Untuk Negeri Yang Sejahtera

Hot News

Hotline

Untuk Negeri Yang Sejahtera



Oleh: Puji Ariyanti
[Ibu dan pemerhati generasi]

Dewasa ini Indonesia mengalami banyak persoalan. Berbagai kemerosotan terjadi disetiap lini. Di bidang politik, ekonomi, dan juga degradasi moral hampir setiap detik terjadi. Saat ini kondisi politik justru saling memperebutkan kekuasaan, sehingga rakyat semakin  terabaikan. Kemiskinan makin mewarnai kehidupan masyarakat, sulitnya lapangan pekerjaan,kebutuhan pokok yang serba mahal, utang luar negeri yang semakin menggurita, pembangunan infrastruktur yang diskriminatif dan salah sasaran, separatisme yang sulit diberantas dan lain sebagainya.

Kekuasaan menjadi harga mati di rezim sekuler, Allah tak lagi diperhitungkan sehingga  kebohongan demi kebohongan tampak bagai jargon. Genderang janji manis tertabuh saat kampanye jelang pemilihan presiden untuk meraih suara terbanyak. Alih-alih terpenuhinya janji, faktanya tak satupun terealisasi. Semua berkonflik dari agraria, karhutla, jagung, beras, sawit masih impor besar-besaran dan sebagainya.

Kebohongan seolah menjadi hal yang lumrah untuk diperlihatkan. Perilaku mempertahankan kekuasaan mendapat dukungan dari tim kemenangan. Mereka adalah pendukung setia kebohongan. Seolah kebohongan menjadi hal lumrah dalam perilaku sebagai politikus atau menjadi pejabat yang mengatur dan memelihara urusan rakyat. Birokrasi yang rumit, dari level terendah hingga level tertinggi menjadi brand image sulitnya jika berurusan dengan birokrasi.

Demokrasi merupakan sistem warisan penjajah nyatanya menjadi pintu kemudahan bagi orang-orang yang menafikan sistem milik Allah SWT (sekulerisme). Hakekatnya kepemimpinan itu memberikan keteladanan dalam ucapan dan perbuatan. Lalu mampukah membangun Indonesia dengan kebohongan-kebohongan? Bukankah akan memberikan teladan yang buruk bagi rakyat?

"Untuk Indonesia maju, kita harus menang. Untuk menang, kita harus memiliki modal besar," kata Ma'ruf Amin saat pidato sebelum membacakan doa penutup pidato kebangsaan calon Presiden Joko Widodo dalam acara Konvensi Rakyat bertema Optimis Indonesia Maju. Bisnis.com, [24/2/2019]

Untuk Indonesia maju butuh modal besar dalam membangunnya, yakni ideologi Islam. Ideologi yang telah membangkitkan umat dalam mencapai negara Adidaya. Yang pernah berjaya di Eropa dan menguasai dua per tiga dunia.Yakni, Daulah Islam yang telah diproklamirkan oleh Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawarah yang kemudian diteruskan oleh para penerus estafet kepemimpinan kepala Negara tersebut dimulai dari masa Khulafaur Rasyidin hingga berakhir pada masa Khilafah Ustmani. Ketaatan terhadap hukum Allah-lah yang menghantarkan estafet kepemimpinan yang terang benderang yang berkemajuan, berkeadilan, sejahtera tanpa penghambaan selain hukum Allah.

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."[QS. An-Nur 24: 55]

Bila ada sebuah negeri yang diberkahi alamnya dan penduduknya menerapkan syariat Islam yang seluruhnya merupakan kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia, bukan mempertahankan sistem rusak yang menjadi alat pemilik modal yang besar. Tentu di dalamnya akan lahir kebaikan-kebaikan yang besar. Mengapa kita tidak bersegera mengarahkan tujuan kesana?
(Wallahu'alam Bissawab)

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.