Menyoal Akhlak Bejat Murid Zaman Now

Hot News

Hotline

Menyoal Akhlak Bejat Murid Zaman Now



Oleh Hanifah Al Azkia*




Dapurpena.com- Masih lekat dalam ingatan,kisah Pak Budi (Ahmad Budi Cahyono), guru mata pelajaran Seni Rupa SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura. Meninggal dunia di Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, Kamis (1/2/2018) malam. Pak guru Budi meninggal dunia karena diduga dianiaya siswanya sendiri, MH.Tepat setahun yang lalu. Berita ini viral.

Dan di awal bulan Februari 2019 ini hal senada terjadi.Sebuah video antara murid dan guru viral di media sosial. Bagaimana tidak, dalam video yang diambil di dalam kelas itu, si siswa justru tampak melawan gurunya sendiri.

Usut punya usut, peristiwa itu terjadi di kelas IX SMP PGRI Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Kejadian yang videonya viral pada Sabtu (9/2/2019) malam itu, sebenarnya terjadi pada hari Sabtu (2/2/2019) sekitar pukul 08.00 WIB.

Seorang siswa laki-laki bernama AA (15) mengenakan seragam pramuka, dan topi yang bukan milik sekolah di dalam kelas mengamuk ketika ditegur gurunya agar tidak merokok di dalam kelas. Di dalam video itu, AA sempat beberapa kali melawan dengan menarik kerah baju gurunya. Tak hanya itu, dia juga sempat memegang kepala sang guru bernama Nur Khalim (30).

Ini bukan peristiwa kedua,searching di Google "murid pukul guru", maka muncul banyak sekali kisah serupa.Semua fakta ini tentu membuat kita mengelus dada sambil istighfar dan geleng-geleng kepala.

/Akar Masalah/
Coba kita telisik apa yang salah dengan dunia pendidikan kita ini?Jikalau mau jujur,tentu kesalahan tidak mutlak di tangan si pelajar. Kita semua bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini. Kita adalah orang-orang yang harus ikut bertanggung jawab atas musibah moral ini.

 Ada banyak kriminalitas remaja yang sangat mengiris hati,adab terhadap guru adalah salah satunya saja. Setidaknya ada tiga faktor yang mempegaruhi perilaku seorang anak remaja:

Pertama, pendidikan dan pembinaan dari orang tua. Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi (HR. Bukhori)

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan prilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.

Kedua faktor lingkungan. Lingkungan adalah faktor yang mempengaruhi perilaku dan watak anak, jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk maka akhlaknyapun akan seperti itu dan sebaliknya jika dia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »
Dari Abu Hurairah dari nabi SAW bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang di antara kalian, siapa yang menjadi temannya (HR. Ahmad)

Belum lagi sikap hidup masyarakat kita saat ini yang cenderung individualis dan ogah "ikut campur" urusan orang lain. Padahal dalam Islam amar ma'ruf nahi munkar dan saling menasehati adalah amalan wajib yang berpahala besar.

Ketiga negara, dalam hal ini melalui institusi pendidikan

Sekolah yang kita lihat hari ini jarang yang mendidik untuk menjadi orang yang bertakwa kecuali sebatas slogan saja. Mereka hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia, agama hanya sedikit.Pelajaran agama hanya 4 JP perminggu, tentu ini sangat kurang sekali.Maka adalah kewajiban bagi Negara menyediakan Sekolah-sekolah yang berkualitas dengan kurikulum yang tepat dan tanpa biaya.

/Solusi/

Dari berbagai permasalahan yang terjadi di kalangan pelajar masa kini, maka ada hal-hal yang perlu kita perhatikan.Peran kita harus dimaksimalkan baik sebagai orangtua maupun anggota masyarakat. Dan tentu saja peran Negara sangat vital.

Pertama, pembinaan dalam kluarga. Sebagaimana disebut di atas bahwa kelurga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak,. Jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan.

Jangan sampai ada kata-kata bohong. Membaca do’a setiap melakukan hal-hal kecil. Memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan. Memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar. Adab terhadap yang lebih tua juga harus kental teraplikasi secara syar'i.

Kedua, lingkungan yang baik. Sebagaimana disebutkan di atas, lingkungan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perilaku manusia. Maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang salih.

Memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal yang negatif akan sedikit berkurang.Jika juga menanamkan budaya saling menasehati dengan cara yang ma'ruf.

Ketiga, sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan pelajar.Pihak sekolah harus senantiasa bersinergi dengan pihak keluarga terkait penanaman akidah, akhlak,keterikatan terhadap hukum syara' dan bersama-sama dengan masyarakat juga melakukan kontrol sosial.

Negara haruslah membuat sebuah kurikulum syar'i dan berjenjang,di mana penguatan dan penguasaan yang pertama adalah akidah dan tsaqofah Islam dasar, bukan calistung apalagi bahasa Inggris.Jika anak kuat akidah dan tsaqofah Islamnya, tentu kejadian kriminalitas dan juga dekadensi moral tidak akan terus berulang.

Hari ini ada banyak sekolah-sekolah Islam boarding school dengan kurikulum yang bagus,tapi sayang hanya terjangkau oleh kalangan "the have" saja. Hal ini wajar, karena mereka butuh dana untuk menggaji para asatidz dan juga operational sekolah. Jika negara yang menyediakan sekolah-sekolah seperti ini dan tentu saja gratis, dampak positifnya akan bisa dirasakan

Negara juga harus menyerukan para orang tua untuk ikut taklim-taklim yang disediakan oleh negara, sehingga orangtua yang minim pemahaman agamapun bisa teratasi.Di sisi lain negara juga wajib menerapkan sistem sanksi sesuai dengan Islam.Pelajar yang sudah baligh di dalam Islam adalah makhluk dewasa yang sudah terkena taklif hukum pun harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dia lakukan.

Hal ini berbeda dengan pandangan Indonesia,yang menetapkan usia anak sampai 18 tahun.Uqubat Islam-sistem sanksi dalam Islam hanya bisa tegak jika ada institusi Islam. Muara dari semua kebejatan baik pelajar maupun orangtua akan selesai jika negara tegak atas Alquran dan sunnah. Menerapkan Islam di semua lini kehidupan.



*Praktisi Pendidikan dari Probolinggo


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.