Kerjasama Arab Saudi China, Bagaimana Dengan Uighur?

Hot News

Hotline

Kerjasama Arab Saudi China, Bagaimana Dengan Uighur?


Oleh: Endang Setyowati*


Dapurpena.com- Beberapa bulan lalu, berita kaum  Muslim Uighur menjadi trending topik. Bagaimana tidak, mereka penduduk asli Xinjiang China yang mayoritas beragama Islam mendapatkan perlakuan buruk dari pemerintah China.

Mereka dimasukkan dalam kamp-kamp konsentrasi untuk dicuci otaknya dan menanamkan doktrin komunisme serta mengalami penyiksaan. Yang lebih menyedihkan, tidak ada negeri Muslim yang ingin membantu dan membelanya. Alih-alih membela, mereka malah bekerjasama dengan negeri China.

Seperti dilansir oleh tirto.id (28/2/2017). Laporan The Arab Investment & Export Credit Guarantee Corporation (Dhaman) menyebutkan bahwa selain sebagai teman dalam berinvestasi, Cina juga menjadi teman utama Arab Saudi dalam perdagangan. Cina adalah negara utama tujuan ekspor Arab Saudi. Sedangkan AS berada di posisi kedua.

Pada 2014, sebanyak 13,9 persen ekspor Arab Saudi mengalir ke Cina atau 45,8 miliar dolar AS. Sementara nilai impor Arab Saudi dari Cina mencapai 20,5 miliar dolar AS atau sebanyak 13,5 dari total impor. Ini artinya, Cina mengalami defisit perdagangan dengan Arab Saudi sebesar 25,3 miliar dolar AS.

Adanya defisit yang tinggi ini, jika dianalisis dari komposisi perdagangan antara Cina dan Arab Saudi. Saudi mendatangkan barang-barang dari Cina yang mengandung teknologi canggih dan sebagian besar produk harga rendah, termasuk tekstil, pakaian dan mainan. Di sisi lain, ekspor Saudi ke Cina berupa minyak, bahan kimia, dan plastik dengan harga yang tinggi.

Menurut Bloomberg, selama 10 tahun terakhir, sekitar 20 persen kebutuhan minyak Cina dipasok dari Arab Saudi. Minyak menjadi komoditas utama dalam impor Cina dari Arab Saudi. Peneliti dari Durham Unversity, Naser Al-Tamimi dalam jurnalnya berjudul China Saudi Arabia Relations: Economic Partnership or Strategic Alliance? mengungkapkan bahwa dari perspektif Cina, keamanan energi adalah jantung hubungan bilateral dengan Arab Saudi.

Bagaimana tidak sedih menyaksikan hal tersebut.
Di saat umat Islam Uighur di aniaya, negeri Arab yang notabene sebagai tempat kiblatnya kaum Muslim, malah bergandengan tangan dengan sang penyiksa.

Apakah negeri Arab lupa bahwa sesama Muslim itu bersaudara, jika satu bagian terluka, maka bagian yang lain akan merasakan sakit juga.
Bagaimana bisa, ibarat tenggorokan sakit, tetapi dengan nikmatnya mulut mengunyah.

Umat Islam sesungguhnya bersaudara yang tidak mengenal suku, warna kulit, maupun batas teritorial, sebagaimana Rasulullah SAW mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dengan satu landasan akidah, bukan landasan nasionalisme.

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami, orang yang mengajak kepada ashobiyah, berperang karena ashobiyah dan mati karena ashabiyah” (HR Abu Dawud).

Saat ini negeri-negeri Muslim di sekat-sekat menjadi negeri-negeri kecil berdasarkan nasionalisme menjadi nation state di pecah belah menjadi 70 negara. Dan terus ditumbuh suburkan pemikiran, hukum, dan peradaban non-Islam seperti nasionalisme, nation state dan primordialisme kesukuan.

Yang menjadikan umat Muslim itu sendiri terkotak-kotak mudah untuk di adu domba, bercerai berai  dan supaya kaum zionis mudah untuk menancapkan penjajahannya.
Yang mana akhirnya menghalang-halangi bangsa Muslim untuk bersatu. Karena dengan bersatunya umat Muslim maka hancurlah kekuasaan kaum zionis atas negeri Muslim.

Kaum zionis tahu, sistem nation- state yang diterapkan di negeri-negeri Muslim adalah benteng penghalang umat Islam untuk membantu saudaranya. Salah satu penyebab kenapa tidak ada negeri Muslim yang membela Uighur adalah rasa nasionalisme dan kepentingan nasional yang telah membutakan mata hati para pemimpin Muslim, termasuk pemimpin Arab Saudi seharusnya menolong saudara seakidah malah bergandengan tangan dalam kerjasama.

Karena itu sikap nasionalisme yang telah menciptakan konsep nation-state ini sudah selayaknya dibuang jauh-jauh dari pemikiran umat. Paham ini telah melunturkan persaudaraan hakiki umat Islam, juga telah mencabik-cabik negara Islam (Khilafah) menjadi negeri kecil tanpa perisai yang menjaga umat.

Di dalam Islam, tidak pernah mengajarkan konsep negara yang terpecah belah seperti saat ini.
Islam mensyariatkan untuk membentuk unifikasi kaum Muslim menjadi satu negara dengan satu kepemimpinan.
Maka tampaklah ketidaksesuaian antara nasionalisme dan persatuan dalam Islam.

Nasionalisme, mempunyai ikatan yang rapuh.
Menurut analisis Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Islam tentang karakteristik ikatan nasionalisme ini adalah lemah. Munculnya temporal, kadang-kadang saja.
Bila ada rangsangan dari luar, barulah semangat nasionalisme bangkit. Biasanya pemicunya adalah di saat ada konflik yang mengancam.

Karena ikatannya yang rapuh, maka tidak layak untuk di pakai untuk umat yang mendambakan menjadi penguasa peradaban dunia.
Sudah saatnya Umat Islam membuang nasionalisme. Allah SWT telah menganugerahkan kepada umat ini, satu ikatan yang kuat, tak ada tandingnya. Yaitu yang muncul dari pancaran keimanan, itulah ikatan ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah satu-satunya ikatan yang mampu menembus garis batas negara, garis imajinatif yang disengaja dibuat oleh kaum kafir untuk memecah belah umat. Karena nasionalisme ikatan dan kepeduliannya hanya sebatas wilayah negara.

Begitulah upaya-upaya musuh Islam untuk menyuntikan racun nasionalisme kedalam persatuan kaum Muslim. Mereka takut, jika umat Islam kembali bersatu dan menjadikan ukhuwah Islamiyah sebagai pengikatnya dan Khilafah negaranya.

Maka saatnya nasionalisme dicampakkan, lalu digantikan dengan ukhuwah Islamiyah, kemudian Khilafah ditegakkan, itu berarti lonceng kematian untuk semua peradaban yang kelam, sosialisme maupun kapitalisme. Oleh sebab itu, dunia sangat membutuhkan Khilafah, karena hanya Khilafah yang bisa menjaga darah dan kehormatan umat Islam di hadapan para musuh.

Bukankah sudah ada fakta, bagaimana dahulu Khilafah Islamiyah menguasai 2/3 dunia ini, dan bertahan selama 14 abad lamanya.
Khilafah yang merupakan kepemimpinan umun bagi seluruh kaum muslim di dunia akan menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.

InshaAllah, deringan lonceng kematian itu semakin membahana. Dan fajar kemuliaan Islam akan segera terbit. Wallahu a'lam.


*Pegiat TSC Kota Blitar


Ilustrasi telegraph.co.uk

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.