Layanan Aborsi Aman, Legalkan Kemaksiatan

Hot News

Hotline

Layanan Aborsi Aman, Legalkan Kemaksiatan


Oleh: Tawati*


Dapurpena.com- Baru-baru ini pemerintah akan meyiapkan layanan aborsi aman yang sesuai aturan. Sungguh prihatin, sekaligus miris, seolah ada upaya pelegalan aborsi, bukannya melarang tapi malah mengatur.

Seperti dilansir dunianews hari ini, bahwa Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari menuliskan pemerintah tengah mempersiapkan layanan aborsi aman. Layanan aborsi yang diizinkan oleh ketentuan perundang-undangan.

“Perlu proses sebab permasalahan tidak sederhana. Cakupan Indonesia pun sangat luas, tidak melulu Jakarta” ungkap Kirana ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (19/2).

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengenai Kesehatan sebenarnya tidak mengizinkan praktik aborsi. Namun, larangan aborsi dikecualikan bilamana ada indikasi kedaruratan medis yang dideteksi semenjak usia dini kehamilan dan kehamilan dampak perkosaan yang mengakibatkan trauma untuk korban.

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 mengenai Kesehatan Reproduksi pun mengatur mengenai usia kehamilan yang diizinkan melakukan aborsi. Berdasarkan keterangan dari Pasal 31 Peraturan tersebut, perbuatan aborsi dampak perkosaan melulu dapat dilakukan bilamana usia kehamilan sangat lama 40 hari dihitung semenjak hari kesatu haid terakhir.

“Kami sedang menyiapkan ketentuan yang lebih operasional. Untuk sejumlah rumah sakit, terutama lokasi tinggal rumah sakit-rumah sakit pendidikan, telah ada kesebelasan untuk mengerjakan aborsi aman yang terpadu, tergolong layanan konseling oleh psikolog dan psikiater,” jelasnya.

Di luar lokasi tinggal rumah sakit-rumah sakit edukasi tersebut, Kirana menuliskan praktik aborsi mesti dilaksanakan secara hati-hati, khususnya untuk kehamilan dampak perkosaan.

Penyelenggaraan pelayanan aborsi ditata lebih rinci dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2016 mengenai Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi Atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan.

“Tim mesti dilatih. Juga butuh koordinasi dengan kepolisian untuk permasalahan perkosaan,” ungkapnya. (DuniaNews, 20/2/2019)

/Solusi yang Melahirkan Masalah/

Sebenarnya akar masalahnya adalah seks bebas. Juga maraknya perzinahan dan pemerkosaan adalah merupakan salah satu dampak dari meningkatnya jumlah kasus kehamilan di luar nikah yang memicu masalah lain, yaitu praktek aborsi. Maka solusinya adalah dengan mencabut akarnya.

Jika benar pemerintah memiliki niat baik untuk menyelamatkan perempuan bangsa ini dari kebuasaan para pemerkosa, maka semestinya bukan dengan menggugurkan bayi yang tidak berdosa. Perkosaan hanyalah dampak dari kerusakan sistem sosial dan tata pergaulan yang sudah kacau.

Liberalisme telah melahirkan tuntutan berbagai kebebasan. Perempuan bebas berkeliaran dengan berbagai gaya dan penampilan. Atas nama kebebasan berekspresi mereka tanpa malu menampakkan sebagian besar tubuhnya yang semestinya ditutup.

Kebebasan ini tidak memperhatikan hak orang lain untuk selamat dari penglihatan yang diharamkan. Paparan tubuh mulus dan penampilan yang sensual tentu saja bisa membuat gejolak seks laki-laki sering bergejolak. Sementara imannya tidak kuat untuk mengendalikan gejolak nalurinya, maka terjadilah pelampiasan nafsu dengan cara yang diharamkan.

Membiarkan terjadinya perzinahan adalah salah satu dosa besar yang dimurkai Allah. Apalagi jika ditambah dengan kesesatan lain berupa legalisasi aborsi yang akan berujung pada semakin banyak pengguguran kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan kian meningkatkan jumlah kasus perzinahan ini.

Rasulullah Saw mengingatkan kita tentang kemaksiatan ini dengan sabdanya:
"Tanda-tanda datangnya kiamat di antaranya: ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan." (HR. Bukhari)

/Islam Tuntaskan Masalah Perkosaan/

Perkosaan adalah kejahatan seksual yang selayaknya menjadi musuh bersama, karena siapapun bisa menjadi korbannya. Pelaku perkosaan tidak memperdulikan korbannya. Begitu nafsu binatangnya bergejolak maka saat itu pun dia akan mencari mangsanya.

Naluri seksual adalah salah satu naluri yang diberikan Allah Swt dan menyatu dengan proses penciptaan manusia. Karenanya, Allah Swt memberikan paket aturan untuk mengelola naluri ini supaya kemunculan pada waktu dan tempat yang tepat dan penyalurannya berada dalam koridor hukum syara.

Beberapa aturan tersebut di antaranya adalah: pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Keduanya hanya boleh berinteraksi dalam perkara yang dibolehkan syara seperti jual beli, ijarah, dan perwakilan. Berikutnya keharaman khalwat, laki-laki dan perempuan tidak boleh berdua-duaan kecuali disertai mahramnya. Penentuan batas aurat laki-laki dan perempuan. Perintah menundukkan pandangan dan membatasi pandangan kepada apa yang dihalalkan saja (An-Nur: 30-31).

Berikutnya anjuran Islam untuk melakukan pernikahan. Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya." (Mutafaq 'alaih)

Paket aturan tersebut merupakan upaya penjagaan dan pencegahan terjadinya penyaluran naluri seks dengan cara yang diharamkan seperti perkosaan, perzinahan, dan penyimpangan seks (lesbian, homoseks, dll).

Selanjutnya negara akan memberlakukan sanksi syariah. Pelaku perkosaan akan mendapatkan sanksi hukum yang berat. Sementara korbannya akan mendapatkan pemulihan baik fisik maupun psikis sehingga secara mental dia akan siap untuk menjaga kandungannya bahkan merawat anaknya.

Tidak akan terbersit dalam benaknya untuk menghancurkan kehidupan calon anaknya. Keluarga dan masyarakat juga akan memiliki pandangan yang benar. Dengan penerapan aturan Islam secara kaffah, mampu menghentikan perkosaan yang marak terjadi, seperti saat ini. Dan aborsi bukanlah solusi hakiki penyelamat korban perkosaan.

Menyelesaikan masalah perkosaan hanya dengan menolong korban sungguh tidak akan menyelesaikan masalah. Ibarat menyembuhkan penyakit hanya dengan mengobati keluhan pasien tanpa memberantas sumber penyakitnya.

Alih-alih menghilangkan penyakit, yang terjadi justru penyakit semakin kronis bahkan timbul penyakit baru.
Maka, selamatkan perempuan dengan penerapan Islam kaffah, bukan dengan aborsi yang melegalkan kejahatan demi kejahatan. Wallahu a'lam.


*Penulis Muslimah Sumberjaya Majalengka


Ilustrasi klinikspesialiskandungan.com



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.