Bantuan Pendidikan, Tuntaskan Kebutuhan Ataukah Diskriminasi?

Hot News

Hotline

Bantuan Pendidikan, Tuntaskan Kebutuhan Ataukah Diskriminasi?



Oleh : Punky Purboyowati S. S
(Anggota Muslimah Peduli Pendidikan)

Sudah menjadi umum bahwa kebutuhan terhadap pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Namun bagaimana bila masih ada hak rakyat yang belum terpenuhi disebabkan karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain bantuan yang diberikan masih belum merata yang menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi terutama pada rakyat tidak mampu. Padahal tingkat kesadaran masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah siswa di Indonesia yang melanjutkan ke perguruan tinggi meningkat setiap tahunnya, yakni pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 1,08 juta mahasiswa baru dan di tahun 2014/2015 mencapai 1,45 juta mahasiswa baru. Namun, hanya 8,15 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Salah satu kendala yang banyak ditemui oleh para lulusan SMA dan SMK untuk melanjutkan ke perguruan tinggi diantaranya karena persoalan biaya. (m.medcom.id/24/12/18).

Masalah biaya selalu menyelimuti persoalan pendidikan. Sehingga solusinya mengarah pada bantuan berupa beasiswa. Seperti yang disampaikan Prof. Rina Indiastuti Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti bahwa Bantuan pendidikan Bidikmisi sebagai program unggulan dalam memberikan kesempatan kepada anak Indonesia yang cerdas tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Bidikmisi sebagai implementasi Program Indonesia Pintar (PIP)  dan Program Keluarga Harapan (PKH). Beasiswa ini dapat berlaku di semua Perguruan Tinggi di Indonesia. Namun bantuan ini akan diberikan jika berhasil mendapatkan beasiswa ini. Bantuan yang akan diterima adalah berupa pembayaran SPP kuliah dan bantuan keuangan. (ristekdikti.go.id/8/3/19).

Namun sayangnya bantuan berupa beasiswa ini dinikmati hanya bagi segelintir orang saja. Anehnya beasiswa ini hanya diberikan pada orang yang cerdas namun tak mampu dalam biaya. Sedangkan nasib siswa yang kurang cerdas dan kendala biaya tidak terpikirkan. Maka jelas hal ini menjadi kesenjangan, ketidakadilan dan bahkan diskriminasi terutama pada siswa miskin. Padahal tingkat kesadaran masyarakat terhadap pendidikan semakin meningkat.

Bila dicermati, mahalnya biaya pendidikan yang mengakibatkan kesenjangan sosial, ketidakadilan dan diskriminasi dalam dunia pendidikan, akibat dari diterapkannya sistem kapitalis sekuler. Maka wajar hal ini menjadikan rakyat semakin miskin di segala aspek. Mulai pendidikan yang minim dan pekerjaan dengan gaji yang minim. Kesejahteraanpun menjadi minim. Tak ayal bila orientasi dalam hidup semua dipandang serba materi. Ironisnya terkadang seperti ramalan nasib, jika sekarang bisa makan, esok hari belum tentu. Begitulah akhir dari nasib si miskin.

Disaat negara menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka bantuan dalam bentuk apapun jika kebutuhan rakyat tidak terpenuhi secara menyeluruh maka jelas rakyat akan dirugikan. Maka menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas namun masih ada tebang pilih dalam dunia pendidikan akan mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena itu bila peningkatan kualitas SDM menjadi syarat yang utama, mestinya dengan adanya fase pendidikan 4.0 dengan perkembangan industri dan teknologi berciri sistem digital, artifisial, virtual dan berskala global, harusnya rakyat miskin tidak ada yang dipinggirkan. Apalagi dalam upaya untuk menyesuaikan diri dalam fase ini, diperlukan akses pendidikan seluas-luasnya agar semua kalangan dapat mengenyam pendidikan yang layak.

Agama Islam hadir untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Islam memandang pendidikan sebagai salah satu hak mendasar manusia, seperti halnya hak pangan, sandang, perumahan, dan kesehatan. Tak ayal, pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam masyarakat yang diterapkan Islam secara keseluruhan. Bukan hanya berorientasi untuk meningkatkan intelektualnya sehingga seorang individu lebih bernilai dalam hal materi dan derajat sosial, tetapi lebih dari itu. Orientasi pendidikan tidak lain sebagai ibadah seorang hamba kepada Rabbnya. Kontribusinya sebagai intelektual muslim berorientasi pada ibadah dan untuk kemaslahatan umat, bukan sekadar memuaskan hasrat intelektual atau mencari materi.

Walhasil Islam memiliki kebijakan dalam melayani  pendidikan tinggi yaitu memberikan biaya secara murah bahkan gratis, baik bagi Muslim maupun non-Muslim agar mereka dapat menjalankan kewajibannya atau memenuhi hak mereka. Negara tidak akan menyelenggarakan pendidikan secara diskriminatif dan dzalim. Dengan demikian, pendidikan yang tanpa tebang pilih, berkeadilan dan tidak diskriminasi akan dapat di wujudkan, apalagi dalam konteks saat ini.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang dijadikan Allah mengatur rakyat, kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya (tidak menunaikan hak rakyatnya), kecuali Allah akan haramkan dia (langsung masuk) surga.” (HR. Muslim).

Wallahu a'lambisshowab.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.