Liberalisasi Berkedok Gelar “Paling Santai”

Hot News

Hotline

Liberalisasi Berkedok Gelar “Paling Santai”


Oleh: Anisa Fitri Mustika Bela*

Dapurpena.com - Indonesia negara indah di Asia. Kekayaan alam berlimpah menjadi karunia Allah Ta’ala. Tujuh belas ribu banyaknya pulau tersebar luas membuat hati terpukau. Laut biru, bukit indah dan gunung nan hijau, semua itu nyata bukan hayalan. Mata dunia sorot Indonesia, memberi gelar negara paling santai di dunia, akibat keindahan alamnya. Dianggap surga tropis dengan pengalaman bersantai paling strategis. 

Pesona alam itu berakhir tragis. Pembabatan hutan bakau di tepi pantai demi pembangunan tempat maksiat. Tempat hiburan pun dibangun di pegunungan. Sumber pendapatan negara jadi alasan, liberalisasi berkedok pariwisata dilakukan.

Gelar negara paling santai di dunia atau Most Chilled Out Countries in The World disematkan kepada Indonesia melalui laporan dari agen perjalanan di Inggris, yakni Lastminute.com. Gelar tersebut merupakan sebuah hasil penelitian yang ditinjau dari berbagai faktor. Mulai dari banyaknya cuti tahunan, faktor polusi suara, faktor cahaya (lingkungan), faktor HAM, budaya dan banyaknya lokasi spa atau retret lainnya. Maksud dari julukan negara santai ini kaitannya dengan relaksasi yang santai dan memanjakan momen liburan. (travel.tribunnews.com, 26/1/2019).

Maknanya, Indonesia memiliki banyak tempat wisata yang nyaman dan cocok untuk bersantai didukung oleh pesona alam Indonesia yang indah nan memukau, seolah menyorot Indonesia sebagai destinasi pariwisata baik di dunia. Tak ayal mendorong masifnya liberalisasi dan sekularisasi melalui pariwisata yang digalakkan oleh pemerintah maupun pihak swasta. 

Munculnya hiburan malam yang kian menjamur dan dilegalkan menjadi momok menakutkan penyebaran ide-ide kebebasan. Intrusi kebudayaan Barat yang kerap bertelanjang di tepian pantai dengan sebutan “berjemur” telah merusak pemahaman dan moral masyarakat. Dilegalkannya barang, jasa maupun tempat yang haram hukumnya atas dasar pemasukan pendapatan negara dari sektor pariwisata, seolah lupa bahwa kekayaan dan keindahan alam Indonesia adalah karunia Allah Ta’ala.

Menurut hasil penelitian Lastminute.com Indonesia berada di urutan teratas sebagai destinasi terbaik, dengan faktor lingkungan yang unggul dari semua negara, kemudian budaya di peringkat enam, banyaknya cuti di peringkat 13 dan hak asasi manusia di peringkat 14.

“Surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan pusat kebugarannya. Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celcius dan 54.716 mil dari garis pantai,” dikutip dari Lonely Planet. (travel.kompas.com, 25/1/2019)

Indonesia berjuluk surga tropis juga mempunyai 66 spa dan retret kesehatan. Para pekerja di Indonesia punya keleluasaan menikmati rata-rata 30 hari libur per tahun. (beritagar.id, 23/01/2019).

Ruang hijau, suhu rata-rata, pantai, garis pantai, pegunungan, lautan, dan pesona alam lainnya merupakan anugerah Allah Ta’ala yang semestinya dijaga berdasarkan hukum-Nya. Apalagi Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar sangat berpotensi menjadi benih kebangkitan Islam yang dapat membawa kesejahteraan. Namun sayang, potensi itu seolah dimandulkan melalui skenario global dari munculnya gelar paling santai di dunia demi memasifkan proses liberalisasi dan sekularisasi melalui pariwisata. 

“Analisis kami terhadap negara-negara yang paling santai di dunia mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat sebagai negara yang paling santai dibandingkan semua negara lain dalam penelitian kami,” ujar Reigo Eljas, Country Director Lastminute.com untuk inggris dan Irlandia, (beritagar.id, 23/01/2019).

Peringkat itu seolah menunjukkan wujud nyata dari adanya propaganda menjadikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata. Umat harus waspada atas skema dunia dalam propaganda untuk melanggengkan kapitalisme, ideologi penjajah berkuasa. Ideologi haruslah dilawan dengan ideologi. Jikalau ideologi kapitalisme berusaha membangun kesadaran masyarakat dengan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan liberalisme (ide-ide kebebasan) demi terwujudnya masyarakat kapital yang selalu berlandaskan kemaslahatan alias manfaat untuk kehidupan duniawi.

Maka ideologi Islam harus melawan dengan membangun kesadaran ideologis masyarakat dengan berlandaskan Akidah Islamiyyah dan upaya penegakan syariat Islam, sehingga mampu melawan penjajahan negara Barat. Masyarakat juga harus melakukan kasyful khuthath wa darbul alaqat (menyikapi keburukan penguasa yang membuat rakyat tidak simpatik kepadanya). 

Sebagaimana ideologi kapitalisme melancarkan nekolim (neo kolonialisme-imperialisme) dengan sebuah sistem pemerintahan demokrasi dalam bentuk nation state, maka masyarakat yang memiliki kesadaran ideologi Islam juga harus berjuang dengan sebuah sistem pemerintahan, yakni institusi Khilafah yang mampu melengserkan penjajah dan seluruh pemikirannya yang merusak. Wallahu’alam bishawwab.


*Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.