Islam Menuntaskan Problem Pejabat Makelar SDA

Hot News

Hotline

Islam Menuntaskan Problem Pejabat Makelar SDA


Oleh.Tety Kurniawati*

Dapurpena.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarief mengaku pihaknya telah menangkap 20 pejabat terkait korupsi sumber daya alam (SDA). Bahkan terdapat sejumlah kasus yang merugikan negara hingga Rp 1,2 triliun.

"Orang-orangnya ada Amin Nasution (mantan anggota DPR). Dia hanya divonis empat tahun penjara. Padahal dia mengeluarkan izin lebih dari 100 ribu hektare (ha), salah satu yang terbesar. Kedua Tengku Abdul Zafar selaku Bupati Palalawang," kata Laode di Gedung KPK C1, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. ( jawapos.com 25/1/19).

Temuan KPK bukanlah hal yang baru. Sudah terendus lama bahwa potensi kekayaan alam Indonesia senantiasa menjadi objek rebutan para pejabat yang berprofesi merangkap sebagai makelar penjualan aset rakyat. KPK mencatat, lebih dari 12 kasus korupsi di sektor sumber daya alam sepanjang 2004-2017.

Sementara itu, ada lebih dari 24 orang pejabat yang diproses KPK karena terbukti melakukan korupsi di sektor kehutanan. Bahkan, di sepanjang 2004-2017, sudah 144 orang anggota dewan yang terlibat. Disusul 25 orang menteri atau kepala lembaga, 175 orang pejabat pemerintah, dan 184 orang pejabat swasta. ( Tempo.co 25/1/19) 

Fenomena tersebut sejatinya merupakan konsekuensi bagi negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis berazas sekulerisme. Standar perbuatan yang bersandar pada manfaat dan liberalisme, khususnya liberalisme kepemilikan. Telah menjadi biang keladi segala kerusakan dan mempersulit upaya mewujudkan kesejahteraan.

Perekonomian negara diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Siapapun bebas memiliki apapun. Tak ada aturan kepemilikan. Sehingga para pemilik kapital dapat leluasa menguasai kekayaan alam negeri. Sementara negara hanya mampu mengamati. Tanpa memiliki kekuatan melarang dan mempertahankan sumber daya alam yang harusnya rakyat nikmati. Terikat tak berkutik oleh UU pesanan yang melegalkan liberalisasi dan privatisasi SDA negeri.

Kondisi ini diperparah dengan mental pejabat yang korup. Hasil dari kentalnya aroma liberal pada prosesi pemilihan pemimpin yang melegalkan segala cara tuk meraih kekuasaan. Konsekuensinya, perjalanan kepemimpinan senantiasa sarat dengan kepentingan individu dan golongan. Jauh dari upaya memastikan publik memperoleh kemaslahatan.

Islam menjadikan halal-haram sebagai  standar mutlak setiap perbuatan. Maka tiap pemegang  kekuasaan tidak akan pernah menyelewengkan wewenang yang dimilikinya atas dasar kesadaran bahwa apapun yang diperbuatnya semasa memangku jabatan akan dimintai pertanggungjawaban. Islam memiliki sistem penggajian dan fasilitas yang layak hingga tak ada alasan keterbatasan ekonomi yang memicu terjadinya pengkhianatan terhadap amanah jabatan. Abu Ubaidah pernah berkata kepada Umar, ”Cukupilah para pegawaimu, agar mereka tidak berkhianat.”

Syariah Islam mengatur SDA adalah bagian dari kepemilikan umum. Keberadaannya wajib dikelola oleh negara. Sedang hasilnya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Haram hukumnya menyerahkan pengelolaannya pada individu, pihak swasta apalagi asing. Sabda Rasulullah, "kaum muslim berserikat dalam tiga hal : air, rumput, dan api" (HR Ibnu Majah). Rasulullah SAW juga bersabda, "tiga hal yang tak boleh dimonopoli : air, rumput dan api (HR Ibnu Majah) 

Terkait kepemilikan umum, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadist dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadist tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul SAW untuk dapat mengelola tambang garam. Rasul SAW lalu meluluskan permintaan itu. Namun beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, "Wahai Rasulullah tahukah anda, apa yang telah anda berikan kepada dia?  Sungguh anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir"  Rasul SAW kemudian bersabda, "Ambil kembali tambang tersebut dari dia" (HR At-Tirmidzi)

Sudah saatnya kita kembali mengelola SDA negeri sesuai aturan Illahi. Agar problem pejabat makelar SDA mampu diakhiri. Kemiskinan di tengah berlimpah SDA di masa mendatang tak lagi kita temui. Kekayaan alam tak sekedar bisa dinikmati segelintir orang tapi mampu memberi kemaslahatan bagi rakyat kebanyakan. Wallahu’alam bish showab.

*Anggota Komunitas Penulis Bela Islam dari Sidoarjo

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.