harus menunggu uluran tangan masyarakat. Inilah kebijakan sistem Islam dalam menyelesaikan bencana tanah longsor. Wallahu a'lam bi ash-shawab.


Penulis : Susiyanti, S.E
Penulis adalah Muslimah Media Konawe


Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.