Si Rapi Main Palak

Hot News

Hotline

Si Rapi Main Palak





Oleh: A. Qurratu Aini*

Makin ada-ada saja kebijakan yang terus tersaji, seakan hanya sisakan kesal di sudut hati. Lihat saja disetiap hari. Sembako, kebutuhan rumah tangga, bahan bakar, dan bahkan kesehatan pun pun pun... kian dipatok dengan tulisan indah dan tinta permanen si harga. Yaa.. harga menandakan duit yang harus dikorek dari kantong, untuk mendapatkan fasilitas hidup tersebut. No free lunch lah istilahnya.. Maklum hidup makin keras.

Tapi akankah terus demikian, ataukah memang wajar tiap saat harga naik? Yak! Lagi, lagi dan lagi dipelukan kemakluman atas fenomena ini. Kita hidup dimana, dipimpin siapa, diatur siapa, aturan apa, jawabannya kita tau. Maka tidak ada daya selain maklum. 




Tercekiknya kita hari ini karena kita punya pemenuhan atas hajat pada diri. Lalu, pemenuhan yang harus tersebut dibarengi dengan penghalang-penghalang yang ada, tuh pajak contohnya. 

Seharusnya kasar tetapi dipermak halus dibuat seakan kewajaran, hingga kita buta. Wajar karena hidup makin susah? Yang buat susah siapa sebenarnya? Tuhan Ilahi Rabbi-kah yang buat begini? Tiada tercipta kerusakan selain dari tangan manusianya sendiri. Manusia itu kita? Jadi kita yang salah. Kok bisa sedangkan kita yang terus-terusan menerima ketidakadilan. 

Coba saja lihat saat ini. Ketidakadilan itu tercipta ketika ada satu sisi yang berkecukupan dan ada pihak yang berkekurangan. Di satu sisi cukup akan adem, semakin mendewai aturan yang membuat mereka cukup. Pun semakin dipertahankan sehingga menjadi tameng terdepan dan memutarbalikkan ketetapan agar semua bisa terlihat tenang di permukaan.

Semua wajar tapi mencekik, si rapi dan si lebih lainnya membuat skenario di atas skenario. Betapa bodoh, tiada skenario yang lebih besar dan menjungkirbalikkan selain skenario Allah Ilahi Rabbi. Yang akan membuka topeng visi misi busuk ingin mensejahterakan, tetapi kehendaknya justru membius, mencekik bahkan mematikan.

Selagi tidak ada dasar keimanan dan rasa takut yang sungguh kepada  Ilahi Rabbi, maka kemungkinan membawa kepada kesejahteraan ekonomi itu mustahil. Karena nafsu masih menguasai sebab bukan cuma kita yang mau hidup, si rapi juga ingin bertahan. 

Maka itulah cara mereka, membodohi dengan iming kebaikan bersama. Yang menjadi pengusa saat ini manusia, yang hanya hidup di atas keterbatasannya sebagai makhluk. 

Yang  dekat kepada Allah seperti khalifah-khalifah terdahulu saja, masih terdapat kekurangan dalam kepemimpinannya. Bagaimana dengan sekarang yang aturannya bukan dari Allah, diperbudak negara adidaya, ditambah kebodohan dan ketamakan palak-memalak akibat tak ada dasar ketaqwaan dalam diri individu pimpinan. Maka itulah yang terjadi, skenario “tak bayar pajak apa kata dunia” pun menjadi jurus.

Padahal di kehidupan, di mana peradaban Islam pernah berjaya, semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan umat itu ditanggung negara. Sekarang kesehatan pun dibayar rakyat, padahal itu tanggungan wajib negara. Apa-apa ribet, bayar ini bayar itu.

Bayangin dosa yang harus dipikulnya menn.. maka bodohlah kita jika tak ingin mengembalikan kehidupan dan peradaban serba nyaman itu. Bodoh kelas kakap pula yang sibuk menghalangi kembalinya peradaban itu.

Mau ngapain berlama-lama di sistem yang tidak ada bagusnya itu. Dengan aturan Islam semua adem ayem tanpa adanya beban berat, karena tangan pemimpinnya itu insya Allah adalah tangan Allah sendiri. Doa langsung diijabah dong istilahnya.

*/Penulis adalah Pelajar 16 tahun, twtr @andi.aini


Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.