Toleransi Berbalut Kapitalisasi Akidah

Hot News

Hotline

Toleransi Berbalut Kapitalisasi Akidah

 Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia dan lebih dari 87% penduduknya adalah umat muslim. Dengan demikian, Indonesia menjadi negara dengan populasi umat muslim terbesar dalam hal penganut Islam. Namun sungguh ironi, pada bulan-bulan Desember hingga Januari akan banyak didapati simbol-simbol agama lain berikut promosi acara yang bertajuk merayakan Natal bersama dan tahun baru.

Banyak dari pegawai swalan, departemen store, bahkan instansi pemerintahan yang latah mengenakan atribut dan memajang ornamen-ornamen Natal dan tahun baru. Berikut jingle-jingle atau lagu-lagu pengirim khas agama lain berkumandang di setiap sudut perkantoran ataupun pusat perbelanjaan. Suasana berubah seakan ada di negara Eropa yang sedang gegap gempita menjelang perayaan hari besar mereka.

Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pidatonya menyampaikan ucapan “Selamat Merayakan Natal kepada segenap umat Kristiani,” Minggu (23/12/2018). Menurut Menag, merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian semata. Lebih dari itu, tegas Menag, Natal perlu diterjemahkan dalam upaya konkret untuk memahami hakikat keragaman, menyadari luhurnya martabat kemanusiaan dan pentingnya membangun peradaban. Dikutip dari Nusantara.co (24/12/2018).

Inikah toleransi yang diartikan sebagai upaya konkrit untuk memahami hakekat keragaman, menyadari luhurnya martabat kemanusiaan dan pentingnya membangun peradaban?

Sungguh, inilah kebodohan. Inilah bukti kemunduran kaum muslimin dalam berpikir tentang apa itu toleransi. Secara fakta, kemajuan peradaban dibangun oleh sebuah pemikiran yang berlandaskan kepada pemikiran yang mendasar pula. Yang nantinya akan menjadi arah pandang ketika hendak melakukan sebuah amalan. Pemikiran yang mendasar tadi haruslah berasal dari wahyu Ilahi yang jelas akan memuaskan akal, sesuai fitrah dan menentramkan hati. Dan itu tidak akan didapatkan dari akidah selain Islam. Karena hanya Islam yang mampu membuktikan manusia berasal dari mana, untuk apa diciptakan ke dunia dan kemana setelah manusia mati. Sehingga Islamlah satu-satunya yang mampu mencapai peradaban sempurna dan cemerlang, memimpin dunia selama 1300 tahun. Nasrani sekalipun ia diakui sebagai agama, namun ia tak mampu membuktikan sama seperti Islam. Baik secara akidah maupun secara solusi pemecah persoalan manusia.

Lantas bagaimana perayaan Natal dan Tahun Baru dirayakan dalam Islam? Negara menjamin adanya keberagaman ini sebagaimana yang ditegaskan dalam Alquran, “La ikraha fi ad-din” Tidak ada paksaan dalam memeluk (agama) (Q.S al-Baqarah 02: 256).

Nabi SAW juga bersabda, “Man kana ‘ala Yahudiyyatihi au Nashraniyyatihi fainnahu la yuftannu”  Siapa saja yang tetap dengan keyahudiannya, atau kenasraniannya, maka tidak akan dihasut (untuk meninggalkan agamanya). Mereka disebut ahlul dzimmah, dimana mereka tetap dalam keyakinan mereka namun diranah sosial mereka taat dan patuh dengan aturan negara yang berdasar syariat Allah.

Meski tidak dilarang, tetapi perayaan hari-hari besarnya tetap diatur oleh Negara Khilafah. Selain berdasarkan klausul dzimmah mereka, juga filosofi “al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi” bahwa Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam tetap harus dipegang teguh. Karena itu, perayaan ini dibatasi dalam gereja, asrama dan komunitas mereka. Di ruang publik, seperti televisi, radio, internet atau jejaring sosial yang bisa diakses dengan bebas oleh masyarakat tidak boleh ditampilkan.

Alasannya, karena ini bertentangan dengan akad dzimmah mereka. Selain itu, ini juga menyalahi filosofi “al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi” Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam. Para ulama juga telah membahas larangan mengucapkan selamat kepada mereka, baik secara pribadi apalagi sebagai pejabat publik.

Begitulah Islam memberikan toleransi kepada mereka. Begitulah Islam menjaga dan melindungi agama dan keyakinan mereka. Mereka tidak diusik, dan diprovokasi untuk meninggalkan agamanya. Namun, mereka juga tidak dibenarkan untuk mendemonstrasikan dan memprovokasi orang Islam agar memeluk keyakinan mereka. Begitulah cara Negara Khilafah memberi ruang kepada mereka (Hafidz Abdurrahman/ bengkel pemikiran. Wordpress.com).

Jika hari ini ditampakkan seakan-akan perayaan hari besar agama lain juga penting untuk dirayakan oleh kaum muslim ini diakibatkan karena sistem kapitalisasi. Segala sesuatu dihitung dengan manfaat, bukan halal haram. Tanpa pengetahuan yang cukup kaum muslim digiring menuju apa yang mereka gagas hingga merusak akidah. Hal ini tidak akan terjadi jika kita berjuang merubah sistem buatan manusia menjadi sistem yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Dan kini hal itu menjadi kewajiban kita, sehingga kita bisa beroleh keridhoan-Nya. Wallahu a' lam biashowab.

Penulis  : Rut Sri Wahyuningsih
Penulis adalah Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis ( BROWNIS)


Editor                    : M.N. Fadillah

Sumber Ilustrasi  : Mozaik.inilah.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.