Fenomena Sensual, Picu Pelecehan Seksual

Hot News

Hotline

Fenomena Sensual, Picu Pelecehan Seksual


Oleh : Qiya Amaliah Syahidah* 

Dapurpena.com - Masih membekas diingatan,  ketika beberapa bulan lalu mencuat pelecehan seksual yang terjadi terhadap mahasiswi KKN UGM, Yogyakarta, juga pelecehan seksual yang dialami Baiq Nuril, mantan pegawai honorer SMA 7 Mataram yang dilakukan oleh kepala sekolah tempatnya dulu bekerja. 

Kini, sebanyak 15 karyawati Bank Sultra Cabang Kendari pun mengaku mengalami pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh bosnya di kantor, yakni kepala cabang Bank Sultra Cabang Kendari, SY (Sultrakini.com, 10/01/2019).

Setiap tahun jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan terus meningkat. Data Komnas Perempuan menyebut jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2017 berjumlah 335.062 kasus. Jumlah kekerasan naik drastis dari tahun sebelumnya yang berjumlah 259.150 kasus ( Tempo.co.id, 04/12/2018).

Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada seks. 

Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja, baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun tempat pribadi seperti rumah. Dalam peristiwa pelecehan seksual, biasanya terdiri dari kata-kata pelecehan (10%), intonasi yang menunjukkan pelecehan (10%), dan non verbal (80%).

Bentuk-Bentuk Pelecehan
Secara teori ada lima kategori pelecehan seksual yang perlu diketahui:
Pertama, perilaku menggoda. Perilaku menggoda adalah perilaku seksual yang menyinggung, tidak pantas dan tidak diinginkan oleh korban. Contohnya menggoda seseorang hingga membuatnya risih, memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tidak disukainya, dan ajakan lain yang tidak pantas atau diinginkan seseorang

Kedua, pelanggaran seksual. Perilaku ini berupa pelanggaran seksual berat seperti, menyentuh,  merasakan atau meraih secara paksa, serta penyerangan seksual yang tidak pantas atau diinginkan oleh seseorang. 

Ketiga, pelecehan gender. Ini adalah perilaku dan pernyataan seksi yang menghina atau merendahkan seseorang karena jenis kelamin yang dimilikinya. Contohnya, komentar yang menghina, gambar atau tulisan yang merendahkan, lelucon cabul atau candaan tentang seks.

Keempat, pemaksaan seksual. Ini adalah perilaku terkait seks yang disertai ancaman hukuman. Ini berarti, seseorang dipaksa melakukan perilaku yang tidak diinginkannya. Jika tidak, ia akan diberi ancaman hukuman tertentu. Bisa berupa pencabutan promosi kerja, evaluasi kerja yang negatif, ancaman terhadap keselamatan diri atau keluarga, hingga ancaman teror dan pembunuhan.

Kelima, penyuapan seksual. Perilaku ini berupa permintaan aktivitas seksual dengan janji imbalan yang dilakukan secara terang-terangan. Misalnya: seorang wanita/pria mengajak seorang anak melakukan hubungan intim dengan iming-iming uang, asalkan ia tidak memberitahukannya kepada orang lain.

Pelecehan seksual juga bisa dibedakan menurut perilakunya. Berikut adalah bentuk pelecehan seksual menurut perilakunya: 
Pertama, komentar dan lelucon seksual tentang tubuh seseorang. 
Kedua, memberikan siulan pada orang lain di depan umum. 
Ketiga, ajakan berhubungan intim atau tindakan seksual lainnya. 
Keempat, menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain. 
Kelima, menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain. 
Keenam, berbicara tentang kegiatan seksual sendiri di depan orang lain. 
Ketujuh, sentuhan seksual, yaitu menyentuh bagian tubuh seseorang tanpa izin. 
Kedelapan, menampilkan gambar, video, cerita, atau benda seksual pada orang.

Akar Masalah
Pelecehan seksual masih menjadi masalah yang belum tuntas dan tidak akan tuntas selama solusi yang ditawarkan masih berpijak kepada sistem sekularisme. Sebab sistem inilah yang menjadi penyebab maraknya kriminalitas secara umum,  termasuk pelecehan seksual secara khusus. 

Di mana sistem sekulerisme dibangun berdasarkan ideologi pemisahan aturan agama dari kehidupan. Praktis semua aturan kehidupan yang bersumber dari ideologi ini steril dari agama. Wajar jika semua aturan publik, termasuk aturan yang mengatur interaksi laki-laki dan perempuan diatur berdasarkan akal manusia yang lemah. 

Interaksi laki-laki dan perempuan tanpa batasan ini lahir dari paham kebebasan (liberalisme), maka wajar jika tidak ada larangan membuka aurat, berpakaian minim/seksi  yang mengumbar sensualitas, bertabaruj, karena itu bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin oleh negara.

Meski penganut ideologi ini tidak mau mengakui, jika penyebab munculnya pelecehan seksual itu salah satunya dari pakaian yang terlalu mengumbar aurat. Tapi fakta berbicara, pakaian yang terlalu seksi dan mengumbar aurat, merangsang syahwat.  Sebab naluri manusia bisa bangkit jika ada realitas yang bisa diindera yang merangsang pikiran-pikiran dan khayalan yang porno.

Tengok saja, respon Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang menyesalkan sikap pemerintah Provinsi Bengkulu dan DPRD Bengkulu yang akan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Ketahanan Keluarga. Salah satu isi Perda itu adalah melarang pelajar berpakaian seksi.

Anggota Komnas Perempuan Magdalena Sitorus mengatakan dalam raperda itu, perempuan hanya sebagai obyek yang layak disalahkan dalam berbagai kasus pelecehan seksual. Padahal, perempuan kerap menjadi korban dalam tindak kejahatan tersebut. Pelecehan seksual selalu bermula dari otak pelakunya, bukan tubuh perempuan, seperti yang selama ini dipermasalahkan.

Lanjut, Magdalena mengatakan kebijakan diskriminatif terhadap perempuan itu juga menunjukkan para pejabat di daerah tak cukup memiliki pemahaman soal gender. Dalam mengatasi pelecehan seksual, ketimbang melarang perempuan berpakaian seksi, pemda seharusnya menyiapkan fasilitas yang mencegah tindak kejahatan itu terjadi (Kbr.id, 22/12/2017).

Solusi Islam
Syariat Islam yang mulia diturunkan Allah sebagai problem solving terhadap masalah manusia,  termasuk di dalamnya persoalan pengaturan interaksi pria dan wanita dalam kehidupan publik.

Perintah menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Kemudian atas wanita wajib mengenakan jilbab dan kerudung. Juga larangan terhadap wanita bepergian selama sehari semalam, kecuali disertai mahramnya. Larangan khalwat antara pria dan wanita, kecuali wanita itu disertai mahramnya. Dan juga larangan atas wanita keluar rumah, kecuali dengan seizin suaminya. 

Perintah pemisahan (infishal) antara pria dan wanita, Interaksi pria wanita hendaknya interaksi yang bersifat umum, bukan dalam perkara khusus.  Adalah bagian dari syariat yang mulia untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari interaksi keduanya. 

Pengaturan Interaksi laki-laki dan perempuan dalam ranah publik, hendaknya dapat mengakomodir dua realitas berikut ini; 
Pertama, bahwa potensi hasrat seksual pada pria dan wanita dapat bangkit jika keduanya berinteraksi, misalnya ketika bertemu di jalan, kantor, sekolah, pasar, dan lain-lain.
Kedua, bahwa pria dan wanita harus saling tolong menolong (ta’aawun) demi kemaslahatan masyarakat, misalnya di bidang perdagangan, pendidikan, pertanian, dan sebagainya.

Pengaturan ini memang tidak mudah. Dengan maksud agar hasrat seksual tidak bangkit, bisa jadi muncul pandangan bahwa pria dan wanita harus dipisahkan secara total, tanpa peluang berinteraksi sedikit pun. Namun jika demikian, tolong-menolong di antara keduanya  tidak akan terwujud. 

Sebaliknya, dengan maksud agar pria dan wanita dapat tolong menolong secara optimal, kemudian interaksi di antara keduanya dilonggarkan tanpa mengenal batasan. Maka akibatnya akan bangkit hasrat seksual secara liar. Seperti pelecehan seksual terhadap wanita, sehingga malah menghilangkan kehormatan (al-fadhilah) dan moralitas (akhlaq).

Hanya syari’ah Islam, yang dapat mengakomodir dua realitas tadi dengan pengaturan yang sempurna. Di satu sisi syari’ah mencegah potensi bangkitnya hasrat seksual ketika pria dan wanita berinteraksi. Yakni pria dan wanita tidak dipisahkan secara total, melainkan tetap dibolehkan berinteraksi dalam koridor yang dibenarkan syari’ah. Sementara di sisi lain, syari’ah menjaga dengan hati-hati agar tolong menolong antara pria dan wanita tetap berjalan demi kemaslahatan masyarakat. Wallahu a'lam bishowab.


*Muslimah Media Konawe Sulawesi Tenggara


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.