Saat Toleransi Berbalut Keragaman

Hot News

Hotline

Saat Toleransi Berbalut Keragaman


Oleh Desi Ratna Wulan Sari*



Dapurpena.com- Hidup dalam satu negara yang penuh dengan kerukunan antar umat beragama tentunya menjadi harapan semua masyarakat. Khususnya masyarakat Indonesia yang penuh dengan ragam budayanya. Negara pun mengakui  beberapa agama sebagai legalisasi keyakinan yang dianut oleh umatnya masing-masing.

Baru-baru ini sedang berlangsung satu perayaan tahun baru Imlek yang dirayakan oleh umat konghuchu di seluruh dunia. Tak kalah menarik dan ramainya acara ini memiliki puncak acara yang dinantikan umat konghuchu yaitu perayaan Cap Go Meh (CGM). Bahkan karena sudah meluasnya perayaan  umat konghuchu ini maka semakin banyaknya umat yang beragama lain yang dilibatkan dalam kegiatan perayaan ini.

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama 15 hari.

Satu kepercayaan ideologi, bisa berupa agama ataupun sinkretisme. Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau paham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan.

Sinkretisme, seperti yang dijelaskan oleh John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, adalah fenomena bercampurnya praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan dari sebuah agama dengan agama lainnya sehingga menciptakan tradisi yang baru dan berbeda. Derajat identifikasinya sangat beragam sehingga sulit membedakannya dengan praktik bid'ah yang diperdebatkan.

Jika melihat sejarah Tridharma (Hanzi: 三教, hanyu pinyin: sanjiao) adalah sebuah kepercayaan yang dapat digolongkan ke dalam agama Buddha. Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, berarti harfiah tiga ajaran. Tiga ajaran yang dimaksud adalah Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme.

Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.

Sehingga apa yang ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat kita saat ini seperti perayaan Cap Go Meh merupakan sinkrestisme yang muncul dari kepercayaan orang-orang tionghoa yaitu konghuchu. Jika kita kaitkan dengan perayaan bersama bagi antar umat yang ada di Indonesia atas nama toleransi, mungkin dapat dikaji ulang kembali pemahaman seperti itu.

Karena melihat fakta yang ada saat ini, justru makna toleransi yang digulirkan adalah versi sekuler liberal yang berarti pluralisme dan sinkretisme. Namun, kaidah toleransi di sini telah meluas bahkan menjadi abu-abu. Tidak ada batasan dan kejelasan mana yang bisa dijadikan toleransi antar umat dan mana toleransi yang tidak diperbolehkan dalam pelaksanaan ibadah satu umat tertentu.

Campur aduknya definisi toleransi yang dibuat berdasar pikiran manusia dalam sistem sekuler liberal ini, membuat umat memiliki persepsi yang kurang tepat dengan apa yang dibenarkan dalam syariat. Bahwa toleransi dapat dilakukan dengan ikut serta dalam perayaan tersebut. Padahal jelas sekali bahwa perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh merupakan perayaan ibadah khusus umat konghuchu saja. Kita tidak bisa  mencampuradukkan antara perayaan yang berkaitan dengan ritual ibadah dengan festival budaya etnis tertentu.

Indonesia kaya akan ragam budaya, sudah semestinya kita bisa menikmati beragam budaya yang menjadi hiburan positif masyarakat Indonesia itu sendiri. Tetapi jangan sampai salah tempat, hingga menjadi bentuk pelanggaran syariat.

Toleransi Yang Dibenarkan Islam

Islam mengedepankan sikap toleransi. Namun toleransi dalam Islam memiliki batasannya yaitu akidah, yang merupakan hal sangat prinsipil bagi muslim sejati. Prinsip ini harus dipertahankan, karena akidah adalah harga mati yang tidak boleh tawar menawar.

Ustaz Abizal yang juga Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini memaparkan, betapa banyak umat Islam saat ini yang ikut-ikutan merayakan hari besar agama lain. “Harus diingat, hal tersebut sangat bertentangan dengan penegasan Allah SWT dalam Alquran Surat Al-Kafirun, karena dapat merusak aqidah,” (Serambinews.com, 22/12/2017).

Sikap toleransi umat Islam terbaik adalah dengan menghargai mereka merayakan hari kebesaran mereka dengan tidak mengganggu kenyamanan mereka, dan tidak pula menghalangi mereka merayakannya.

Dalam Alquran Allah menegaskan: "Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az-zuur (perbuatan yang merusak akidah seperti menyembah berhala), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan: 72).

Juga disebutkan dalam firman Allah: "Allah SWT tidak melarang muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Al-Mumtahanah ayat 8.

Jangan sampai memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqqa bil bathil, mencampuradukkan antara hak dan batil. Suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, yang mengarah sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Harus kita bedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalah membenarkan semua keyakinan/agama. Hal ini dilarang oleh Islam karena termasuk syirik. Sinkretisme mengandung talbisul haqqa bil bathil.

Saat kesadaran umat kembali kepada pemahaman yang haq, maka jelas umat tidak lagi memahami bahwa leburnya toleransi beribadah agama lain menjadi budaya yang bisa dinikmati oleh semua orang adalah sesuatu yang dibenarkan. Justru kesadaran ini membuat umat semakin bisa menghargai dan menghormati umat konghuchu  untuk bisa menjalankan ibadahnnya sendiri tanpa ada partisipasi umat Muslim atau umat yang lainnya atas nama toleransi.
Wallahu a'lam bishawab


*Muslimah dari Bogor

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.