Tipu-Tipu Infrastruktur Ala Kapitalis

Hot News

Hotline

Tipu-Tipu Infrastruktur Ala Kapitalis


Dapurpena.com - Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi mengatakan salah satu prestasi yang berhasil dicapai pada 2018 lalu, yakni rampungnya Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -(6/1/2019)
Untuk kemajuan dan kemandirian sebuah  bangsa penunjang kebutuhan dasar berupa infrastruktur sangat diperlukan, gunanya untuk mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan sosial ekonomian suatu masyarakat.
Dalam kurun waktu pemerintahan presiden Jokowi-JK membangun Infrastruktur hampir dilakukan secara masif di seluruh  wilayah Indonesia. Hal ini diharapkan agar gerak laju ekonomi di seluruh pelosok negeri berjalan saling berkesinambungan. Tidak saja membangun jalan tol darat, jalan tol laut seperti tol trans Sumatra dan Jawa-pun juga dibuat.
Namun benarkah sedemikian pentingnya arti insfratruktur bagi rakyat Indonesia? Bahkan Faisal Basri menyebutkan sesat pikir terhadap pembangunan infrastruktur tol trans Sumatra dan Jawa.  Menurut Faisal Basri, Indonesia adalah negara Maritim. "Indonesia terdiri dari ribuan pulau, kalau ingin mengintegrasikan seharusnya transportasinya pakai transportasi laut," ujar Faisal Basri.
Lantas dia menyebut bahwa penamaan tol laut adalah sebuah kekeliruan karena di laut merupakan jalan yang bebas hambatan. "Terminologi tol laut aja sudah salah, di laut itu tol semua bebas hambatan nggak perlu bayar, " ujarnya.  31/12/20189
Lantas sebenarnya untuk siapa insfrastruktur itu dibangun? Siapa penikmat dari infrastruktur yang dibangun Pemerintah Jokowi?
Tak bisa dipungkiri, rakyat Indonesia juga menikmatinya. Namun, penikmat paling besar adalah para pemodal yang ikut serta dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Sementara rakyat yang bisa membayar tarif tol saja yang bisa menikmati insfrastruktur tersebut. Itupun sangat mahal. Kalaulah langkah awal membangun infrastruktur untuk keberlangsungan dan pertumbuhan sosial ekonomi suatu masyarakat, seharusnya seluruh masyarakat bisa menikmatinya secara gratis, bebas tanpa bayar.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, termasuk yang diterapkan di Indonesia, biaya pembangunan dan pemeliharaan berbagai macam infrastruktur diperoleh dari sektor pajak sebagai pemasukan terbesar penerimaan negara, dari pinjaman atau uang luar negeri dan melalui  kerjasama pemerintah dan swasta (KPS)  yaitu kontrak kerjasama antara Pemerintah dan swasta dalam penyediaan infrastruktur atau layanan publik dan tentu saja semua tidak lepas dari hutang ribawi. Pada akhirnya masyarakatlah yang harus menanggung beban pembayarannya. Melalui penggunaan tarif tol yang mahal ataupun peningkatan berbagai pungutan pajak.

Membangun infrastruktur atau sarana lain adalah kewajiban negara yang diperuntukkan bagi masyarakat sebagai bentuk pengaturan dan pemeliharaan urusan mereka. Seperti membangun sekolah-sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, jembatan, jalan-jalan umum dan sebagainya.

Dalam Islam, infrastruktur terkategori milik umum. Negara berupaya mengelola dengan dana dari sumber milik umum seperti minyak bumi, gas dan barang tambang, sumber daya laut, sungai, mata air, lapangan, hutan belukar, padang gembalaan, dan masjid. Dan semua itu tidak boleh dialihkan kepemilikannya untuk siapa pun, baik individu maupun kelompok. Semuanya milik seluruh kaum Muslim. Pendek kata masyarakat selalu mendapat keuntungan berupa subsidi yang terus menerus dari kepemilikan milik umum.
Rasulullah SAW bersabda,“Umat Islam berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput dan api.” (HR. Ahmad).
Sungguh amat berbeda sistem kapitalis dengan sistem Islam dalam membangun infrastruktur. Jika dalam sistem kapitalis pembangunan infrastruktur dibiayai dengan uang hutang ribawi dan ini tentu sangat menguntungkan pihak pemberi hutang, hingga Indonesia semakin terjerat hutang riba. Sedangkan Islam membangun infrastruktur diperuntukkan bagi masyarakat secara gratis, dengan biaya pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki negara. Lalu kenapa kita tidak bersegera mengambil Islam sebagai sebuah sistem yang sempurna ya?
Wallahu'alam bissawab

Penulis :Puji Ariyanti
Penulis adalah Pemerhati Generasi




Editor                    : Tim Redaksi Dapurpena.com
Sumber Ilustrasi   : Lintas NTT


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.