Tes Baca Alquran,Batu Loncatan Menuju Kepemimpinan

Hot News

Hotline

Tes Baca Alquran,Batu Loncatan Menuju Kepemimpinan


Oleh: Anissa Almahira


Wacana untuk menguji kemampuan membaca Alquran bagi kedua paslon Presiden dan Wakil Presiden yang disuarakan oleh Ikatan Da’I Aceh dalam konferensi pers Sabtu (29/12/2018) menuai kehebohan. Hal ini dimaksudkan untuk meredam perang dari tim pemenangan dan relawan  kubu masing-masing yang selama ini sering kali membawa agama, (SerambiNew,  04/01/2019).

Sebagaimana kehebohan pada umumnya, usulan ini pun menuai pro dan kontra.  Seperti Guru Besar Fisip Universitas Indonesia, Arbi Sanit yang menilai bahwa usulan tersebut melawan Pancasila, DetikNews (04/01/2019).  Sementara menurut KPU sendiri hal tersebut sah-sah saja sebab tak akan mengubah syarat pencalonan. (DetikNews , 31/12/2018)

Kini, agama mempunyai kekuatan tersendiri sebagai alasan masyarakat untuk memilih siapa pemimpin mereka selanjutnya. Sebagaimana pepatah arab mengatakan bahwa jiwa-jiwa berkumpul atas apa yang mereka sukai, maka wajar bila masyarakat cenderung memilih pada sesuatu yang di percayainya (agama). Hal inipun tidak lepas dari keyakinan dan harapan bahwa yang dipilih kelak akan menjamin kesejahteraan rakyat.

Meski bagi masing-masing kubu paslon, mereka menjadikan agama hanya sebagai alat menarik simpati dan mendulang suara mayoritas rakyat. Di sisi lain, para pengamat politik khawatir, hal ini akan menjadi peluang adanya dominasi agama dalam perpolitikan sebab hal ini diyakinkan akan menuai perpecahan bangsa.

Don’t judge the book by the cover. Ungkapan ini sangat tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Jangan melihat buku dari sampulnya, karena kapanpun pemilik atau editor bisa mengubahnya. Menilai paslon dari imej yang dibawa saat ini bukanlah hal yang tepat, apalagi sekedar dilihat dari apakah paslon tersebut dapat membaca Alquran atau tidak.

Namun, yang harus diperhatikam adalah apakah paslon tersebut berani berpindah untuk menerapkan isi Alquran secara paripurna dalam acuan bernegara, bukan hanya berdiri di tengah-tengah jembatan untuk mencapai keuntungan.

Polemik yang terjadi menjadi indikasi bahwa nilai dan kedudukan Alquran bagi mereka hanya sebagai alat untuk mendulang suara emas rakyat semata. Meski dalam hati mereka tak mengakui keberadaan Alquran sebagai pandangan hidup. Sistem Demokrasi yang diterapkan rezim sekarang tidak memberi ruang aturan Sang Pencipta bermain dalam kehidupan. Menafikan tujuan diciptakannya manusia yang mengharuskan dirinya terikat dengan aturan Allah.

Sebuah kapal hanya akan dapat melaju di lautan. Begitu pula syariat Islam, tidak akan dapat berjalan dalam sistem yang tidak menerima agama sebagai dasar kehidupan. Sesering apapun nahkodanya diganti, sejenius apapun nahkodanya mengendarai, menjalankan kapal di jalanan beraspal adalah kemustahilan yang hakiki.

Saatnya umat sadarkan diri, jika ingin jaminan kesejahteraan secara sempurna maka segeralah lakukan perubahan hakiki dengan kembali ke pangkuan sistem Islam. Karena sistem saat ini sampai kapanpun tak akan pernah bisa memberikan jaminan apapun.

Wallahu A’lam.

Anissa Almahira (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)


Editor Lulu

Ilustrasi pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.