Keselamatan Bagi Pekerja Tambang

Hot News

Hotline

Keselamatan Bagi Pekerja Tambang




Oleh : Hanifah*

Dapurpena.com - Derita para penambang pasir tradisional di Pumpung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru  kian merebak. Pertambangan mereka longsor dan  menimbulkan korban jiwa. Senin (21/1) pukul 13.00 Wita, tepatnya lokasinya masuk wilayah RT 31 RW 09 Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka, seorang pekerja tambang pasir bernama Muhammad Tauhid (32) meninggal dunia akibat tertimbun longsor.

 Nyawa warga Cempaka RT 23 RW 08 Kelurahan Cempaka ini tak tertolong meskipun sempat dievakuasi dari timbunan longsor dari material pasir bercampur tanah dan batu tersebut, tribunnews.com (21/1). Tak  amannya daerah pertambangan pasir ini menyebabkan rawan kecelakaan bagi pekerjanya. 

Berdasarkan penjelasan Lurah Sungai Tiung, Putra Y Ariesandi mengatakan aktivitas pertambangan pasir dan intan di wilayah tersebut memang terus berlanjut sampai sekarang, "Khusus saat akhir pekan tidak hanya penambang yang ramai melakukan aktivitas, para wisatawan juga terkadang  ramai berdatangan untuk melihat aktivitas para penambang," katanya. 

Namun diakuinya, kondisi pertambangan pasir memang cukup membahayakan khususnya saat musim penghujan. Lokasi tanah kurang stabil dan mudah longsor saat musim penghujan, tribunnews.com (25/1). Ditambah aktifitas penambangan hanya dikelola seadanya oleh para penambang yang memiliki banyak keterbatasan, khususnya fasilitas dan alat tambang yang  kurang layak dan aman.

 Hingga kini belum ada upaya serius dari  pemerintah untuk memperbaiki daerah pertambangan pasir ini agar mempermudah masyarakat bekerja di sana, sekaligus membuat lebih aman. Hanya himbauan dari kelurahan setempat pada  warganya agar berhati-hati saat melakukan aktivitas tambang.

Apa yang tengah  terjadi, membuktikan bahwa masih minimnya perhatian dari pemerintah terhadap kebutuhan  masyarakat dalam penyediaan lapangan pekerjaan yang layak dan aman. Hingga kejadian yang  memakan  korban  jiwa terus berulang. Karenanya  Perlu ada tindakan yang cepat dan tepat agar kondisi ini tidak terjadi kembali. 

Pemerintah harus memberikan jaminan bahwa masyarakat akan aman dan terlindungi dari bahaya saat  mereka bekerja. Sebagaimana pengelolaan lapangan pekerjaan dalam system ekonomi Islam yang diterapkan oleh negara bahwa lapangan pekerjaan yang disediakan negara dalam Islam  haruslah  memperhatikan sisi keamanan dan kelayakannya. 

Apalagi  jika pekerjaan tersebut  berkaitan dengan eksplorasi sumber daya alam, baik di atas bumi maupun di dalam perut bumi. Negara berkewajiban  memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyat  dalam  bekerja. Negara juga  memperhatikan  keamanan lokasi-lokasi penambangan yang di situ pasti banyak pekerja yang dilibatkan. Sehingga berbagai kecelakaan kerja bisa diminimalisir. 

Di samping itu, harus diperhatikan  bahwa penambangan tidak akan  membawa dampak pada pencemaran dan perusakan lingkungan, pelaksanaan harus didasarkan  rencana pertambangan yang sistematis yang mempertimbangkan aspek kerusakan lingkungan dari eksplorasi sampai pada reklamasi.

 Islam mempunyai pandangan dan konsep yang sangat jelas terhadap perlindungan dan pengelolaan  lingkungan sumber daya alam. Karena manusia adalah khalifah Allah di muka bumi yang diperintahkan tidak hanya untuk mencegah perilaku  menyimpang (nahi munkar), tetapi juga untuk melakukan perilaku yang baik (amr ma’ruf). 

Pengelolaan sumber daya alam tambang harus tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Karena kerusakan sumber daya alam tambang oleh manusia harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Prinsip ini didasarkan pada Q.S. al-Rum, (30):41 bahwa
“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. 

Selanjutnya dalam  persepektif Islam  telah dijelaskan  bahwa seluruh kekayaan yang Allah dan Rasul-Nya telah nyatakan untuk masyarakat banyak terkategori sebagai barang milik umum. Islam melarang  individu/sekelompok orang/swasta untuk menguasai ketiga jenis kekayaan milik masyarakat tersebut: 

Nabi saw, bersabda, sebagaimna yang dituturkan Ibn Abbas: “Kaum Muslim berserikatlah dalam tiga hal, yaitu Air, padang rumput/hutan dan api/energy/barang tambang.” (HR Ahmad).
Maka, yang dimaksud di sini adalah  barang tambang yang terkategori kepemilikan umum karena jumlahnya melimpah.  Ini akan dikelola hanya oleh negara, hasilnya harus diberikan kepada rakyat dalam bentuk barang yang murah atau subsidi untuk kebutuhan primer, seperti: pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum.  

Semangat pelayanan  tentu  sangat berbeda dengan semangat bisnis.  Pelayanan adalah memberikan yang terbaik bagi masyarakat, serta harga yang murah serta ketersediaan barang yang cukup.  Sebaliknya, Bisnis adalah mengeruk keuntungan  sebesar-besarnya.

  Solusi fundamental hal tersebut adalah syari’at Islam yang diterapkan bukan saja pada sektor pertambangan tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.  Hanya melalui perubahan yang fundamental inilah kesejahteraan dan kemakmuran akan dapat diraih sebagaimana yang menjadi cita-cita rakyat ini.

Sebaliknya  barang  tambang yang secara jumlah tidak melimpah maka dapat dipersilahkan secara individu untuk mengelolanya, di mana negara tetap akan  memastikan bahwa penambangan dilakukan secara aman. 

Ini lah jalan yang seharusnya ditempuh yaitu negara menerapkan politik ekonomi Islam. di mana  negara akan  hadir dengan perannya sebagai pengayom  rakyatnya secara benar, hingga tercapai kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Wallahu 'alam.


 
* Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat dari Banjarbaru


Editor Lulu
 

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.