Menutup Eksistensi Kaum Pelangi

Hot News

Hotline

Menutup Eksistensi Kaum Pelangi


Oleh : Miniarti Impi, ST*


Dapurpena.com- Bak petir di siang bolong, kita dikagetkan kembali dengan fakta yang cukup mencengangkan. Bagaimana tidak, pelaku kelainan suka sesama jenis kini sudah semakin unjuk gisi. Terbukti dengan adanya komik ‘Gay Muslim Comics’ yang dapat diakses lewat akun Instagram @alpant**i. Akun yang memiliki gambar profil pria muda berkulit cokelat memakai kopiah, terindikasi berasal dari luar Malaysia.

Sebagaimana dilansir dalam detiknews.com, netizen di Indonesia dibuat geram oleh akun Instagram @alpant**i ‘Gay Muslim Comics’. Pada Minggu (10/2) malam hari ini, akun tersebut sudah memiliki 3.708 ribu followers. Dalam tiap postingannya, pemilik akun melampirkan hastag #gaymalaysia #gayindonesia #gaymuslim #gaycomics #komikmalaysia. Banyak netizen yang mengutuk postingan-postingan @alpant**i. Sebagian pengujung akun itu mention akun Kementrian Kominfo, Humas Polri dan Kementerian Agama.

Pun anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP, Syaifullah Tamliha, mengecam akun Instagram (IG) @alpant**i Gay Muslim Comics’.  Bagi Tamliha, tak ada tempat bagi kelainan ini di Indonesia. Negara kita memang bukan negara agama tapi negara yang memiliki agama. Semua kitab yang dibaca, melarang perkawinan sejenis. Sehingga Menteri Kominfo semestinya segera menutup akun tersebut dan mewaspadai langkah berikutnya. Sebab pembiaran terhadap aktivitas mereka di media sosial dapat merusak akhlak bangsa ini.

Keresahan masyarakat atas maraknya penyebaran virus ini bukanlah kali pertama. Sepanjang Januari 2018, dari hasil penelusuran dan pengaduan masyarakat, 169 situs ini bermuatan asusila. Tercatat juga terdapat 72.407 konten asusila pornografi.  Kemkominfo dan Google kemudian mengambil beberapa tindakan  dengan memblokir 14 aplikasi  yang ada di Play Store, tiga di antaranya adalah Blued.

Dengan pemblokiran yang dilakukan tak menyurutkan kampanye mereka. Bahkan seolah makin menjamur grup-grup online mereka dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan beragam aplikasi media sosial masih sangat banyak. PBB (UN) sampai membentuk badan khusus bernama UNFE (United Nations Free & Equality) untuk mempromosikan kerusakan ini. Tak hanya itu, UNDP (United Nations Development Programme)  bahkan menggelontorkan uang sebesar USD 8 juta (sekitar Rp 107 M) untuk promosi di Indonesia, China, Thailand dan Filipina. (eramuslim.com,26/12/17)

Dana yang tidak sedikit untuk memporak porandakan generasi negeri ini. Apalagi praktek dan dukungan di Indonesia sudah berlangsung lama. Sebab di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada yang menyebut dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak menyebut fenomena ini sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2000 hingga sekarang.

Sejak itu, populasi mereka di Indonesia dilaporkan terus bertambah setiap tahunnya. Data Kemenkes pada tahun 2012, ada 1.095.970 pria yang hidup dengan perilaku seks sesama pria (LSL atau Lelaki Seks dengan Lelaki). Ini angka 7 tahun yang lalu. Hampir dipastikan jumlahnya sudah bertambah ratusan bahkan ribuan lagi. Perkiraan lain menyebutkan bahwa jumlah kaum gay setidaknya tiga persen dari total populasi Indonesia. Mereka tersebar di semua daerah di Nusantara.

Tren ini semakin meningkat seiring dengan banyaknya produk-produk budaya populer yang masuk ke Indonesia, seperti film tentang gay dan yang terbaru adalah munculnya komic ‘Gay Muslim Comics’ yang dapat diakses lewat instagram. Sasaran mereka bukan hanya pada orang dewasa, tapi juga kerap menyasar anak-anak dan remaja.

Usia ini dijadikan sebagai sasaran empuk sebab mereka menyadari 90% anak muda mengakses media sosial. Kampanye via media sosial dilakukan dalam rangka menularkan perilaku mereka untuk mempercepat pencapaian target komunitas dalam upaya pelegalan eksistensi mereka sah secara hukum. Padahal, media sosial sesungguhnya adalah sarana komunikasi modern di dunia maya. Namun dalam sistem kapitalis sekuler media sosial justru menjadi sarana untuk penyebaran kerusakan, perilaku berbahaya yang merusak peradaban manusia.

Sistem kapitalisme dan demokrasi telah melahirkan kebebasan bagi manusia, yaitu kebebasan berperilaku, beragama, berpendapat dan memiliki yang banyak mencetuskan faktor-faktor pendorong gejolak seksual, bahkan kepada sesama jenis. Pada akhirnya, mereka dengan bebas menyalurkan hasrat seks nya dengan cara-cara yang tidak semestinya.

Dengan menggunakan dalih kebebasan dan hak asasi manusia (HAM),  kelainan ini dibenarkan dengan ide relativitas kebenaran dan moral. Ditambah lagi saat ini, mereka mendapat dukungan politik PBB dan Human Right Watch (HRW). Dukungan ini menjadi perlindungan hukum atas penyebaran perilaku menyimpang ini.  Sehingga wajar menjadi semakin berani dan kreatif dalam menjajakan perilakunya.

Pandangan Islam
Ide kebebasan dan HAM yang mendasari dan digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku LsL, adalah ide yang menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, manusia tidak bebas sebebas-bebasnya. Pandangan dan perilakunya harus terikat dengan syariah Islam. Seorang Muslim tidak bebas berpandangan dan berperilaku sesukanya sesuai hawa nafsunya. Allah SWT berifirman: “Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah” (TQS al-Hasyr [59]: 7).

Allah ciptakan manusia dengan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar sesuai fungsi yang akan diperankannya. Karena itu Islam memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang ada tetap terjaga. Di mana laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin, wanita tidak boleh menyerupai laki-laki dan begitu juga sebaliknya.

Dari Ibnu Abbas ra. mengatakan: “Rasulullah saw. telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.  (HR. Al-Bukhari, 5436).

Dalam pergaulan antara jenis dan sesama jenis pun harus terjaga. Rasul saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki melihar aurat laki-laki. Jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut. Jangan pula perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut” (HR. Muslim, 512).

Karena itu di dalam Islam, ide dan perilaku LsL jelas menyimpang dan abnormal. Karena itu ide ini tidak boleh tersebar di masyarakat. Siapa saja yang menyebarkan, mendukung dan membenarkannya jelas berdosa dan layak dikenai sanksi sesuai ketentuan syariah.

Islam juga telah memberikan aturan yang jelas untuk mencegah, menghentikan pelaku sekaligus menyelesaikan permasalahan penyimpangan seksual yang sedang mendera negeri ini.
Pertama, negara bertanggungjawab dalam membina keimanan masyarakatnya. Pondasi keimanan yang kuat akan membuat seseorang takut akan berbuat maksiat karena merasa diawasi oleh Allah SWT.
Kedua, secara sistemik negara harus menghilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk mencoba-coba. Misalnya, menghentikan peredaran pornografi terkait homo dan lesbi, baik dalam bentuk media cetak, elektronik dan sosial. Memberi sanksi tegas dan menjerakan bagi pengedar pornografi. Kemudian, melarang dengan tegas keberadaan LSM yang mendukung. Jika tidak mau, maka LSM harus diberi sanksi bahkan dibubarkan.
Jika berbagai upaya sudah dilakukan, namun masih saja ada perilaku penyimpangan ini, maka negara wajib memberantas kejahatan itu dengan memutuskan siklusnya dari masyarakat dengan menerapkan hukuman mati bagi siapa saja yang terbukti dengan pembuktian yang syar’i . Ibnu Abbas ra. menuturkan, Rasul saw. bersabda: “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek dan obyeknya” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Solusi dan sanksi dalam Islam bagi para pelakunya, selain menjadi penebus doda bagi para pelaku yang berstatus muslim juga memiliki efek jera bagi calon pelaku yang akan melakukan aktivitas hina tersebut. Kita semua harus yakin bahwa setiap pelaksanaan sanksi dalam Islam tentu akan mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan bagi masyarakat dan negara. Rasul saw bersabda: “satu hukum had (sanksi syariah atas kejahatan tertentu) yang ditegakan dimuka bumi lebih baik bagi manusia dari pada mereka diguyur hujan selama 30 atau 40 hari” (HR. Ahmad, 8383).
Wallahu’allam bisshowab.

*Muslimah Raha, Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara


Ilustrasi instagram.com



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.