Mempertanyakan Keberpihakan Di Balik Kunjungan Kenegaraan

Hot News

Hotline

Mempertanyakan Keberpihakan Di Balik Kunjungan Kenegaraan



Oleh: Binti Muzayyanah*


Dapurpena.com- Tak punya hati. Tak berempati. Itulah sebutan yang pantas diberikan kepada mereka, para penguasa muslim. Mereka adalah orang-orang yang memegang amanah untuk mengurus urusan kaum muslimin. Kekuasaan yang harusnya digunakan untuk melayani, melindungi kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Tapi justru mereka abai dengan keadaan saudara muslimnya. Lebih parah lagi mereka justru berjabat erat, bergandengan tangan, dengan pihak-pihak yang nyata-nyata berbuat di luar batas keadilan dan kemanusiaan terhadap saudara muslimnya.

Belum lama ini, mata dunia menyaksikan kunjungan dua hari putra mahkota Kerajaan Arab Saudi ke Beijing, Cina. (Tempo.Co, 23/2/2019). Dalam kunjungan tersebut dicapai berbagai kesepakatan dua negara, Kerajaan Saudi Arabia (KSA) dan China dalam bidang ekonomi dan budaya.

Sungguh miris mengetahui kenyataan ini. Seorang penguasa muslim berjabat erat dengan penguasa yang tangannya telah melakukan tindakan yang berakibat kesengsaraan dan penderitaan hidup saudara muslimnya.

Dunia menjadi saksi bagaimana pemerintahan China memperlakukan muslim Uighur. China mengumpulkan mereka dalam Kamp Konsentrasi. Alasannya karena muslim Uighur dianggap berpihak pada terorisme dan separatisme. Di dalam Kamp Konsentrasi ini muslim Uighur mengalami perlakuan yang tidak manusia.

Mereka dilarang beribadah, menjalankan aturan agama yang diyakininya. Mereka justru dipaksa melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Islam. Dipaksa makan daging babi. Dicekoki khamr. Dilarang berpuasa. Dipaksa menanggalkan kerudung dan jilbabnya. Intinya budaya Islam yang melekat pada muslim Uighur ingin mereka ganti dengan budaya China.

Derita yang dialami muslim Uighur ini bahkan tidak mampu mengetuk hati Sang Pangeran sekedar memberi simpati apalagi empati. Sang Pangeran justru mendukung apa yang dilakukan pemerintah China dalam memperlakukan muslim Uighur. “China memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah berada di China untuk menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (Kiblat.net, 22/02/201).

/Uighur Terpasung, Dunia Bergeming/

Sebagaimana diketahui muslim Uighur merupakan etnis minoritas di China. Mereka merupakan keturunan Muslim Turki di Asia Tengah. Berbeda dengan penduduk China umumnya. Suku Uighur juga tidak berbahasa China . Penampilan fisik mereka pun berbeda dengan warga China lainnya.

China menuduh muslim Uighur tidak mau berbaur dengan masyarakat China lainnya, dan ingin melepaskan diri dari pemerintah China . Inilah yang sering dijadikan alasan pembenaran tindakan China terhadap muslim Uighur. Apapun alasannya, apa yang dilakukan China terhadap muslim Uighur tentu tidak dibenarkan, dan bertentangan dengan kemanusiaan.

Sungguh seluruh dunia menyaksikan ketidakadilan yang dipertontonkan pemerintah China . Pemimpin Muslim dari tanah Arab juga melihat penderitaan warga muslim Uighur. Alih-alih membantu membebaskan derita saudaranya, mereka diam seribu bahasa. Tidak melakukan tindakan nyata.

Sikap penguasa negeri muslim yang lain pun tak jauh beda. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, misalnya. Ia mengecam tindakan China, dan menggambarkan perlakuan terhadap penduduk Uighur mempermalukan rasa kemanusiaan. Erdogan juga menyerukan penutupan kamp konsentrasi.  Erdogan pernah menuduh China melakukan genosida. Tapi anehnya justru sejak itu Turki menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi yang lebih dekat dengan Beijing (Kiblat.net, 24/2/2019).

Lalu bagaimana sikap penguasa negeri muslim terbesar di dunia terhadap kasus yang menimpa muslim Uighur? Adakah tindakan nyata untuk menolong saudaranya? Ternyata serupa. Bahkan untuk mengecam saja tidak ada keberanian. Alasannya karena besarnya investasi China di Indonesia. Jerat utang rupanya telah menyandera sikap penguasa untuk menunjukkan empati yang semestinya.


/Penyelamat Sejati/

Nampak sudah para penguasa muslim ini tidak peduli terhadap derita muslim Uighur akibat penjajahan China. Mereka hanya peduli terhadap kepentingan negara mereka saja. Masalah Uighur tidak mereka anggap sebagai masalah mereka. Nasionalisme telah menjadi sekat bagi rasa persaudaraan dengan sesama muslim di berbagai negara.

Mereka hanya peduli dengan kepentingan ekonomi dalam negerinya. Hingga rela bermanis muka dan bekerjasama dengan negara yang telah menjajah saudaranya. Padahal Allah telah menetapkan bahwa sesama muslim itu bersaudara.

Tidak berpihaknya penguasa-penguasa muslim seperti yang ditunjukkan oleh KSA, Turki, Indonesia, adalah wajar belaka. Penguasa-penguasa ini adalah produk demokrasi. Mereka dipilih memang hanya untuk peduli dengan bangsa sendiri.

Mengharapkan mereka peduli dengan nasib muslim di penjuru dunia, ibarat pungguk merindukan bulan. Jauh panggang dari api. Kita tidak bisa berharap banyak pada mereka. Karena nasionalisme, demokrasi, tidak akan pernah berpihak pada Islam.

Hanya khalifah kaum muslimin yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah muslim Uighur. Khalifah adalah raa'in (pengurus) semua urusan kaum muslimin tanpa memandang peebedaan suku, bangsa, warna kulit. Dia juga adalah junnah (perisai) bagi kaum muslimin, sehingga mereka berlindung di belakangnya. Khalifah akan mengerahkan kekuatan terbaiknya untuk membebaskan kaum muslimin dari penindasan kafir manapun.

Inilah yang pernah dicontohkan oleh para Khalifah kaum muslimin terdahulu. Karena mereka paham inilah tugas yang dipikulkan Allah di pundaknya. Oleh karena itu saatnya kaum muslimin mewujudkan kepemimpinan seorang khalifah yang akan mengurus, melindungi, dan membela kaum muslimin di manapun berada. Wallahu a'lam.


*Penulis dari Indramayu Jawa Barat


Ilustrasi jurnas.com



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.