Keislaman Shafiyyah binti Huyay

Hot News

Hotline

Keislaman Shafiyyah binti Huyay

(Foto/https://kisahmuslim.com)



Oleh: Choirin Fitri*

"Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?"

Sebuah jawaban yang mantap dan penuh percaya diri disampaikan oleh Shafiyyah binti Huyay. Kemantapan hatinya memilih Islam disampaikan di hadapan Rasulullah selepas beliau memimpin pasukan menaklukkan Bani Nadhir.




Ya, Shafiyyah adalah salah satu istri Nabi Muhammad yang berasal dari suku Bani Nadhir. Ketika menikah, ia masih berumur 17 tahun.  Ayahnya adalah Kepala Suku Bani Nadhir, salah satu Bani Israel yang bermukim di sekitar Madinah. 

Shafiyyah adalah putri Huyay bin Akhthab, Pemimpin Suku Yahudi Khaibar. Huyay memerangi dan menampakkan permusuhan terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun dia tahu bahwa Rasulullah merupakan nabi akhir zaman, sebagaimana termaktub dalam kitab Taurat.

Pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan benteng pertahanan terakhir suku Yahudi di Khaibar. Huyay bin Akhthab, ayah Shafiyyah mati terbunuh dalam peperangan itu. Sementara, ia tertangkap dan menjadi salah satu tahanan perang.

Rasulullah memberikan pilihan kepada Shafiyah. Apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau dengan maskawin kemerdekaannya.

Keislaman Shafiyyah menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasannya. Ia menjadi mulia dan terhormat dengan posisinya sebagai Ummul Mukminin.  Ia meninggalkan kekufuran yang selama ini melingkupinya. 

Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay harus  menjadi teladan terdepan para wanita di era milenial ini. Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna hendaklah dipilih, diamalkan, serta didakwahkan pada yang lainnya. Jangan sampai kaum hawa terjebak pada kekufuran yang dibalut gemerlapnya dunia. Karena sungguh surga itu jauh lebih nikmat daripada dunia dan seisinya.

*/Penulis adalah Pegiat Literasi Kota Batu

Editor: Rosendah Dwi Maulaya



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.