Di balik Investasi Unicorn

Hot News

Hotline

Di balik Investasi Unicorn



Oleh Puji Ariyanti*


Dapurpena.com- Awalnya perusahaan rintisan, yang pada umumnya disebut startup, merujuk pada semua perusahaan  yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan- perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Namun faktanya secara perlahan menjadi perusahaan-perusahan yang kini mulai dikuasai asing. Seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah menjelma menjadi unicorn.

Executive Director of Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, empat perusahaan Start-up dikuasai asing jelas itu sudah melanggar cita-cita awal pemerintah untuk menjadikannya sebagai usaha Indonesia. "Jadi nggak ada lagi kebanggaan. Sebelumnya kan sering digembar-gemborkan kita memiliki 4 unicorn bahkan ada yang decacorn" SINDOnews [28/1/'19]

Kucuran dana besar-besaran dari berbagai investor raksasa mancanegara membuat kepemilikan empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia sudah tidak bisa dibanggakan.

Baru-baru ini Go-jek menerima kucuran dana dari Google sebesar USD1,2 miliar. Saai ini valuasi Go-Jek ditaksir mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp53 triliun. Kondisi tersebut jelas merugikan dan pemerintah dinilai hanya fokus membuka investasi asing sebesar besarnya yang bersifat jangka pendek saja.

Jangka panjangnya  merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia. Karena mayoritas barang yang dijual e-commerce merupakan barang impor dengan harga semi-subsidi. Akhirnya, produk UMKM lokal tidak mungkin bisa bersaing dari sisi harga [18/2/'19]. Ini artinya kita gagal menghasilkan dan mempertahankan startup juga unicorn agar tetap menjadi milik indonesia.

Bila kita kaji secara mendalam,  Unicorn adalah salah satu jenis usaha yang dilirik asing dalam investasi, karena menjanjikan keuntungan bagi kapitalis. Mindset terhadap investasi asing untuk pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang dimotori produk kapitalisme akan melahirkan kesejahteraan yang semu bagi suatu bangsa. Indonesia adalah pangsa pasar yang menyenangkan bagi barang-barang dari negara lain.

Sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam berbeda. Jika sistem ekonomi Islam selalu mendahulukan kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat secara riil, bukan sekedar pertumbuhan ekonomi saja, sebagai isu utama yang memerlukan jalan keluar dan penerapan kebijakan.

Sistem Islam memiliki latar belakang pemikiran yang berbeda tentang ekonomi, sehingga jalur pengembangan ekonominya pun berbeda dari Kapitalisme. Dalam sistem ekonomi Islam, negara diwajibkan untuk memiliki peran langsung dalam pencapaian tujuan ekonomi, dan tidak begitu saja membiarkannya kepada sistem pasar bebas. Seperti yang terjadi saat ini negara cukup sebagai regulator saja.

Secara ekonomi, negara harus memastikan bahwa kegiatan ekonomi baik yang menyangkut produksi, distribusi maupun konsumsi dari barang dan jasa, berlangsung sesuai dengan ketentuan syariat, dan di dalamnya tidak ada pihak yang menzalimi ataupun dizalimi. Karena itu Islam menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi seperti produksi, industri, pertanian, distribusi dan perdagangan juga investasi.

Allah SWT telah menganugerahkan kekayaan berupa sumber daya alam yang melimpah ruah.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati [kering]-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh [terdapat] tanda-tanda [keesaan dan kebesaran Allah] bagi kaum yang memikirkan"  [Al-Baqarah]:164

Dengan kekayaan yang melimpah seharusnya Indonesia mampu menjadi negara mandiri. Mampu bersikap tegas menolak investasi yang melemahkan kedaulatan baik dalam dan luar negeri. Karena sejatinya investasi asing adalah bentuk penjajahan baru. Kurangnya kesadaran dan optimalisasi para pejabat pemerintah dalam mengelola kekayaan negara inilah yang mengakibatkan ekonomi Indonesia semakin buruk.

Saatnya, kita berpaling pada sebuah sistem yang sempurna, yang telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW, serta diikuti oleh para shahabat. Wallahu' alam bissawab

*Ibu dan pemerhati generasi Sidoarjo


Ilustrasi etsy.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.