Terorisme Bukan Ajaran Islam

Hot News

Hotline

Terorisme Bukan Ajaran Islam


Saat menjelang natal dan tahun baru masyarakat ditakutkan dengan suasana mencekam. Seakan menjadi momok baru yang sebenarnya sudah lama dirancang. Lihat saja berita ketika menjelang peringatan kenaikan Isa Al Masih, Natal, dan Tahun Baru, polisi sudah melakukan persiapan keamanan berjaga-jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya terjadi pengeboman. Adapun upaya yang dilakukan oleh jajaran polri setiap daerah berbeda-beda. Salah satunya di Jakarta.

Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri menangkap sebanyak 21 orang terduga teroris jelang hari raya Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Meskipun, kepolisian belum menemukan indikasi serangan teror di dua perayaan itu. Penangkapan ini dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sebulan terakhir, sejak November hingga Desember 2018, CNNIndonesia.com (19/12).  Padahal yang ditangkap belum tentu merupakan pelaku terorisme. Lalu sebenarnya siapakah terorisme itu?

/Teror terorisme/
Sejak terjadi pengeboman di beberapa gereja, jajaran Polri menduga bahwa aksi tersebut dilakukan oleh terorisme. Jika kita berpikir secara jernih, sebutan terorisme tidaklah berarti dilakukan umat Islam. Buktinya masih simpang siur. Akan tetapi oknum yang menilai bahwa pelaku pengeboman dilakukan oleh umat Islam. Misal, Setelah serangan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur yang menewaskan sedikitnya 13 orang termasuk enam tersangka, muncul serangkaian unggahan di media sosial yang 'meragukan' kejadian tersebut meski faktanya sudah dikonfirmasi oleh polisi sebagai pihak berwenang.

Adapun beberapa unggahan yang seragam tersebut menyatakan bahwa serangan bom tersebut "bertujuan" untuk mencoreng nama Islam, menambah dana penanganan terorisme, serta meredam tagar #2019GantiPresiden. Adapun kesucian ajaran Islam telah ternodai oleh karena pembakaran masjid di Tolikara (2015). Separatisme Papua menewaskan sejumlah polisi, tentara, dan masyarakat sipil. Kriminalisasi ulama,  toleransi pemerintah terhadap aliran sesat Ahmadiyah, dan lain-lain. Semua menunjukkan ketidakseriusan pemerintah menanggulangi terorisme yang sebenarnya. Terorisme pun disematkan pada julukan Islam Radikal, Islam Fundamentalisme, Islam fanatik, Islam garis keras, dan lain-lain. Masyarakat pun telah dimainkan oleh isu, teror terorisme yang menakutkan. Bahkan menjadi ancaman tersendiri bagi non Islam. Lalu siapakah sebenarnya yang menciptakan terorisme ini?

Dalam informasi yang di dapatkan, Dinas Intelijen Amerika dan Dinas Intelijen Inggris dalam sebuah seminar yang diadakan untuk membahas makna terorisme pada Tahun 1979 telah menyepakati bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk melawan kepentingan-kepentingan sipil guna mewujudkan target-target politis. Setelah itu banyak diselenggarakan konferensi dan seminar Internasional serta ditetapkanlah berbagai hukum dan undang-undang untuk membatasi aksi-aksi yang dapat digolongkan sebagai terorisme.

Namun siapapun yang mencermati berbagai undang-undang dan hukum tentang tetorisme akan memahami dengan seksama bahwa semua peraturan itu tunduk kepada orientasi politik negara-negara yang membuatnya. Sebagai contoh ketika pejuang HAMAS melakukan bom syahid melawan kebrutalan tentara Israel, Amerika menamainya sebagai aksi terorisme. Sedangkan ulah dan pembantaian para serdadu Israel yang memporak-porandakan kalangan sipil disebutnya sebagai pembelaan hak. Itulah arti terorisme yang mereka definisikan.

/Islam dengan terorisme/
Adapun sasaran utama penyebutan terorisme ditujukan pada gerakan Islam. Ketika melihat gerakan yang massif menyuarakan syariat Islam dituduh sebagai gerakan radikal dan memecah belah negara. Setiap gerakan Islam atau partai-partai Islam dicap sebagai teroris. Paling tidak, selalu dicurigai. Sekalipun mereka tidak melakukan kekerasan dan anti kekerasan. Oleh karenanya, Islam melarang berprasangka buruk pada sesama muslim,  Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat: 12).

Sudah sepatutnya sesama umat Islam termasuk negara harus berprasangka baik kepada warga negaranya. Karenanya, Islam bukan ajaran terorisme apalagi mencetak seorang teroris. Islam mengutuk siapa saja yang berbuat teror. Seseorang yang  mengaitkan terorisme adalah ajaran Islam sangat fatal sekali, karena kebenaran faktanya tidak ada. Islam sangat anti kekerasan. Islam melarang membunuh jiwa seseorang, bahkan  melarang membunuh 1 jiwa apalagi membunuh puluhan jiwa. Membunuh 1 jiwa sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Firman Allah SWT:

وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’am: 151).

Syaikh Sa’di mengatakan, “(yang dimaksud ayat tersebut adalah) membunuh orang-orang Islam, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, orang baik atau jahat, dan orang kafir yang telah dilindungi dengan perjanjian". (Tafsir As-Sa’di, Hal.257). Jikalau orang kafir -yang dilindungi dengan perjanjian- saja dilarang dibunuh apalagi orang Islam. Karenanya sangat janggal sekali bila Islam sama dengan terorisme.

Namun berbeda dengan jihad yang dilakukan negara Islam, oleh karena jihad dalam Islam  dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Jihad ada adab-adabnya. Dalam hadits beliau bersabda: "Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan kalian berlebihan (dalam membunuh). Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang sepuh, dan rahib di tempat ibadahnya.” (HR. Muslim 1731, Abu Dawud 2613, at-Tirmidzi 1408, dan al-Baihaqi 17935).

Jihad dilakukan untuk memenuhi perintah Allah memerangi orang kafir harbi fi'lan yang jelas-jelas memusuhi Islam. Menciptakan pemahaman dan keamanan yang benar menuju kebangkitan Islam. Pemerintah sebagai penentu kebijakan sudah sepatutnya membuat kebijakan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Pemerintah harus mewujudkan pemahaman yang benar ditengah masyarakat, tidak termakan oleh isu, provokasi, propaganda,  menyebarkan berita hoax (palsu) yang beritanya tidak mengandung kebenaran sedikitpun dan bertentangan dengan Islam.

Inilah yang saat ini sangat diharapkan agar pemerintah dapat mewujudkan hal tersebut. Ungkapan teror menurut pemahaman saat ini, haram untuk diikuti dan diterapkan. Bentuk aksi teror dalam Islam hukumnya haram. Selain mengancam akidah dan mengancam jiwa warga, adanya aksi teror akan memecah belah kesatuan dan keutuhan wilayah negara serta ukhuwah islamiyah di kalangan umat Islam terlebih akan menghalangi umat Islam meraih kebangkitan Islam yang hakiki.

Negara menciptakan teror sejatinya hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Secara tidak langsung memberi keuntungan bagi negara musuh Islam (Amerika) yang hingga saat ini sedang memerangi umat  di seluruh dunia. Dalam Negara Islam (khilafah), akan menindak pelaku teror dan diberi sanksi tegas. 

Dengan begitu, akan terjaga keutuhan wilayah kesatuan negara dan ukhuwah islamiyah diantara umat Islam sedunia. Hanya dengan Syariat Islam yang diterapkan negara Khilafah, pemahaman dan keamanan yang benar  pun akan dapat diwujudkan. Terlebih sangat dibutuhkan dalam kehidupan saat ini. Wallahu a'lam bisshowab.



Penulis : Fathiyah Azka
Penulis adalah Aktivis Muslimah Penulis Jombang



Editor                  : Lulu
Sumber Ilustrasi : Gardanasional.id




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.