Mengembalikan Kejayaan Umat Islam

Hot News

Hotline

Mengembalikan Kejayaan Umat Islam



 (Foto/https://muslim.or.id)


Oleh: Kartini


Penindasan sadis yang dilakukan pemerintah Cina terhadap etnis Muslim Uyghur di Xinjiang kembali terjadi. Kabar tersebut terungkap setelah salah satu media membocorkan bentuk kekejaman pemerintah Xinjiang, Cina.

Pemerintah Cina membantah terkait kebiadaban yang dilakukan tersebut. Namun, nyatanya banyak beredar video di dunia maya yang mempertontonkan kekejaman Cina di Xinjiang terhadap etnis Muslim Uyghur.

Sontak saja, hal itu mengundang keprihatinan banyak pihak.  Dan yang paling menarik, salah satu pesepakbola Internasional, Mesut Ozil menulis postingan yang menggugah terkait Uyghur. Dalam unggahan di akun Instagram @m10_official, Jumat sore waktu Indonesia Barat, ia mempertanyakan diamnya umat dan Negara-Negara Muslim terkait penganiayaan yang terjadi di Turkistan Timur tersebut.

Menanggapi apa yang diunggah Mesut Ozil, benar kiranya apa yang dipertanyakan oleh Ozil. Di mana para  pemimpin kaum Muslim ketika saudara seiman seagamanya teraniaya?

Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia nyatanya hanya bisa diam seribu bahasa dalam menyikapi kekejaman Cina. Tidak hanya doa, kecaman pun tidak keluar dari lisan pemimpin kita.




Yang lebih memilukan, adalah tanggapan yang dikeluarkan oleh salah seorang ulama terkenal, beliau menyatakan " Jangan gegabah dalam menyikapi kondisi kaum Muslim Uyghur. Kita doakan saja yang terbaik buat mereka ." Sikap yang demikian dinilai terlalu lembek.

Padahal, sangat jelas tertulis dalam teks pembukaan UUD 1945, bahwa "Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Hal ini perlu dipertanyakan.

Kabar kekerasan dan kekejaman terhadap kaum Muslimin tidak hanya terjadi sekali saja, bahkan untuk kesekian kalinya kita disuguhi kabar yang amat memilukan dari saudara- saudara kita di luar sana. Belum ada satu solusi pun yang bisa menghentikan kebiadaban pemimpin diktator.
Organisasi sekelas PBB hanya bisa berdiskusi tanpa memberikan solusi. Mengharapkan seluruh negeri Muslim merdeka dari segala bentuk penjajahan dalam sistem demokrasi ternyata cukup musykil.

Islam adalah mayoritas namun lihatlah! Islam menjadi minoritas di tengah-tengah ketidakberdayaan, di bawah adidaya dan adikuasa. Sesama Muslim hanya melihat apa yang diperlakukan oleh dikatator bagi sesame saudara Muslim di belahan bumi lainnya itu.

Ada sebuah sabda Rasulullah saw, "Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang- orang akan berperang di belakang dia (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-Nya." ( HR al- Bukhari, Muslim, an- Nasa'i, Bu Dawud dan Ahmad ).

Palestina, Syuriah, Gaza, Rohingya, Kashmir, Uyghur, dan negeri-negeri Muslim lainnya tidak akan mudah terbebas ataupun dibebaskan. Penindasan yang berujung pelanggaran HAM tidak dapat dielakkan oleh umat Islam. Akan selalu kita dengar berita penindasan terhadap umat Islam, berbeda daerah dan waktu. 

Mengembalika kejayaan umat Islam, akankah angan belaka? Dan sesuai dengan hadits Rasulullah Saw di atas, bahwa Khalifah yakni pemimpin yang mengikuti jejak beliau dan para sahabat adalah jalan mengembalikan kejayaan Islam. Namun, di satu sisi argumen ini sangat ditentang oleh Pemerintah Indonesia. Wallahu'alam.


Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.