Feminisme Menggerus Kemuliaan Wanita

Hot News

Hotline

Feminisme Menggerus Kemuliaan Wanita


(Foto/https://roda2blog.com)

Oleh: Dini Azra


Hari Perempuan Sedunia atau Internasional Woman's Day diperingati setiap tanggal 8 Maret. Perayaan ini mulai diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1975 dan baru diresmikan dua tahun sesudahnya yaitu pada tahun 1977.

Event tahunan ini dimaksudkan untuk merayakan pencapaian wanita dalam berbagai bidang. Mulai dari bidang sosial, ekonomi, budaya, hingga politik.

Sejarah peringatan Hari Perempuan dilatarbelakangi oleh para  buruh wanita yang melancarkan aksi demo sekitar tahun 1900-an di Amerika Serikat. Tuntutannya adalah mengenai penindasan dan ketidaksetaraan atas hak-hak buruh wanita seperti: upah, jam kerja, dan hak berpendapat.

Namun seiring berjalannya waktu, Hari Perempuan Sedunia kini menyuarakan kesetaraan gender antara  pria dan wanita yang dipelopori oleh gerakan kaum Feminis dunia. Mereka menginginkan agar wanita diperlakukan sama seperti pria dalam segala bidang. Mereka pun berani menggugat nilai-nilai budaya dan agama yang dianggap mengekang dan mendiskriminasi kaumnya.

Tak hanya itu, para Feminis juga menunjukkan pembelaan terhadap orang-orang yang termarginalkan di tengah-tengah masyarakat, termasuk kaum homoseksual dan lesbian. Dan secara gamblang mereka mendukung perempuan untuk mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Tanpa mengindahkan aturan sosial di tengah masyarakat ataupun ajaran agama. Karenanya seringkali mereka melobi pemerintah untuk memasukkan draft RUU tentang kesetaraan gender, perlindungan hak reproduksi wanita, dan terakhir RUU PKS yang menuai polemik di tengah masyarakat.

Propaganda terus dilancarkan, dikemas dengan manis seolah memperjuangkan hak-hak perempuan dan kemanusiaan. Perempuan harus memiliki hak yang sama dengan pria dalam mengelola tubuh, diri, dan hidup mereka.

Dengan slogan "Tubuhku adalah otoritasku." Maka, tidak boleh ada pihak yang memcampuri atas pengaturan tubuh orang lain termasuk orang tua dan keluarga. Setiap orang berhak menampilkan fashion stylenya sendiri yang dianggap modis, tanpa mengindahkan rambu-rambu agama.

Perkawinan dianggap penindasan bagi wanita, mengekang aktivitas karena harus melayani suami seumur hidup. Kalaupun perempuan menikah, kedudukan istri harus sejajar dengan suami, tidak ada dominasi.

Pemahaman seperti ini jelas bertentangan dengan Islam. Karena di dalam Alquran Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman :
“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 35)

Maknanya pria diberi amanah kepemimpinan atas istrinya. Selain bertanggung jawab memberi nafkah lahir batin, juga diberi tugas untuk mendidik istri agar dapat memenuhi hak-hak Allah atas dirinya (salat, puasa, dan menutup aurat).






Justru Allah telah memberikan kemuliaan bagi wanita yang telah menikah dengan adanya suami yang menanggung keperluannya, membimbingnya dalam ketaatan, sedang wanita hanya bertanggung jawab atas ketaatannya sendiri. Tugas istri hanya sebatas mengingatkan suami apabila berbuat salah.

Banyak Ulama mengatakan jika gerakan Feminisme adalah perpanjangan tangan dari pihak barat untuk menyudutkan Islam.  Gerakan Feminisme karib dengan gerakan sekularisme, pluralisme, liberalisme (sepilis) yang sedang gencar dipropagandakan di negeri-negeri kaum Muslimin.

Musuh-musuh Islam tidak akan pernah tidur nyenyak, sebelum membuat umat Islam meninggalkan agamanya. Kalaupun tidak murtad, setidaknya mereka telah dijauhkan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Bagi Muslim yang teguh memegang prinsip, bersiaplah dengan berbagai julukan seperti, radikal, ekstrimis, bahkan teroris.

Sikap pemerintah malah memberikan kemudahan terhadap gerakan Feminisme ini dengan mewacanakan RUU pesanan mereka. Padahal jelas akan merusak tatanan budaya, keluarga, dan hancurnya peradaban manusia.

Yang terjadi saat ini banyak wanita tidak mau hamil dan mengurus anak sebab dianggap akan menghambat karirnya. Sebagian wanita memilih tidak mau menikah karena tidak mau terikat dengan aturan yang membelenggu. Akibatnya seks bebas menjadi alternatif untuk membuktikan cinta, kalau hamil solusinya adalah aborsi. Lebih parahnya ketika wanita lebih memilih menikah dengan sesama jenis, begitu juga kaum prianya. Sungguh miris! Dan itulah yang tengah diperjuangkan oleh kaum Feminis.

Kesalahan besar jika memandang pernikahan sebagai penindasan terhadap wanita! Justru rutinitas istri dalam melayani suami dan anak bisa menjadi ladang pahala baginya. Begitupun suami yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga, bernilai ibadah layaknya jihad fi sabilillah.

Begitulah Islam mengatur peran antara pria dan wanita sebagai partner  yang bekerjasama membangun rumah tangga yang diridhai Allah Subhanahu wa ta'ala. Sungguh aneh, ketika sebagian wanita malah menuntut kebebasan dan terlepas dari ikatan syariah yang memuliakan.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah menciptakan dua jenis manusia, laki-laki dan perempuan. Dari fisiknya saja sudah terlihat berbeda, begitupun hal-hal yang bersifat kodrati lainnya. Dan perbedaan itu bukanlah bentuk diskriminasi terhadap wanita, tapi agar saling melengkapi satu sama lain ketika berperan dalam kehidupan.

Jadi, kesetaraan gender 50:50 antara laki-laki dan perempuan itu hal yang mustahil untuk diwujudkan. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Ahzab : 35).

Meskipun peran utama wanita adalah berada di rumahnya, namun Islam tidak melarang wanita bekerja karena hukumnya mubah. Bahkan ada beberapa profesi yang lebih utama dipegang oleh wanita, seperti dokter kandungan, perawat, bidan, atau guru TK.

Dalam era kapitalis ini wanita lebih sering dieksploitasi, dijadikan obyek pemuas nafsu syahwat dari lelaki yang katanya mencintai, dilecehkan, bahkan diperdagangkan sebagai penggerak ekonomi keluarga bahkan negara.

Para wanita juga diperbudak oleh tirani kecantikan dengan standar cantik para artis idola dan sosialita. Akibatnya mereka menjadi sasaran empuk para pelaku bisnis fashion, kosmetik, perawatan, hingga melakukan bedah plastik hanya demi dibilang cantik.

Materialisme dan hedonisme telah mengungkung pikiran kaum perempuan sehingga mereka diharuskan mandiri secara ekonomi, jangan mengandalkan pemberian suami saja. Akibatnya, keluarga dan anak tak terurus lagi.

Adapun wanita Muslimah, menganggap kecantikan yang dia miliki hanya untuk menyenangkan hati suami. Kecantikan yang sebenarnya akan terpancar dari ketaatan yang ditunjukkan. Taat kepada Allah dan Rasul, juga terhadap pasangan halalnya adalah pintu surga bagi para wanita Muslimah. Sebab Ridha Allah terletak pada keridhaan suami. Suami pun diperintahkan untuk berbuat baik terhadap keluarganya.

Ide feminisme ini tidak akan berhasil masuk dalam kehidupan umat Islam apabila sedari kecil umat diajari untuk mengenal agamanya dengan baik, dipahamkan tentang hukum syariat, dan berperan untuk menjaga tegaknya dinnul Islam. Pun ketika negara menjadikan Islam sebagai sumber hukum dalam mengurus rakyatnya, Insya Allah negeri ini akan dirahmati dengan para wanita shalehah yang akan menjadi kandidat kuat sebagai bidadari surga. Insya Allah.



Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.