Perempuan dalam Kacamata Islam

Hot News

Hotline

Perempuan dalam Kacamata Islam


 Oleh; Dede Nurmala 

Pengakuan seorang wanita korban dari modus perdagangan manusia terungkap kepada sang pengacara agar diusut kasusnya, seperti yang dilansir detikNews.com.

Bobi menyebut korban dijanjikan akan menikah dengan orang kaya asal Cina dengan iming-iming dijamin seluruh kebutuhan hidup korban beserta keluarganya. Namun, sesampai di Cina, korban malah dipekerjakan dengan durasi waktu yang lama. 




Sungguh sangatlah miris dengan kondisi yang terjadi. Alih-alih ingin mendapatkan kebahagiaan tapi justru mendapat siksaan. Bagaimana tidak, dinikahkan lalu dengan sengaja dipaksa bekerja tanpa gaji tentu membuat siapa saja yang mendengar pasti terluka hatinya.

Keadilan nyatanya tak nampak dari Pemerintah Cina yang membiarkan warga negaranya bersikap bejat. Kini korban hanya mengharapkan keadilan dan perlindungan dari Pemerintah Indonesia.

Iming-iming duniawi yang belum jelas adanya, membuat korban terhipnotis dan tanpa pikir panjang menyetujui perjanjian-perjanjian yang berisikan dusta. Terpana akan kemilau harta membuat matanya buta. Buta terhadap risiko yang akan diterimanya.

Rela meninggalkan keluarga untuk mengejar hal yang tak pasti. Hidup di negeri orang tanpa arah dan tujuan yang akhirnya mengantarkan pada penderitaan.

Penderitaan yang dialami para wanita di Indonesia memang sudah lazim didengar, terkhusus yang mengabdi di negeri orang untuk mencari uang. Tak jarang mereka yang bekerja di luar negeri bukan karena keinginan, tapi karena kebutuhan hidup.

Sulitnya mencari pekerjaan di negeri sendiri membuat banyak wanita memutuskan bekerja di luar negeri. Sebagian besar dari mereka rela meninggalkan suami dan anak-anaknya demi penghidupan yang layak.
Namun, saat ini banyak wanita yang bekerja di luar tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan, terlebih banyak diantara mereka yang terbius virus hedonisme. Mencari pekerjaan untuk kepentingan dan kesenangan duniawi tanpa memperhatikan rambu-rambu Islam dalam mengatur pekerjaan seorang wanita.

Gaya hidup yang liberal memaksa mereka perlahan menjauhi hukum-hukum Islam dan mengadopsi hukum-hukum Barat, termasuk liberalisme yang mengakar di tengah-tengah umat Islam saat ini tengah menjamur di kalangan perempuan.

Padahal dalam Islam perempuan mempunyai nilai tinggi dan mulia. Prestasi terbesarnya bukan mencari uang yang banyak kemudian melalaikan kewajiban dan fitrahnya sebagai ibu rumahtangga dan pendidik pertama bagi anak-anak! Bagaimana bisa melahirkan anak yang beraqidah kuat jika ibunya saja jauh dari pendampingan nilai-nilai Islam setiap harinya.

Sejatinya penghargaan tertinggi bagi seorang perempuan adalah ketika ia dapat menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah dan sebagai seorang ibu dalam ranah keluarga yang mampu melahirkan dan mencetak anak-anak yang kokoh keimanannya.

Islam sangatlah menjaga izzah perempuan. Tak sembarang perempuan bisa keluar rumah tanpa didampingi mahram. Islam pun mengatur bagaimana seorang ibu mendidik anak-anak dan menjaga aqidahnya.

Kemuliaan seorang perempuan bisa dilihat saat aturan Islam diterapkan dalam kehidupan. Islam menjaga seorang wanita dengan tidak memberikan beban mencari nafkah kepadanya, dan mewajibkannya kepada para suami.

Allah Swt. berfirman:
"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Maka beban mencari nafkah adalah bagian dari kewajiban suami dan tugas negara-lah yang memberikan lapangan pekerjaan untuk para laki-laki. 

Karenanya Rosulullah Shalallahu 'alaihi wasallam pernah menegaskan yang artinya "Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah laksana pengembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap urusan rakyatnya." (HR Al Bukhari).

Saat Islam diterapkan dalam kehidupan, termasuk dalam bernegara maka hak-hak perempuan akan terjaga. Dan hanya mengembalikan kehidupan Islam-lah semua masalah akan terselesaikan dengan baik sesuai Alquran dan Hadist. Wallahu 'alam biishowab.

Editor : Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.