Propaganda Dibalik Isu Climate Change

Hot News

Hotline

Propaganda Dibalik Isu Climate Change


Oleh: Siti Subaidah*

(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Sampah merupakan satu dari sekian banyak permasalahan yang kerap kali mendera berbagai kota di Indonesia. Sampah kini menjadi urgentitas untuk segera diselesaikan karena dinilai berkontribusi terhadap pemanasan global atau global warming. Seperti kita ketahui bahwa pemanasan global mempengaruhi perubahan iklim dunia sehingga segala upaya dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meminimalisir hal-hal tersebut. Salah satu upaya yang kini digencarkan adalah gagasan #BebasSampah di berbagai daerah.


Di Balikpapan misalnya, 17 Februari 2019 diadakan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) se-Kalimantan Timur di Ballroom Hotel Le Grandeur Balikpapan. Dengan mengambil tema “Berdaulat Menuju Kaltim Bebas Sampah” #Sampahku,Tanggungjawabku diharapkan terlaksananya koordinasi yang saling terpadu dan berkesinambungan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten kota dalam pengelolaan lingkungan hidup di Kalimantan Timur. Sehingga menghasilkan sinergitas, integrasi, sinkronisasi dan harmonisasi dalam kegiatan PPLH,  khususnya dalam pengelolaan sampah yang telah menjadi isu strategis nasional.Selain itu, dilakukan rapat dan diskusi dalam masing-masing desk yang telah dibagi yaitu desk pengelolaan persampahan,  Sumber Daya Alam, tata lingkungan serta peningkatan kapasitas LH. (PROKAL.CO, BALIKPAPAN (19/02/2019).


Ketika berbicara tentang pemanasan global, hal yang harus digaris bawahi adalah permasalahan ini terjadi dari berbagai macam aspek seperti deforestasi (penebangan hutan), pembuangan limbah hasil industri yang tidak sesuai prosedur,dan sampah dari hasil konsumsi masyarakat yang tidak terkelola dengan baik. Perilaku-perilaku buruk tersebut lahir dari  paham ideologi kapitalis yang berkembang di masyarakat. Paham ini menitikberatkan pada keuntungan (materi) dan manfaat. Sehingga segala sesuatu yang mendatangkan keuntungan dan manfaat akan dilakukan walaupun kemudian merugikan banyak pihak. Pemanasan global ini hanyalah salah satu kerusakan yang ditimbulkan dari adanya penerapan ideologi kapitalis secara global termasuk di Indonesia.


Maka dari sini jelas bahwa ideologi ini adalah rusak, namun akan tetap dipertahankan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dibaliknya. Untuk tetap terlihat baik dan diterima oleh dunia, negara pengusung kapitalis yang tergabung dalam lembaga internasional ini menawarkan solusi EBT (Energi Baru dan Terbarukan) agar terlihat peduli terhadap lingkungan. Karena menurut penelitian penyebab utama pemanasan global adalah efek gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan gas (LPG dan LNG). Oleh karena itu perlu ada upaya pengalihan energi sehingga muncullah EBT yaitu energi surya dan energi biomassa.


Dalam konstelasi perpolitikan dunia, negara adidaya memiliki power untuk menyetir atau mendikte negara-negara pengikut yang terlibat dalam perjanjian dan lembaga internasional untuk ikut dalam berbagai program termasuk di dalamnya program “Climate Change” atau perubahan iklim global dengan solusi EBT tadi.


Dengan watak alami kapitalis yang hanya memandang untung dan manfaat. Maka program ini digulir untuk menjajah negara-negara pengikut tanpa disadari. Pertanyaanya penjajahan lewat apa?. Yakni dengan pengharusan penerapan EBT di negara masing-masing sehingga untuk menjalankan program tersebut perlu pengadaan infrastuktur penunjang EBT.


Pemerintah mengalami kendala dalam hal pembiayaan infrastruktur penunjang EBT. Oleh karena itu pemerintah dengan skala kebijakannya mulai membuka keran regulasi kerjasamabaik dengan swasta maupun luar negeri lewat investasi atau mekanisme hutang luar negeri (Teknopreneur.com). Akhirnya dari sini terjadilah penjajahan ekonomi.


Investasi dan hutang luar negeri akan semakin mengikat Indonesia dalam cengkraman negara-negara kapital karenasegala kebijakan-kebijakan negara nantinya harus sesuai persetujuan pihak pemberi pinjaman. Hal ini semakin memperlihatkan bahwa kedaulatan dan kemandirian negara semakin tergadai. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat karena pemerintah sudah tidak bekerja untuk rakyat tapi lebih kepada pemilik modal.


Penjajahan ini akan terus berlanjut selama ideologi kapitalis dan pengembannya ada. Untuk itu perlu ideologi tandingan untuk menghapuskan entitas ideologi penjajah tersebut yakni ideologi Islam dengan penerapannya secara kaffah atau keseluruhan. Islam dengan segala pengaturan yang dimilikinya terlebih dalam sistem ekonomi Islam mampu mewujudkan kedaulatan negara lewat pengelolaan sumber daya alam secara mandiri. Pengelolaan tersebut wajib dilakukan oleh negara tanpa campur tangan pihak luar. Sehingga tidak ada intervensi kebijakan yang merugikan masyarakat. Dan tentunya pengelolaan tersebut akan memberikan dampak kesejahteraan yang luas bagi masyarakat.


Sejatinya ideologi kapitalisme ini adalah ideologi yang akan terus melakukan berbagai strategi untuk merampok dan menjajah negeri-negeri pengikut utamanya negeri muslim. Strategi itu akan selalu dibungkus cantik agar kita tidak sadar akan penjajahan yang terjadi. Oleh karena itu kita patut waspada dengan segala isu dan program yang di canangkan oleh mereka termasukdalam isu lingkungan seperti “Climate Change”. Wallahu a'lam bishawab


Biodata penulis:
Nama asli penulis: Siti Subaidah
Nama pena: Ummu Bahri
Domisili: Balikpapan Timur
Aktivitas: Anggota MT Khairunnisa BalTim, Aktifis Ibu Peduli Generasi Balikpapan
No Hp: 0815-2856-5706



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.