Hajat Publik Dikomersialisasi, Negara Takut Rugi

Hot News

Hotline

Hajat Publik Dikomersialisasi, Negara Takut Rugi


(Foto/https://radar-palembang.com)


Oleh: Nur Syamsiyah*


Manusia dalam kehidupannya memiliki kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sandang, pangan, dan papan menjadi hal mendasar yang harus dijamin pemenuhannya pada setiap individu rakyat dalam suatu negara. Dalam perkara pangan misalnya, makanan dan minuman harus disediakan oleh negara untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Mulai dari penyediaan komoditasnya, jarak yang mudah untuk ditempuh, dan juga harga yang terjangkau oleh individu rakyat.

Terutama pada perkara air bersih, yang menjadi kebutuhan mendasar bagi semua kalangan. Mungkin saja, manusia bisa bertahan tanpa makan namun tak bisa bertahan jika tanpa minum. Aktivitas kesehariannya pun kurang lebih pasti akan berhubungan dengan air. Hal ini menjadi sebuah perkara yang sangat perlu diperhatikan oleh negara untuk menyediakan air bersih di tengah-tengah masyarakat. Sehingga krisis air bersih, kekeringan, mahalnya tarif layanan air bersih, dan lain sebagainya tidak terjadi lagi. Sebagaimana yang terjadi pada PDAM Tirta Malem.



Kondisi PDAM Tirta Malem semakin terpuruk, sudah puluhan tahun berdiri namun tidak ada peningkatan prestasi. Sebaliknya, justru semakin menampakkan kebobrokannya. Belakangan ini PLN memutus arus listrik karena tagihan rekening sudah mencapai Rp 1 milyar, sehingga PDAM Tirta Malem tidak  bisa lagi optimal menyuplai air bersih ke pelanggannya.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menyatakan bahwa PDAM yang merugi karena rendahnya tarif layanan air bersih. Ma’ruf mencontohkan, tarif air bersihh di DKI Jakarta dan Depok hanya berada di kisaran Rp 7 ribu per meter kubik. Cara seperti itu membuat PDAM kesulitan karena tarif itu di bawah full cost recovery.

Masalah inilah yang kemudian menghambat pada pelayanan PDAM untuk mensuplai air bersih kepada masyarakat. Di sisi lain, penentuan tarif lebih banyak dilakukan secara populis. Ma’ruf mengatakan skema investasi antara pemerintah dan swasta dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan perluasan air minum kepada masyarakat.

Bukankah air bersih menjadi salah satu kebutuhan manusia yang bersifat mendasar? Dan bukankah negara berkewajiban untuk memenuhi hajat publik?

Pasal 33 UUD 1945 ayat (2) berbunyi; Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, dan ayat (3) menyebutkan; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Air merupakan salah satu kebutuhan hidup orang banyak dan harusnya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bukan justru dikomersialisasi oleh negara dengan menjualnya pada rakyat untuk mendapatkan keuntungan.

Islam melarang hajat publik dikomersialisasi oleh individu atau kelompok, swasta ataupun asing. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra berkata sesungguhnya Nabi saw bersabda; orang muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya haram. (HR Ibnu Majah)

Islam perintahkan Negara mengelola harta publik dan dipergunakan untuk memenuhi layanan publik tanpa boleh mengambil keuntungan sedikitpun. Hubungan antara negara dengan rakyatnya adalah hubungan pelayan dengan yang dilayaninya, bukan hubungan antara penjual dan pembeli.

Namun pada kenyataannya, negara saat ini memposisikan dirinya sebagai penjual dan rakyat adalah pembeli. Kesengsaraan rakyat terjadi karena negara komersialisasi layanan publik, hal ini sangat erat kaitannya dengan sistem kapitalis neolib.

Sistem inilah yang menjadikan kesengsaraan rakyat semakin menjadi jadi dan kesenjangan sosial semakin jauh. Kehidupan rakyat yang berada pada skala menengah ke bawah menjadi semakin terhimpit sebab banyak kebutuhan yang harus dipenuhi namun di sisi lain banyak halangan untuk memenuhinya. Sedangkan para pemodal menjadikan barang-barang kebutuhan tersebut sebagai bisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Pertanyaannya, sampai kapankah rakyat akan hidup sedemikian?

*/Penulis adalah Aktivis Mahasiswi Malang Raya

Editor : Indah Nurul Kamilia

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.