Ketika Nabi Dinistakan oleh Seorang Budayawan

Hot News

Hotline

Ketika Nabi Dinistakan oleh Seorang Budayawan

(Foto/https://shutterstock.com)

Oleh: Renny Marito

Negeri Indonesia yang kekayaannya melimpah ruah ternyata memiliki beraneka macam masalah. Ramai dibicarakan dan menjadi viral seperti kasus penistaan agama yang terus terjadi baik berupa penghinaan/pelecehan terhadap Allah Swt, Rasulullah Saw, dan Ulama maupun terhadap ajaran Islam yang berupa syariat maupun ibadah.

Budayawan senior, Sukmawati, tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Ia seharusnya tidak menyinggung SARA. Ia jelas membandingkan Baginda Nabi Muhammad Saw, yang segala ucapan dan perbuatannya dibimbing wahyu dan langsung oleh Sang Pencipta Alam Semesta, dengan sosok Ir. Soekarno seorang manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Apakah ini dilakukan karena ketidaktahuan ataukah kesengajaan dikarenakan kebenciannya terhadap Islam?

Tentu saja umat Islam patut marah. Umat Islam layak geram dan murka. Bagaimana tidak. Nabi yang mulia dinistakan, dihinakan, dan dilecehkan dengan pertanyaan budayawan Sukmawati itu.

Ulama besar Buya Hamka yang juga seorang budayawan di masa hidupnya pernah mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dihina. Beliau menyatakan, "Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”.

Ibnu Mundzir menyatakan mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi Saw adalah hukuman mati. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam As-syafi'i (lihat Al-Iyadh, Asy Syifa bin Tarif Huquq al Musthafa, hlm 428).

Allah juga berfirman: "Orang yang menyakiti Rasulullah itu bagi mereka azab yang pedih."(QS: At taubah (9):61

Inilah bukti negara gagal melindungi agama. UU penodaan agama yang sudah dibuat tidak efektif menghentikan semua itu. Belum lagi penegakan hukumnya seringkali tidak memenuhi rasa keadilan. Ada yang mengusulkan bahwa RUU perlindungan agama dan ulama diperluas cakupan UU yang sudah ada, atau ditutup celah kekosongan hukum dalam konteks saat ini.

Lalu ketika Nabi tercinta dinistakan oleh seorang budayawan dan UU tidak mampu membentengi perilaku ini, baiknya kita apakan?


Editor: Rosendah Dwi Maulaya


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.