Solusi Islam Terhadap Kejahatan Seksual Anak

Hot News

Hotline

Solusi Islam Terhadap Kejahatan Seksual Anak


Oleh: Chezo*

Beberapa hari belakangan ini, kita disuguhi berita yang cukup memprihatinkan, yakni perkosaan dan kekerasan seksual yang marak terjadi di masyarakat. Tidak tanggung-tanggung bahkan pelakunya ternyata adalah orang yang terdekat dengan korban. Bahkan pada beberapa kasus, ibu kandung justru tidak berupaya melindungi putrinya dan malah membantu sang pelaku melancarkan aksi bejatnya itu.

Hal ini tentunya membuat kita miris, di mana sosok seorang ibu yang seharusnya bertindak sebagai seorang pelindung bagi anak-anaknya tetapi ia mengabaikan hal itu. Ia malah mendorong anak untuk menerima kekerasan tersebut dengan mengiming-imingi akan memberikan hadiah jika sang anak mau melakukannya. (m.detik.com/08/02/2019).

Kejahatan seksual yang dilakukan orang dikenal bukanlah hal langka dalam catatan kriminal di Indonesia karena jumlah kasus hal tersebut tidaklah sedikit. Ringannya hukuman bagi pelaku menjadi bukti semakin maraknya kasus ini. Hukuman yang diberikan oleh pemerintah masih tidak memberikan efek jera.

Dalam undang-undang yang berlaku, pelaku tindak pencabulan anak di bawah umur umumnya akan dijerat Pasal 81 dan 82 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan hukuman antara 3 sampai 10 tahun penjara. Sementara dalam KUHP, tindak pemerkosaan diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun. 

Namun para hakim sangat jarang menjatuhkan hukuman maksimal. Karenanya beberapa tahun yang lalu Solidaritas Masyarakat Anti Kekerasan mengusulkan hukuman bagi pelaku kekerasan seksual dihukum minimal 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup. Dengan harapan semakin lamanya hukuman, maka semakin tercegah orang melakukan tindakan kejahatan seksual.

/Kapitalisme Sebagai Akar Masalah/

Maraknya kejahatan seksual saat ini tentu tidak bisa dilepaskan dari lingkungan di mana kejahatan tersebut tumbuh dan berkembang. Kejahatan seksual, termasuk pelecehan seksual terhadap kaum perempuan dan anak bukanlah merupakan fenomena tunggal yang berdiri sendiri. Hal ini terjadi karena dipicu oleh banyak faktor sehingga tidak mungkin bisa diselesaikan hanya dengan menindak pelaku kejahatannya, tanpa memperhatikan faktor lain yang menjadi akar masalahnya. 

Kejahatan seksual terjadi disebabkan karena kesalahan pengaturan pola interaksi wanita dan pria dalam sistem Kapitalisme. Dalam pandangannya, kapitalisme menganggap bahwa interaksi antara perempuan dan laki-laki selalu berorientasi pada seksual semata. Oleh karena itu, wajar bila beragam fakta-fakta baik itu televisi, buku-buku, maupun internet sengaja menampilkan fakta-fakta yang membangkitkan syahwat. Akibatnya, hasrat seksual laki-laki menjadi liar dan akhirnya menyasar orang lemah yang ada di sekitarnya. Hal ini diperparah dengan adanya peredaran miras dan lemahnya hukum di Indonesia. 

Beragam penyebab munculnya kasus kejahatan seksual pun lahir dari Kapitalisme. Yang parah, berbagai penyebab itu dilahirkan karena alasan keuntungan. Video porno misalnya terus diproduksi karena memiliki keuntungan yang sangat besar. Dalam pandangan Kapitalisme, apapun yang bisa menghasilkan keuntungan akan diproduksi tanpa memandang lagi keharaman dan bahaya atau tidaknya sesuatu itu. Oleh karena itu, wajar saja bila video porno dan miras terus diproduksi. 

Sementara pada saat yang sama, agama tidak lagi dijadikan sebagai pondasi kehidupan.  Hal ini terjadi sebagai dampak dari adanya sekularisasi (pemisahan antara agama dan pengatur kehidupan). Sehingga menjadi sesuatu yang wajar bila keharaman dan bahaya atau tidaknya suatu hal dapat dengan mudah beredar di tengah masyarakat.

Sistem Kapitalisme dengan azas manfaatnya (naf’iyyah) telah melahirkan kebebasan bertingkah laku (hurriyyah syakhshiyyah), kebebasan berekspresi (hurriyah ta’bîr), kebebasan beragama (hurriyah tadayyun), dan kebebasan memiliki (huriyyah tamalluk) di tengah-tengah masyarakat. Sehingga sistem ini secara sistemik telah merusak tatanan agama dan moral.

/Syariah Islam Sebagai Solusi/

Berbagai solusi penyelesaian sebenarnya sudah ditempuh oleh pemerintah. Namun semua solusi yang telah dilakukan ternyata tidaklah menyentuh akar masalah sehingga fenomena kasus kejahatan ini terus bertambah.

Islam memiliki paradigma yang khas dalam penyelesaian kasus seperti ini. Di mana Islam akan menangani masalah ini dengan penerapan aturan yang integral dan komprehensif. Tidak mungkin kita bisa menyelesaikan masalah kekerasan dan kejahatan seksual jika yang melakukannya hanya individu atau keluarga. Sehingga negara adalah benteng sesungguhnya yang melindungi keselamatan seluruh rakyatnya. 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
 “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

Mekanisme perlindungan negara dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan Islam. Seperti dalam bidang ekonomi, di mana penerapan ekonomi Islamnya berbasis non riba. Sementara dalam bidang pendidikan, negara akan menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. 

Negara pun wajib menerapkan sistem sosial yang akan menjamin interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai ketentuan syariat. Negara juga akan menjatuhkan hukuman tegas terhadap para pelaku kejahatan, dengan penerapan sistem persanksian sesuai syariat Islam.

Khatimah

Maka sudah semestinya negara bertanggung jawab menghilangkan penyebab utamanya yaitu penerapan sistem Kapitalisme dan menggantinya dengan sistem Islam yang akan membawa rahmat bagi semesta alam. Sesungguhnya, penerapan sistem Islam bukanlah hal yang utopis untuk diwujudkan. Semuanya bisa benar-benar tegak bila negara membangun negerinya bertolak/berlandaskan pada sudut pandang Islam.

Sistem Islam telah terbukti mampu memberikan upaya preventif (pencegahan) dan kuratif sehingga kejahatan seksual tidak akan marak terjadi. Namun, berbagai solusi Islam ini tidak bisa diterapkan secara sempurna kecuali dalam naungan Khilafah. Hanya institusi Khilafahlah yang mampu menerapkan semua solusi di atas secara menyeluruh.

*(aktivis BMI Community Cirebon)


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.