Kritik Ditutup, Bukti Kebohongan Demokrasi

Hot News

Hotline

Kritik Ditutup, Bukti Kebohongan Demokrasi

(Foto/https://www.dw.com)






Oleh: Kartini

Ketakutan yang berlebihan terhadap Islam, atau disebut Islampobia, serta rezim terhadap ulama dan Islam  di jilid ll ini semakin ganas dan brutal. Bahkan dilabeli dengan melawan radikalisme. Hal ini terlihat dari penempatan Tito Karnavian yang berlatar kepolisian di posisi strategis sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu jenderal ( purn) TNI Fachrur Razi sebagai Menteri Agama. 

Wacana screening dan pembersihan ASN (Aparatur Sipil Negara) serta aparat radikal belakangan ini suaranya semakin menguat, akan kian masif dilakukan di semua level kelembagaan dan kemasyarakatan. Dilansir dari m.detik.com, ASN harus makin hati-hati menggunakan media sosial. Pasalnya, mengunggah kiriman nyinyir yang berbau ujaran kebencian bisa dihukum. Paling berat bisa dipecat.



 
Bukan cuma itu, dalam Surat Edaran Badan Kepegawaian Negara (BKN) kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) tentang Pencegahan Potensi Gangguan Ketertiban dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi PNS yang terbit Mei 2018 lalu, disebutkan bahwa menyebarluaskan pernyataan ujaran kebencian di media sosial bisa membuat ASN di hukum.

"Menyebarluaskan pendapat yang bermuatan hujatan kebencian sebagaimana dimaksud pada huruf a) dan huruf b) baik secara langsung maupun melalui media sosial ( share, broadcast, upload, retweet, regram, dan sejenisnya)," bunyi poin 6 huruf c dalam Surat Edaran yang dikutip Senin (14/10/2019).

Pun menanggapi atau mendukung sebagai tanda setuju pendapat sebagaimana dimaksud pada huruf a) dan huruf b) dengan memberikan like, love, retweet, regram, atau comment di media sosial.

"Yang terberat itu pemberhentian dengan hormat atas tidak permintaan sendiri dan pemberhentian tidak dengan hormat atas tidak permintaan sendiri," papar Muhammad Ridwan, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BKN, kepada detikcom.

Kebebasan berpendapat yang menjadi salah satu pilar demokrasi nyatanya tidak memberikan ruang sedikitpun kepada mereka yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Pemerintah justru membungkam suara mereka dengan tidak segan menjebloskan siapa saja yang berseberangan dengan pemerintah.

Demokrasi yang diagungkan umat saat ini nyatanya menutup celah muhasabah kepada penguasa. Dengan dalih melawan radikalisme, penguasa pun membentengi diri. Rakyat diposisikan sebagai musuh yang mengancam.

Di lain pihak, pemerintah justru menunjukkan keberpihakannya kepada Kapitalis dengan sikap manis mukanya serta jabat tangan yang hangat. Padahal, merekalah yang harusnya diposisikan sebagai musuh yang nyata yang akan dapat menghilangkan eksistensi negara dengan terus mengeruk kekayaan negeri.

Bahkan, pemerintah  melakukan berbagai kerjasama dengan asing dan aseng. Serta membuka pintu lebar-lebar kepada para investor asing yang diharapkan bisa menambah devisa negara. Berharap ada kepengurusan dari sang penguasa dalam sistem demokrasi, nyatanya jauh panggang dari api.

Dalam Islam, nasihat/kritik (muhasabah) kepada penguasa merupakan salah satu kewajiban dari Allah Swt. dan bagian tak terpisahkan dari para penguasa Muslim pada masa lalu. Satu yang dapat diambil sebagai contoh, yakni pidato yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq ra.selepas dilantik sebagai Khalifah.

Sebagaimana yang dituturkan Anas bin Malik, selepas dibaiat dengan baiat umum, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra. berpidato. Diantara petikan pidato nya beliau menuturkan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah dan RasulNya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya maka tidak ada kewajiban taat bagi kalian kepadaku" ( HR. Imam ath Thabari, Tarikh ath Thabari).

Bukan umat saja yang melakukan aktifitas muhasabah ini, para ulama pun mempunyai kewajiban menyampaikan nasihat kepada penguasa, diminta ataupun tidak. Ulama tidak bermanis muka dan menyembunyikan kebenaran di hadapan penguasa, apalagi pada penguasa yang tidak menerapkan aturan Islam secara kaffah.

Kondisi ini memungkinkan umat menyadari kerusakan yang ditimbulkan akibat tidak diterapkan Islam dalam kancah kehidupan. Ditambah, mewabahnya Islamophobia yang menjangkiti kaum muslim saat ini.

Umat Islam mempunyai model pemerintahan yang telah dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin, yaitu Khilafah. Saatnya mengganti sistem yang rusak dan menghapuskan Kapitalisme-Liberal sebagai sumber kerusakan. Wallahu'alam.

Editor: Wannajmi Aisyi



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.