Catatan Kecil Lelaki Kampoeng-part V

Hot News

Hotline

Catatan Kecil Lelaki Kampoeng-part V


Oleh Hamka*



Dapurpena.com- "Mahasiswa itu jangan hanya bisa pegang piring, sendok dan cangkul saja. Setiap kali saya ketemu, alat itu terus yang dibawa kemana-mana. Jarang saya ketemu mahasiswa yang bawa buku dan rajin mengupdate pemikirannya," Sindir seorang dosen pada kami saat pertama kali kuliah.

Ya. Walau dengan nada yang bergurau tetapi sangat menusuk dan merobek-robek hati. Alasannya memang sederhana. Jarak dapur umum dengan asrama mahasiswa itu lumayan jauh, sehingga kalau kami ke dapur harus membawa peralatan-peralatan itu tiap hari.

Mungkin itu sebuah pemandangan yang cukup mengganggu dan memprihatinkan. Sehingga setiap kali kuliah itu-itu terus yang disorot oleh para dosen. Dimaklumi saja, karena kebanyakan dosen kami adalah ustaz-ustaz yang tinggal di pondok juga.

Perjalanan waktu begitu cepat berputar. Siang dan malam berlalu begitu singkat untuk dihitung. Mungkin karena kegiatan setiap hari kami selalu diisi dengan kesibukan-kesibukan di pondok.

Sejak ba’da salat subuh sampai jam 06.00 kami membersihkan sekeliling pondok. Semua mahasiswa melakukan kegiatan kebersihan kampus sesuai dengan lokasi yang telah dibagikan. Itu yang sering kami sebut “amal salih pagi”.

Asyik dan kami sangat menikmatinya. Karena semuanya bergerak dengan kesadaran diri masing-masing. Alhamdulillah, kalau setiap subuh seperti itu. Namun, kalau masih bersantai-santai di kamar ngobrol tentu kamar kami akan digedor-gedor oleh pengasuh mahasiswa.

Menariknya, walau sudah berstatus mahasiswa, tetapi hal-hal kecil seperti itu tetap kami kerjakan. Tidak ada yang membangkang, melawan atau lebih dari itu. Sebab, bagi kami pondok sudah menjadi bagian dari rumah yang membesarkan kami. Kalau bukan kami yang memberikan contoh kepada para adek-adek santri siapa lagi yang di harapkan? Cukup ustaz-ustaz kami bekerja siang malam memikirkan nasib kami di sini. Soal lapangan, serahkan saja kepada kami anak-anak muda yang mendidih darahnya.

Selain itu, komitmen ketaatan sami’na waa to’na-lah yang dapat menyatukan hati kami. Pekerjaan berat sekalipun tetapi kalau dikerjakan atas dasar ketaatan pasti mudah diselesaikannya. Tetapi kalau ketaatan itu hilang, maka hilang pula ghirah dan semangat kita untuk bersaudara dalam kebersamaan.

.....................................................................................


"Bung Muktar , ayo ke Barelang yuk."

"Ayo. Ajak juga bung Bahrul dan Munir sekalian," Jawabnya singkat

Setiap malam kalau ada jadwal kuliah yang kosong kami memanfaatkannya untuk pergi ke jembatan Barelang. Bukan untuk bunuh diri ya. Hehe, hanya sekedar melepas kepenatan dan mengisi waktu kosong saja.

Perjalanan ke Barelang cukup jauh. Jadi, kami harus menggunakan sepeda motor. Kami bertiga tidak punya kendaraan. Cara yang jitu untuk ke sana adalah pinjam kendaraan kawan.

Di Jembatan Barelang itulah tempat kami bersenda gurau dan melihat keindahan malam yang penuh keramaian. Kadang saya berpikir, jembatan itu sungguh menanggung beban yang berat dari penderitaan manusia.

Di wajahnya, umat manusia menumpahkan segala kepenatan, kesedihan, kegembiraan maupun kebohongan hidup. Memang benar bahwa keramaian itu bukan hal yang membuat hati kita tenang.

Tetapi dengan malam yang panjang kita bisa berpikir dan tahu kalau esok hari bukan hanya milik kita. Banyak orang di sini yang berperang merebut mimpi untuk esok hari.

Di sela-sela candaan itu, saya berkata “ Bung, saya merasa kurang bahagia lagi tinggal di Batam ini. Ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Dulu, di Pondok Al-Bayan saya merasakan kedamaian dan kesejukan hati.

Kini, rasanya hampa dan banyak sekali guncangan yang menggetarkan hati ini. Saya paham dengan diri saya, namun rasanya masih terlalu muda untuk saya ungkapkan saat ini.

Apalagi sekarang kita sudah semester VI. Banyak pertimbangn juga sih. Kalau saya salah mengambil keputusan bisa fatal kuliah saya kedepan," saya berbicara agak serius sambil menoleh kearah 2 sahabatku itu.

"Kami juga begitu kawan," ungkap Muktar dan Bahrul. Makanya tempat ini menjadi jalan terakhir pelarian kita. bukankah begitu?

"Heheh.....Iya juga sih, kami paham dengan gejolak hati kami juga. tetapi kita masih kuliah. Perjalanan kita sebentar lagi berakhir. Jadi jalan satu-satunya ya sabar."

"Eh, dari tadi kalian katanya mau ngopi? Tanyaku. Ayo kita ke jembatan 2. Di sana ada kedai kopi. Kita cerita lagi nanti di sana sambil ngopi."

Kami berangkat lagi ke jembatan 2. Di sana kami memesan kopi susu. Kopi yang hangat untuk membakar suasana dingin Kota Batam malam ini.

"Enak juga ya kopi ini Bung" Kataku.

Muktar menjawab singkat, "Iya emang enak. Tetapi lebih enak Kopi racikannya bung Bahrul."

Heheh. Emang betul juga. kalau soal buat kopi kawanku itu emang jagonya. Sampai-sampai tiap lima waktu shalat kami ngopi. Bukan karena kami hobi ngopi, tetapi karena kami penasaran dengan kopi flores yang dibawa khusus dari Pulau Komodo.

"Waktu mulai larut malam, kita pulang yuk. Besok-besok kalau ada waktu kita ke sini lagi. Belum selesai bahasan kita tadi di jembatan 1 tadi."

"Yuk....balik. bayar dulu minumannya ya, patungan atau gimana ini?"

"Tak apa-apa, biar malam ini saya yang traktir," kata bung Muktar.


BERSAMBUNG



*Tim Redaktur Dapur Pena


Ilustrasi Pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.