Lintas Agama, Bukan Solusi Umat

Hot News

Hotline

Lintas Agama, Bukan Solusi Umat


Oleh : Lulu Nugroho*



Dapurpena.com- Arang habis, besi binasa. Tindakan sia-sia selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Sekalipun sekelas pangeran, anak pemimpin negeri, juga sekelas ulama. Akan tetapi jika tidak menggunakan Islam sebagai Qiyadah Fikriyah, maka akan salah jalan.

Sheikh Ahmed dan Paus Fransiskus berbicara di hadapan beragam perwakilan agama di Abu Dhabi setelah menandatangani 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama'. Sheikh Ahmed menekankan bahwa umat Kristen adalah "rekan kita".

Dokumen itu menyeru kepada semua pemimpin dunia untuk bekerja sama "menyebarkan budaya toleransi" dan "mengintervensi kejadian dari awal demi menghentikan pertumpahan darah orang tak berdosa dan mengakhiri peperangan, konflik, pembusukan lingkungan, dan degradasi moral yang dialami dunia saat ini".

Tercantum pula kecaman terhadap mereka yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan aksi kekerasan. "Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak perlu dibela siapapun dan tidak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang," sebut dokumen itu.

Dalam pertemuan lintas agama, Paus dan ratusan pemuka agama lainnya dari seluruh dunia menghadiri Global Conference of Human Freternity di Abu Dhabi, Senin (4/2/2019). Paus Fransiskus memulai kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab. Kehadirannya disambut oleh Putra Mahkota Abu Dhabi, Pangeran Syeikh Mohammed bin Zayed dan Imam Al Azhar Kairo, Syeikh Ahmed al-Tayeb.

Sheikh Ahmed kemudian menyeru kepada semua umat muslim di Barat untuk mengintegrasikan diri ke dalam masyarakat dan pada saat bersamaan mempertahankan identitas serta menghormati hukum setempat. "Jika Anda punya masalah terkait agama di negara tempat Anda berada, Anda perlu berbicara kepada pemuka agama dan tuntaskan dengan cara itu."

Dalam kesempatan yang sama, Paus Fransiskus menyerukan penghentian peperangan di Timur Tengah. Kepala Gereja Katolik Roma itu mengatakan "konsekuensi" kekerasan dapat terlihat di Yaman, Suriah, Irak, dan Libia. (Bbc.com 5/2).

Sungguh aneh pernyataan yang ke luar dari Syeikh Ahmed. Seorang muslim yang tidak membela saudaranya sendiri. Justru berteman dengan musuh-musuh Islam. Akhirnya, opsi jalan tengah yang selalu diambil oleh pendukung lintas agama. Mereka memandang ada warna abu-abu di antara hitam dan putih. Padahal yang haq itu jelas terlihat saat disandingkan dengan yang batil.

Allah SWT berfirman:
وَقُلْ جَآءَ الْحَـقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۗ  اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
"Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap." (Q.S. Al-Isra' 17: Ayat 81)

Pertemuan lintas agama sejatinya tidak akan mendatangkan kebaikan bagi umat. Syariat ditempatkan di bawah hukum buatan manusia. Menggunakan hukum baru, produk pemikiran manusia, selamanya tidak akan menuntaskan persoalan umat. Bahkan umat Islam kerap kali menjadi tertuduh, dengan berbagai framing negatif yang disematkan padanya.

Berbagai kerusakan dan penderitaan yang terjadi, baik itu peperangan, konflik, pembusukan lingkungan, dan degradasi moral yang dialami dunia saat ini, jelas bukan berasal dari Islam. Justru ideologi rusak yang mereka embanlah penyebabnya.

Sebaliknya kebangkitan umat dituduh sebagai tindakan intoleran. Melepaskan diri dari penjajahan dan tindakan zalim negeri-negeri kufur, dianggap sebagai radikalisme. Membela diri dan agama, dianggap sebagai tindakan memecah belah. Tampak terlihat sesat pikir akibat buruknya ideologi mereka. Maka berteman dengan musuh-musuh Islam bukanlah cara untuk ke luar dari masalah.

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Q.S. Ali Imran [3]: 118).

Bahkan ketika akhirnya ke luar dari lisan mereka bahwa 'Tuhan tidak perlu dibela', bagi mereka memang seperti itulah adanya. Sebab landasan berpikir mereka adalah fashluddin annil hayah. Tuhan hanya ada pada perkara ibadah. Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan tidak memiliki peran.

Berbeda halnya dengan Islam. Seluruh aktivitas kita terikat dengan hukum syara'. Allah berada pada tempat yang tinggi di hati dan kepala umat. Perbuatan manusia di dalam Islam, kelak diminta pertanggungjawabannya. Begitu pula halnya ketika kita menegakkan yang haq, sejatinya itu adalah untuk memastikan posisi kita di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Q.S. Muhammad 47: Ayat 7).

Oleh sebab itu, tidak ada jalan ke luar yang baik bagi umat kecuali mengembalikan kepemimpinan umat yang hilang. Percaya pada pengemban ideologi kufur, dengan segala aktivitas dialog antar agama yang mereka lakukan, tidak akan menyelamatkan umat. Hanya satu perisai yang mampu melindungi umat, yaitu Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Allahummanshurnaa bil Islaam.

Editor : M.N. Fadillah


*Muslimah WCWH batch-3 dari Cirebon


Ilustrasi dribbble.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.