Mencari Keburukan Sesama Mukmin Adalah Dosa Besar

Hot News

Hotline

Mencari Keburukan Sesama Mukmin Adalah Dosa Besar

(Foto; renunganislam.com)


Oleh : Eva Patonah*

Islam adalah agama yang datang dari Pencipta manusia. Ajaran untuk memuliakan manusia. Oleh karena itu Islam melarang pengikutnya dari segala sesuatu yang akan merusak hubungan sesama manusia. Diantaranya adalah tajassus (mencari-cari kesalahan orang). Yang pada saat ini sedang ramai mentajassus masjid.

Masjid adalah tempat yang mulia, karena masjid telah Allah muliakan. Masjid menjadi tempat yang paling sakral bagi umat Islam. Masjid menjadi salah satu tempat hamba ber-taqarrub (mendekatkan diri) pada Rabb-nya. Masjid sekaligus merupakan tempat syiar-syiar Allah Swt. diagungkan. Siapa saja yang meninggikan syiar-syiar Allah, khususnya di masjid berarti ia termasuk orang yang bertakwa.


Dengan demikian, masjid idealnya adalah tempat yang paling menenteramkan jiwa di antara semua tempat di dunia ini. Dari dalam masjid inilah jiwa seorang muslim secara total terkoneksi dengan Allah Swt. Di masjid terutama saat menunaikan salat, seorang hamba pada dasarnya sedang ‘berkomunikasi langsung’ dengan Penciptanya. 

Saat salat di masjid-lah seorang muslim melupakan sejenak urusan duniawi. Karena itu masjid seharusnya dikondisikan senyaman mungkin. Jangan pernah membuat kegaduhan yang bisa mengganggu orang-orang yang sedang beribadah kepada Allah Swt. di dalamnya. Apalagi orang-orang yang memakmurkan masjid pun pastinya adalah mereka yang beriman kepada Allah Swt.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu berita yang paling dusta. Dan janganlah kamu melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi, dan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allâh!”. [HR. Al-Bukhâri, no.6064]

Makna Tajassus dan Tahassus

Tajassus secara bahasa yaitu mencari-cari berita dan menyelidiki sesuatu yang rahasia. Adapun larangan tajassus di dalam ayat  dijelaskan oleh para ulama sebagai berikut :
1.   Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Janganlah sebagian kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya. Hendaklah kamu menerima urusannya yang nampak bagi kamu, dengan yang tampak itu hendaknya kamu memuji atau mencela, bukan dengan rahasia-rahasianya yang tidak kamu ketahui.” [Tafsir ath-Thabari, 22/304]
2.   Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Para ahli tafsir mengatakan, ‘tajassus adalah mencari-cari keburukan dan cacat kaum muslimin. Maka makna ayat di atas adalah janganlah salah seorang diantara kamu mencari-cari keburukan saudaranya untuk diketahuinya, padahal Allâh Azza wa Jalla menutupinya”. [Al-Kabair, hlm. 159]
3.   Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam janganlah kamu melakukan tajassus, janganlah kamu melakukan tahassus’, ada yang mengatakan bahwa kedua kata itu memiliki makna yang sama, yaitu: mencari tahu berita-berita. Ada yang mengatakan keduanya berbeda, tahassus yaitu engkau berusaha mendengarnya sendiri, sedangkan tajassus yaitu engkau menyelidiki berita-berita lewat orang lain. Ada yang mengatakan: tahassus adalah berusaha mendengar pembicaraan orang-orang, sedangkan tajassus adalah mencari-cari keburukan-keburukan. Dari sini dan lainnya diketahui, bahwa seseorang tidak boleh mencuri dengar dari rumah orang lain, dan tidak boleh mencium atau menyentuh pakaian orang lain agar dia mendengar atau mendapatkan bau atau mendapati kemungkaran. Dan tidak boleh mencari berita dari anak kecil suatu rumah, atau dari tetangganya untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tetangganya. Memang benar, jika ada seseorang yang jujur memberitakan berkumpulnya orang-orang yang sedang melakukan maksiat, boleh menerobos mereka dengan tanpa ijin, ini dikatakan oleh al-Ghazali”. [Az-Zawajir ‘an Iqtirâfil Kabâir, 2/268].

Tajassus Termasuk Kabair (Dosa Besar)

Para Ulama memasukkan perbuatan tajassus ke dalam deretan dosa besar, sebagaimana imam adz-Dzahabi dalam kitab al-Kabâir dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawâjir. Demikian pula terdapat ancaman keras dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Antara lain:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ
Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barangsiapa berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang lain, sedangkan mereka tidak suka (didengarkan) atau mereka menjauh darinya, maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” [HR. Al-Bukhâri, no. 7042]

Kerusakan Tajassus

Allâh Azza wa Jalla Maha Bijaksana setiap larangan pasti membawa kerusakan. Demikian pula larangan tajassus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan akibat buruk tajassus kepada masyarakat sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits berikut:

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ، أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ» فَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: «كَلِمَةٌ سَمِعَهَا مُعَاوِيَةُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ نَفَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا

Dari Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu, dia berkata “Aku pernah mendengar Rasûlullâh bersabda, “Jika engkau mencar-cari keburukan-keburukan orang engkau telah merusakan mereka atau engkau hampir merusak mereka.” [HR. Abu Dawud, no. 4888; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani]

Yang harus menjadi perhatian bersama, termasuk yang dilarang yaitu melakukan tajassus kepada suami atau istri atau tetangga, atau lainnya yang tidak tampak keburukan pada mereka. Tajassus yang boleh adalah ketika terjadi perang antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir. Maka boleh mengirim mata-mata untuk mengetahui berita tentang jumlah dan peralatan tentara kafir di mana mereka berada dan semacamnya.

Demikian juga dibolehkan tajassus jika dilaporkan kepada aparat pemerintah dengan banyak saksi bahwa di rumah seseorang ada khamr dan pemilik rumah memang sudah diketahui umum keterkaitannya dengan khamr. Namun jika pemilik rumah tidak dikenal dengan keburukan maka tidak boleh dilakukan tajassus terhadapnya. Aparat boleh membongkar para pelaku maksiat karena memang kaidah kekuasaan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar.” Diringkas dari al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 10/162.

Dengan penjelasan ini kita mengetahui bahwa tajassus itu HARAM. Semoga kita bisa menjauhinya. Waallahu’alam.


*/Penulis adalah Aktivis Dakwah

Editor: Rosendah Dwi Maulaya


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.