Komik LGBT Melejit, Kemaksiatan semakin Eksis

Hot News

Hotline

Komik LGBT Melejit, Kemaksiatan semakin Eksis


Oleh : NS Rahayu, S.Pd*


Dapurpena.com- LGBT makin eksis! Tanpa sungkan dan tedeng aling-aling (sembunyi) lagi, mereka blak-blakan mengeksiskan dirinya dalam masyarakat  agar dikenal, diterima bahkan mencari pendukung dan pengikut di ranah-ranah publik.

Seperti pada bulan Januari 2019 kemarin mereka mengeluarkan komik  lewat akun instagram @Pantuni yang digambarkan sebagai lelaki muda berkopiah (muslim), tapi isinya vulgar dengan aktivitas penyimpangan seksual. Akun itu diduga berasal dari Malaysia, namun ramai diserbu oleh netizen RI. Hanya dalam hitungan hari, pada minggu (10/2) malam, akun tersebut sudah memiliki 3.708 ribu followers. Tentu saja hal ini meresahkan dan membuat geram masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha juga bereaksi keras. Dia menegaskan tak ada tempat bagi LGBT di Indonesia. "Tidak ada tempat bagi LGBT di Indonesia, sebab negara kita memang bukan negara agama, tapi negara yang memiliki agama. Semua kitab yang dibaca, Alquran bagi muslim, Injil bagi Nasrani dan Taurat bagi Yahudi dan lain-lain melarang perkawinan sejenis," kata Tamliha kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

Banyak laporan agar akun tersebut ditutup , karena akan membawa kerusakan generasi. Aksi penyimpangan yang masif , vulgar dan terang-terangan bersama para pendukungnya tidak lepas karena sistem sekuler  (memisahkan peran agama dari kehidupan), yang memberikan ruang kebebasan berekspresi yang dipayungi oleh ide HAM (hak asasi manusia). HAM menjadi tameng seluruh kegiatan mereka. Sistem sekuler demokrasi memberi ruang suburnya kemaksiatan termasuk aktivitas suka sesama jenis ini. Semua ini membahayakan umat dan kehidupan karena pintu kebebasan penularan perilaku menyimpang mereka makin terbuka lebar tanpa ada jerat hukum yang bisa mempidanakan mereka.

Negara  sudah seharusnya mendengar keluhan masyarakat yang resah dengan adanya komik ini dan menuntaskannya dengan melarang penyebarluasan opini penyimpangan seksual ini via media dan memberikan sanksi yang keras sebagaimana hukum Islam untuk solusi tuntas masalah  suka sesama jenis.

Di dalam Islam, ide dan perilaku seksual seperti ini jelas menyimpang dan abnormal. Ide ini adalah ide haram. Perilaku ini adalah perilaku dosa. Karena itu ide tersebut tidak boleh dilindungi oleh negara dengan dalih apapun.  Sebaliknya negara harus menjatuhkan sanksi sesuai hukum Islam.

Preventif (pencegahan) : Islam mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat sebagai benteng yang menghalangi muslim terjerumus pada perilaku penyimpangan seksual, menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan. “Nabi saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki”. (HR al-Bukhari).

Kuratif (menyembuhkan), menghilangkan homoseksual dan memutus siklusnya dari masyarakat dengan menerapkan hukuman mati bagi pelaku sodomi baik subyek maupun obyeknya.  “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)

Hukuman untuk homoseks adalah hukuman mati, tak ada khilafiyah di antara para shahabat Nabi SAW dan  fuqoha . Hanya saja para sahabat Nabi SAW berbeda pendapat mengenai teknis hukuman mati untuk pelaku kerusakan ini.

Dengan membiarkan aktivitas dosa ini, maka mereka pun makin yakin untuk mengeksis keberadaan mereka dengan segala upaya. Sistem demokrasi liberal tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Sebaliknya, sistem ini justru akan memberikan ruang, dukungan dan upaya melegalkan aktivitas abnormal itu seperti yang terjadi di banyak negara penganut sistem demokrasi.

Di sini nampak nyata perang ideologi dan opini dengan menggunakan kekuatan negara. Sebab, kasus tersebut tersebut lahir dari kebebasan yang dibawa ideologi kapitalisme liberal. Ideologi ini telah menyuburkan aktivitas penyimpangan ini.

Dan solusi tuntas bagi masalah ini adalah dengan menegakkan hukum syariat Islam secara sempurna di mana negara sebagai pengembannya. Hal ini hanya bisa terjadi dengan mengganti sistem ideologi demokrasi liberal dengan sistem Islam. Wallahu ‘alam bishawab.



*Member Komunitas Menulis 'Setajam Pena' dari Ngawi Jawa Timur




Ilustrasi huffingtinpost.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.